
Kedua mobil masih melaju menyusuri jalanan yang lumayan lengang untuk ukuran kota besar.
Mobil Bimo yang masih melaju di depan masih di Ikuti oleh pak Joko.
Sepanjang perjalanan mereka berbincang ringan tentang situasi yang tengah terjadi.
Mobil sudah memasuki area perkampungan di pinggiran kota.
Jalanan yang mereka lalui pun sudah tak semulus tadi.
"Hati hati..Bim, kayaknya banyak lubangnya ni..jalan," kata papa Haryo.
"Iya pah...memangnya kenapa sih jalan kok di biarkan mangkrak kakak gini, memangnya para pejabat enggak pernah lewat sini," sungut Bimo sambil menyetir mencari celah jalanan yang bisa di lalui dengan nyaman.
Papa Haryo hanya tersenyum mendengar keluhan dari anakknya.
"Ya..pejabat itu datang ke sini kalau mau musim kampanye, mencari dukungan .....makanya di sini ibarat tabungan untuk besok musim kampanye, coba saja besok mau musim kampanye jalanan ini pasti di perbaiki meski kwalitas materialnya gampang ancur kembali," kata papa Haryo panjang lebar.
"Bukan hanya itu pah.. masalah nya," kata mama.
"Soalnya jalanan ini juga merupakan perbatasan dari tiga wilayah jadi semua saling lempar siapa yang berhak membangun dan mengajukan proyek ke pusat," kata mama kembali.
Setelah berjibaku dengan lubang lubang jalanan mereka sudah memasuki sebuah bangunan yang lumayan besar namun kondisinya sedikit memprihatinkan.
"Alhamdulillah... kita sudah sampai," kata papa Haryo.
"Kok tampak sepi pah..?," tanya Bimo sedikit keheranan.
"Kita langsung saja ke belakang, memutari bangunan besar itu, ambil sebelah kanan," kata Papa Haryo.
Bimo langsung melaksanakan apa yang papa Haryo perintah kan.
Mobil memutari bangunan besar namun nampak kusam itu, barulah nampak sebuah bangunan yang terlihat lebih bagus dari bangunan depan.
Bangunan itu di fungsikan sebagai aula pertemuan serta tempat tinggal bagi para anak asuh panti.
Di bangunan yang lumayan bagus itu juga tinggal para pengurus Panti dari pondok pesantren itu.
Kedua Mobil sudah berhenti, para pengurus pondok pesantren pimpinan ustadz Anwar sudah berjejer rapi begitu mendengar suara mobil memasuki area tersebut.
Ustadz Anwar berdiri maju ke depan menyambut rombongan tuan Haryo yang merupakan donatur tetap dan merupakan pemberi bantuan terbesar di pondok pesantren yang juga panti asuhan itu.
Anak anak sudah berjajar rapi berbaris dengan tertib.
Anak laki laki berdiri di sebelah kanan bersama pengurus pondok laki-laki, sedang anak perempuan berdiri di sebelah kiri bersama pengurus pondok perempuan.
"Assalamualaikum," sapa papa Haryo begitu turun dari mobilnya.
"Waalaikumssalam," jawab ustadz Anwar bersama pengurus sepuh lainnya.
__ADS_1
"Mari tuan Haryo kami persilahkan," kata ustadz Anwar setelah saling bersalaman dan cipika cipiki antar lelaki itu.
Bimo hanya mengikuti apa yang papanya lakukan.
"Waah...ini mas Bimo ya...?," kata ustadz Anwar begitu berjabat tangan dan cipika cipiki.
"Iyaa ustadz..," kata Bimo dengan sopan.
"Waah...calon temanten rupanya, ikut juga," seloroh ustadz itu.
Bimo tersenyum kecut," rupanya berita pernikahan nya sudah sampai di pondok ini, atau mungkin karena ada hajatan pihak pondok menanyakan tema yang mau di bawakan nanti saat tauziah," begitu batin Bimo.
"Kok Ustadz tahu...?," tanya Bimo sambil berjalan masuk ke aula yang sudah di persiapkan.
"Kan saat pinangan juga rezekinya mengalir sampai sini," kata ustadz Anwar (maksudnya makanan)
"Ooh..," Bimo hanya tersenyum.
ingatannya kembali ke beberapa tahu silam saat masih kanak-kanak.
Dahulu memang dirinya sering di ajak ke pesantren itu, bahkan dahulu dia punya teman akrab di sana, kalau enggak salah namanya Rojali dan yang perempuan Rohayah.
Sepanjang perjalanan mereka di salami oleh anak laki laki yang sudah berjajar rapi di sisi kanan.
