Jagoanku Ternyata CEO

Jagoanku Ternyata CEO
196. Acara di rumah mama Qonita.


__ADS_3

Bimo kembali berkunjung ke rumah mertuanya untuk pertama kalinya setelah insiden penembakan itu.


Masih ada trauma atas kejadian tersebut, membuat papa Adrian yang yang biasanya mengajak anak menantunya keluar menjadi takut dan hanya di rumah saja.


Padahal biasanya pasti selalu di ajak berkeliling kampung, siapa sih yang tak bangga mempunyai menantu Sultan yang sangat kaya raya namun berhati rakyat.


"Kita sholat di mana pah..?," tanya Bimo kepada papa Adrian setelah sholat dhuhur dan ashar di rumah saja.


"Di rumah saja mas..papa jadi trauma bila ingat peristiwa itu," sahut papa Adrian dengan jujur.


Bimo tertawa saja, " Tak apa pa..kita sholat di masjid..tak semua orang juga berhati jahat seperti Hartono."


"Nanti toh pengawal tetap mendampingi kita..," sahut Bimo kepada papa Adrian.


Mama qonita yang mendengar rencana itu ikut nimbrung.


"Eh..pah..?, bukankah besok minggu pertama biasa papa pengajian bulanan di masjid..?," tanya mama Qonita.


"Iya..ma," sahut papa Adrian yang masih bingung dengan arah pembicaraan istrinya.


"Bagaimana jika kita tarik saja ke rumah..tidak ke masjid sekalian syukuran mas Bimo sudah sehat agar keluarga kita makin di limpahkan dengan barokah pah..," usul mama kepada papa Adrian.


"Maksud mama pengajian rutin nya kita tarik ke rumah..?."


"Iya pah.."


"Selain syukuran kita juga berbagi dengan tetangga kita pah..," kata mama Qonita.


"Waah boleh itu mah..coba nanti papa akan bertanya sama pengurusnya sudah ada yang narik belum..," kata papa Adrian terlihat antusias banget.


"Memang mau masak apa mah besok..?," tanya papa Adrian.


"Bagaimana kalau kita belikan kambing terus kita sembelih lalu kita masak olahan kambing dari gulai sampai sate kambing..?."


"Boleh mah...besok biar pak kebun bersama pak Mudin mencari kambing di pasar kampung dalam," sahut papa Adrian lagi.


Bimo dan Meytta hanya terdiam saja mendengar rencana papa dan mama untuk besok.


**


Maghrib sore itu Bimo dan papa Adrian sholat ke masjid dengan tetap di dampingi para pengawal Bimo.


"Eh..Mas Bimo....," sapa pak Beno salah satu warga yang menjadi saksi saat ijab qobul bersama pak RT.


"Iya..pak.."


"Syukurlah..sudah sehat mas..?."


"Sudah..pak.. Alhamdulillah..," sahut Bimo.

__ADS_1


Bapak bapak juga menyalami Bimo dan bertegur sapa sebelum sholat di mulai.


"Oh iya..pak..besok pengajian bulanan sudah ada yang narik belum ya..?," tanya papa Adrian kepada pak Beno yang juga salah satu pengurus masjid.


"Kayaknya belum pak.."


"Beneran belum..?," tanya papa Adrian memastikan.


"Belum pak..," kata pak Beno kembali memastikan.


"Kalau belum mau saya tarik pak.. pengajian..sekalian syukuran menantu saya sudah sehat..," sahut papa Adrian.


"Kalau begitu nanti saya umumkan sesudah sholat maghrib sekalian pak..," kata pak Beno yang di angguki pak RT.


Sholat Maghrib sudah usai sebelum jamaah pulang pak Beno sebagai salah satu pengurus masjid mengumumkan," bahwa untuk pengajian bulanan bapak bapak besok di adakan di rumah pak adrian," begitu kata pak Beno.


**


Pagi Hari Pak Kang kebun sudah mengajak pak Mudin ke pasar kampung dalam yang juga ada pasar hewannya.


Mereka membeli dua ekor kambing yang besar kemudian di tuntun hingga sampai rumah.


Papa Adrian sangat puas melihat kambing yang di beli sangat besar dan gagah.


Oleh pak Mudin di bantu pak kang kebun dan beberapa orang dari panitia masjid mereka menyembelih hewan hewan tersebut.


