Jagoanku Ternyata CEO

Jagoanku Ternyata CEO
55. Masalah Dojo


__ADS_3

Hari Minggu di Dojo.


Seperti biasa setiap Minggu pagi rutinitasnya Bimo adalah ke tempat berlatih bela diri.


Disana Bimo seakan menemukan identitas dirinya, dia bisa mengekspresikan segala kekesalannya dengan memukul, menendang maupun membanting sansak.


"Pagi bang Fachri .."


"Pagi bang Anton..,"


Sapa Bimo kepada kedua orang pendiri Dojo itu.


"Pagi Bimo, tumben agak telat," kata bang Fachri.


"Iya nih bang ..mampir warung bubur ayam, tuh aku taruh di meja depan, sarapan dulu aja mumpung masih hangat," kata Bimo mempersilahkan semua teman temannya di Dojo tersebut.


Kebetulan di Dojo itu di bagi jam jam pembelajarannya.


Khusus pagi hari antara pukul 06.00 - 09.00 khusus kelas petarung, jadi di jam itu hanya kelas petarung yang berlatih.


Kemudian pukul 09.00 - 12.00 khusus pemula dan siangnya dan seterusnya kelas kelas sesuai tingkatannya.


Semua petarung tanpa malu malu menyerbu makanan yang di bawa Bimo, hal itu bukan yang pertama kali bahkan hampir tiap Minggu mereka selalu di traktir Bimo, kadang bubur ayam, soto Lamongan bahkan tak jarang sate Ponorogo yang sudah buka mulai pagi juga sering di borong Bimo untuk teman-teman Dojo nya.

__ADS_1


''Makasih Bimo ," kata Asep yang seusia dengan Bimo.


"Santai aja kali," kata Bimo sambil tersenyum.


"Bim..hampir tiap minggu kamu ngeborong makanan untuk kita kita apa enggak bangkrut kamu nanti," tanya bang Anton.


"Enggak lah bang, masak aku makan enak saudaraku enggak ikut makan itu namanya keterlaluan," kata Bimo kembali.


Itulah yang membuat semua teman Bimo sangat respect, enggak yang muda enggak yang tua, ibarat kata Bimo meminta seluruh anggota Dojo berperang pun mereka pasti siap.


Bagi mereka Bimo bukan hanya teman biasa, karena hampir tiap ada masalah keuangan pasti Bimo yang menyelesaikan.


Seperti pagi itu sehabis makan sarapan bubur ayam mereka semua berkumpul sebelum mulai berlatih.


"Teman-teman ini ada sedikit informasi dari saya, kemarin kami;aku dan Fachri di datangi pemilik tempat ini, katanya mulai bulan depan tempat ini sudah tidak bisa di kontrak lagi, karena mau di kontrakan untuk usaha pertokoan," kata Anton mewakili Fachri berbicara.


"Belum tahu juga, soalnya tempat lainnya biaya kontraknya mahal, kita enggak mungkin kuat menyewa nya," kata Fachri.


Bimo hanya mendengar kan semua yang di bahas pagi itu.


Semua nampak sedih, bagi mereka tempat itu bukan hanya tempat latihan, bahkan sebagian dari mereka tidur disana karena banyak juga anak jalanan yang ikut berlatih bela diri termasuk Asep.


Asep semula adalah preman pasar yang sudah insyaf kemudian di tampung oleh Fachri di Dojo itu.

__ADS_1


Bukan hanya Asep saja, Maman juga seorang pengamen dan anak jalanan yang ikut berlatih di sana.


Jadi singkat kata Dojo itu adalah tempat berlatih juga basecamp sekaligus markas bagi geng itu.


Mereka nampak sedih karena dalam minggu-minggu ini harus pergi dari sana, dan tak tahu apakah dapat tempat yang bisa disewa, sebagus dan senyaman tempat itu.


"Memangnya kapan sih bang habisnya kontrakan di sini ?'' tanya Bimo.


"Empat minggu lagi, tepatnya akhir bulan ini," kata Fachri sedikit lemas.


"Emangnya yang punya tempat ini siapa sih bang," tanya Bimo lagi.


Dengan lemah fachri menjawab," Abah kumis yang punya warung Wedangan Omah Kopi di depan kantor kelurahan X."


"Ooh...yang pakai tenda warna warni itu..?," kata Bimo lagi.


Kali ini Fachri dan Anton mengangguk berbarengan.


Suasana latihan kali ini tak seperti biasanya, ada sedikit kesedihan akan kehilangan tempat bernaung bagi perkumpulan itu.


______________


**Selamat membaca jangan lupa like, vote dan koment-nya. juga rate bintang lima dan jadikan favorit biar kalian di beri notifikasi bila sudah up date.....

__ADS_1


Jangan lupa juga baca karya lainku bergenre silat Nusantara yang berjudul "SANG PENGACAU**"



__ADS_2