"Assalamualaikum...Bimo..," sapa seseorang di barisan paling ujung.
Bimo sedikit kaget, di telisik nya dengan seksama.
Begitu orang itu menyebut namanya, Bimo langsung memeluk nya.
"Woii...maaf aku lupa wajahmu," kata Bimo tertawa.
Rojali nampak sangat bahagia masih di kenali bahkan kini di peluk oleh anak sultan terkaya di negeri ini.
"Aku kira kamu sudah lupa pada orang macam kami," kata Rojali yang jadi berkaca kaca.
Bimo menepuk pundak sahabat masa kecilnya.
"Enggak lah..aku hanya lupa wajahmu, tapi tak melupakan kebaikan hatimu," kata Bimo masih menepuk pundak sahabat masa kecilnya itu.
"Eeh...si Rohayah mana..?," tanya Bimo yang teringat teman wanitanya, karena mereka semasa itu suka bermain bertiga.
"Itu...," tunjuk Rojali kepada wanita berhijab yang masih menggendong seorang bayi dan menggandeng anak balita.
"Lho anakanya malah sudah dua..?."
"Iya Rohayah jadi bini aku," kata Rojali pelan.
"Whaat..??, syukurlah.. Alhamdulillah,..berarti anakmu sudah dua dong,..waah kalah aku," kata Bimo cengengesan.
__ADS_1
Orang orang yang tak tahu persahabatan kedua orang itu sampai keheranan ,"kok bisa ya si Rojali pengurus pondok yatim ngobrol santai sama tuan muda..?."
Mama Halimah serta Meytta juga Bu Siti dan pegawai rumah tuan Haryo yang perempuan juga bersalaman dengan perempuan yang berdiri di sebelah kiri.
anak-anak mencium tangan orang-orang dewasa, Meytta nampak terharu melihat semua itu.
Dalam hatinya rasa syukur kepada Allah SWT tak henti hentinya di ucapakan.
Kadang kalau kita selalu melihat ke atas akan selalu merasa kurang, namun bila kita melihat ke bawah dan mau mensyukuri nikmat Allah maka akan merasakan betapa melimpah nya kenikmatan yang sudah kita dapatkan.
Semua orang sudah bersalaman dan memasuki aula yang sudah di siapkan.
Tak lama setelah rombongan masuk, mobil boks yang membawa aneka makanan juga sudah sampai.
Pak Joko berserta pegawai rumah tuan Haryo yang laki laki dengan di bantu pengurus pondok dan petugas dari pihak katering bersama sama menurunkan aneka makanan itu dan menatanya di tempat yang sudah di siapkan.
Suasana menjadi ceria, wajah anak anak itu nampak gembira melihat banyaknya makanan dan oleh oleh yang di bawa keluarga tuan Haryo.
Sambil membagikan makanan oleh petugas yang sudah di tunjuk dari orang pondok acara tauziah di mulai.
Diawali pra kata dari ustadz Anwar dan sambutan papa Haryo.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatu," kata Ustadz Anwar.
Yang di jawab oleh para hadirin yang ada di sana.
"Alhamdulillah..malam ini kita diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk bertemu dengan keluarga yang selalu mengingat kebaikan dan selalu membantu kegiatan kita bahkan membuat kan kita tempat yang seindah ini," kata Ustadz Anwar sambil menunjuk gedung yang di gunakan untuk berkumpul, mengawali sambutannya.
Kemudian ustadz Anwar memberikan kata kata sambutan itu secara runtut.
"Terima kasih sebesar-besarnya kepada tuan Haryo dan keluarga, semoga Allah SWT akan mengganti semuanya baik sekarang di dunia maupun nanti di akhirat kelak," kata ustadz Anwar mengakhiri sambutannya.
"Amiiin."
Semua mengamini doa yang di panjat kan ustadz Anwar tersebut dengan tulus.
Meytta yang melihat kebaikan dari keluarga calon suaminya menjadi sangat bersyukur dan merasa beruntung sekali menjadi bagian dari keluarga yang sangat dermawan itu.
Bagaimana bila dahulu dia terjebak dengan rencana perjodohan tuan Hartono yang memintanya menikah dengan Johan.
Hati Meytta ngeri dan ketakuatan bila mengingat hal itu.
__________
**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejak nya...
Bila berkenan baca juga karya lainku
*Sang Pengacau, menceritakan seorang pendekar pembela kebenaran bagaimana memberantas kejahatan yang sudah di anggap kewajaran.
__ADS_1
*Aku Lebih Mencintaimu, menceritakan perjuangan cinta seorang Bara dan liku liku kehidupan nya**.