Jagoanku Ternyata CEO

Jagoanku Ternyata CEO
159. Sampai di Rumah


__ADS_3

Bimo dan Meytta sudah tiba di Bandara tanah air.


Perjalanan hampir tujuh belas jam dengan waktu yang berbeda membuat keduanya kelelahan terutama Meytta.


Dia hanya duduk sambil menyandarkan kepalanya di kursi menunggu jemputan, yang sudah di kabari oleh suaminya.


Tak sampai setengah jam jemputan sudah datang.


Rupanya yang menjemput pak Joko dan seorang pegawai rumah utama.


"Maaf mas agak telat, bapak lupa mas Bimo ada di terminal mana..," kata pak Joko.


Bimo hanya tersenyum.


"Barang barang nya yang mana saja tuan..?," tanya pekerja dari rumah utama.


"Yang itu..itu..sama yang ini," kata Bimo sambil menunjukkan beberapa koper dan bawaan.


Pekerja tersebut kemudian memasukkan koper koper itu ke bagasi belakang sebelum dirinya duduk di samping pak Joko.


Bimo sudah duduk di jok belakang bersama Meytta.


Meytta yang mungkin masih jet lag hanya menyandarkan kepalanya di bahu Bimo.


Mobil yang di kemudikan pak Joko masih melaju dengan tenang menyusuri jalanan di kota tersebut.


Sampai di rumah utama Mereka sudah di sambut papa Haryo dan mama Halimah serta para pekerja.


"Assalamualaikum..Ma..Pa..," sapa Bimo dan Meytta kepada kedua orang tua nya.


"Waalaikumssalam..," kata Papa dan Mama.


Keduanya mencium tangan kedua orang tua nya tersebut.


Setelah berbincang sesaat mereka pamit untuk istirahat dahulu, karena masih sangat kelelahan.


"Kami istirahat dulu Mah..Pah..," kata Bimo.


"Iya.. istirahat lah..sayang..," kata mama Halimah sambil mengusap pelan punggung menantunya tersebut.


**


Di rumah mama Qonita.


"Pa..kapan kita mau rumah jeng Halimah..?, kabarnya Meytta dan mas Bimo sudah pulang dari Eropa," kata mama Qonita.


Papa Adrian yang pulang awal dari tempat kerjanya masih duduk di kursi ruang keluarga.


"Habis Maghrib saja mah.., paling juga anak anak masih pada istirahat kan perjalanan jauh mungkin juga jet lag dan butuh istirahat yang banyak," balas papa Adrian sambil menikmati minuman yang di sajikan mama Qonita.


"Kayaknya Meytta sudah hamil deh..pah.., soalnya tanda tandanya sama dengan mama waktu mengandung dia," kata mama Qonita dengan antusias.


"Syukurlah kalau memang benar begitu, kita bisa cepat menimang cucu."


"Kan rencana honeymoon sepuluh hari, pasti ni mas Bimo masih cuti besok besok kita suruh menginap di sini lagi ya pah..mama kangen banget sama mereka," rengek mama Qonita kepada papa Adrian.


"Iya..iyaa.. nanti papa ajak mereka kesini, aku akan ngomong sama mas Haryo."


**

__ADS_1


Sehabis Maghrib papa Adrian dan mama Qonita nampak sudah bersiap menuju rumah besannya.


Mobil dan sopir nya sudah bersiap menunggu di depan rumah.


"Pah..ayuuk..," ajak mama qonita yang nampak tidak sabar.


Papa Adrian hanya tersenyum melihat istrinya yang nampak tidak sabaran.


"Sabar to.Ma..ni papa lagi ganti baju..," sahut papa Adrian sambil tersenyum.


"Aku keburu kangen sama mereka pah."


"Iya..papa ngerti." kata papa Adrian sambil mengancingkan bajunya.


"Oh..ya..tadi papa jadi telpon mas Haryo kalau kita mau kesana kan Pa..?."


"Pagi tadi sudah, trus malah sore tadi mas Haryo yang telpon papa menanyakan mau kesana kapan..?," kata papa Adrian menerangkan.


"Trus papa bilang habis Maghrib, pinginnya mas Haryo malah habis ashar pulang kerja langsung kesana, mama di suruh kesana duluan itu...kata mas Haryo permintaan jeng Halimah," kata papa Adrian lagi.


Papa Adrian masih berbenah sebentar karena baru pulang dari kerja barusan, habis sholat Maghrib langsung berkemas.