Sedikit siang sebelum dhuhur semua kegiatan malah sudah selesai, dari menyembelih hingga menguliti dan tinggal memasaknya.


Selesai sholat dhuhur salah satu masakan yaitu gulai kambing malah sudah matang dan semua menikmati masakan itu di taman samping rumah sebelum bapak bapak tadi pulang ke rumah masing masing.


Mama Qonita yang meminta bantuan tetangga untuk bantu bantu memasak sudah berkecimpung di dapur.


Ada empat orang yang biasa menjadi koki di kampung bila ada hajatan, dari mulai menanak nasi hingga membuat aneka olahan makanan.


"Sudah non Meytta duduk saja di sana biar kami yang bekerja di sini," kata salah satu ibu ibu itu.


"Tapi Meytta pingin membantu bude..," kata Meytta yang sudah akrab dengan ibu ibu tersebut.


"Kalau begitu non Meytta bisa menggunting daun pisang ini di bentuk seperti ini," kata ibu itu mencontohkan.


"Atau membuat tisu di lipat kayak gini non," kata ibu yang lain.


"Ok bude ..siap nanti Meytta kerjakan ," sahut Meytta sambil duduk di tikar yang sudah di gelar di dapur yang luas di rumah itu.


Sengaja mama Qonita tidak pesan masakan maupun kue kue karena ingin membuat bersama ibu ibu kampung tersebut.


Jadi untuk makanan kecilnya ada dadar gulung, risoles isi daging ayam juga kacang goreng semua di buat hari itu juga.


Selain empat orang ibu ibu yang menjadi tenaga pokok ada juga ibu ibu teman pengajian mama Qonita yang ikut bantu bantu, karena meskipun mereka hidup di kota rupanya gotong royong masih berlaku di sana.

__ADS_1


Untuk menjamu bapak bapak pengajian bulanan yang berjumlah seratusan orang lebih sedikit ternyata juga lumayan seru, untungnya para tetangga sudah biasa saling membantu, maka begitu papa Adrian semalam memberi tahu mama jadi narik pengajian di rumah mama langsung mengabari grup ibu ibu dan paginya langsung berdatangan selain empat ibu ibu yang menjadi tenaga pokok tersebut.


**


Malam sehabis Maghrib ruang tamu sudah di tata, kursi kursi sudah di keluarkan.


Semua itu di lakukan oleh pak satpam, pak kang kebun di bantu dua pengawal Bimo.


Kemudian tikar dari RT yang sejak sore diantar pak Beno sudah di gelar.


Sesudah sholat Isyak barulah para tamu pengajian bapak bapak berdatangan.


Papa Adrian dan Bimo sudah menyambut tamu pengajian di depan rumah.


"Mari pak silahkan masuk..," kata papa Adrian begitu ada yang datang sambil menyalaminya.


Bimo yang juga ikut menyambut tamu hanya tersenyum kemudian bersalaman.


"Mari pak silahkan.."


Setelah tamu sudah di rasa lengkap mulailah pengajian di mulai.


Acara di mulai oleh sambutan pengurus pengajian rutin tersebut, kemudian sambutan tuan rumah baru ke intinya yaitu pengajian yang di isi Oleh salah satu ustad di kampung tersebut.


Isi pengajian di sesuaikan dengan niatan dari tuan rumah yaitu bertemakan rasa syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang di berikan.


Sebelum acara di lanjutkan ke laporan laporan yang lain setelah tausiah selesai, semua di persilahkan menikamti hidangan yang disajikan dengan prasmanan tersebut.


Semua nampak menikmati suasana pengajian di rumah papa Adrian.


"Waah meriah sekali ya mah..," kata Meytta yang berada di ruang tengah bersama ibu ibu yang lain yang selain membantu menghidangkan makanan juga ikut mendengarkan tausiah dari ustad kampung tersebut.


"Besok kalau usia kandungan mu menginjak tujuh bulan mama juga mau selamatan," kata mama Qonita.


"Berarti dua bulan lagi mah..," kata Meytta.


Mama qonita mengangguk.


"Biar di mudahkan, di lancarkan dan di beri barokah," kata mama Qonita lagi.


Gantian Meytta yang mengangguk.


____________


**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...


Baca juga karya lainku...


* Sang Pengacau

__ADS_1


* Aku Lebih Mencintaimu**


__ADS_2