"Ayuuk..Ma..," kata papa Adrian setelah beres semuanya.


**


Bimo dan Meytta masih istirahat karena sangat kelelahan, sengaja sholat nya di jamak nanti sekalian isha karena kondisi yang masih kelelahan sekali.


Bahkan sampai hampir jam tujuh malam keduanya masih terlelap.


Mendekati setengah delapan malam baru Meytta sudah terlihat membuka mata terbangun dari tidurnya.


Perjalanan panjang dengan waktu yang berbeda ternyata cukup menguras tenaga nya.


Bimo malah masih terlelap di sampingnya dengan pulas.


Dengan pelan Meytta beringsut ke sisi tempat tidur takut membangunkan suaminya.


Kemudian beranjak ke kamar mandi dan berendam air hangat di sana.


Jam delapan Meytta sudah berdandan dengan cantik dan segar, setelah melaksanakan kewajiban sebagai muslim bahkan di dua waktu karena di jamak, dia berniat turun ke lantai bawah terlebih dahulu membiarkan suaminya yang masih istirahat.


"Eeh..kok rame banget ..? ada apa ya..?," batin Meytta sambil menuruni tangga dari lantai dua tersebut.


"Naah..itu..yang habis bulan madu..," kata mama Halimah yang melihat menantunya turun dari kamarnya.


Meytta yang melihat papa dan mama nya sudah datang makin terlihat senang.


Mencium tangan keduanya lalu ikut duduk di ruang keluarga tersebut.


"Mana mas Bimo..?," tanya mama Halimah.


"Masih tidur mah.."


"Lho..kok malah masih tidur..?," kata mama Halimah lagi.


"Iya..mah..kasihan mas Bimo jagain Meytta terus selama terbang, makanya enggak Meytta bangunin," kata Meytta pelan.


"Ya..udaah..biarkan saja nanti kan juga bangun jika tidurnya sudah cukup," kata papa Haryo kemudian.

__ADS_1


"Kamu makan dulu sana, kami barusan saja makan..," kata mama Halimah.


"Nanti saja Ma... sekalian bareng mas Bimo," sahut Meytta.


"Bagaimana Mey ..di sana..?," tanya mama Qonita yang penasaran dengan keadaan anaknya.


"Bagus sih..ma..cuma Meytta nggak kerasan.. pinginnya malah balik ke tanah air."


"Pingin makanan yang ada di sini, saking kepinginnya hingga mau nangis kalau enggak keturutan," kata Meytta sambil tersenyum malu malu.


"Jangan jangan kamu ngidam Mey..?," tanya mama Qonita.


"Soalnya itu sama persis dengan mama waktu hamil kamu.."


"Belum tahu mah..kan belum pernah periksa."


Semua yang ada di sana langsung terlihat gembira.


"Segera periksa saja.. sayang.. siapa tahu benar benar hamil," sahut mama Halimah dengan antusias.


"Iyaa..," sahut papa Haryo dan papa Adrian berbarengan.


"Iya Ma..Pa..rencana sih gitu.."


"Nunggu nanti mas Bimo..kalau sudah sempat.. .," sahut Meytta kembali.


Mereka berbincang di sana sesaat kemudian Meytta pamit ke kamar.


"Aku ke kamar dulu Ma..mungkin mas Bimo sudah bangun."


Mama Qonita mengangguk kepada Meytta.


**


Bimo yang merasa kehilangan istrinya membuka mata dengan ogah ogahan.


Badannya masih terasa lelah dan sedikit pegel pegel.


"Sayaang...," panggil Bimo, mungkin istrinya ada di Walk in closed sehabis dari kamar mandi.


Tak ada sahutan, kemudian dengan pelan dan kepala masih sedikit pening Bimo bangun dari tidurnya.


Duduk di tepi tempat tidur, mengumpulkan kesadarannya.


Ckleek...


Pintu kamarnya terbuka, nampak istrinya sudah dandan cantik sehabis dari luar kamar.


"Lho kok sudah cantik..," kata Bimo memandang istrinya.


Meytta tersenyum menghampiri suaminya.


"Sekarang mas Bimo mandi..kita makan yuk...aku sudah lapar..," kata Meytta sambil melipat selimut dan merapikan sprei nya.


___________


**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...


Baca juga karya lainku

__ADS_1


* Sang Pengacau (silat)


* Aku Lebih Mencintaimu (roman**)


__ADS_2