Jagoanku Ternyata CEO

Jagoanku Ternyata CEO
182. Hari Wisuda dan Tragedi nya


__ADS_3

Bimo sudah melajukan mobilnya, menuju Rumah utama keluarga tuan Haryo.


Mereka sengaja berangkat pagi pagi sekali karena berencana makan pagi di rumah mama Halimah.


"Assalamu'alaikum..," Bimo dan Meytta mengucap salam.


"Waalaikumssalam..," sahut mama Halimah dengan senang, langsung memeluk anak dan menantu nya.


"Mama sudah nunggu nunggu dari tadi ," kata mama Halimah sambil tersenyum.


"Ini aja habis sholat subuh langsung kemari mah," sahut Bimo.


"Mama sudah kangen sama calon cucu mama," kata mama Halimah sambil mengusap lembut perut menantu nya.


Meytta hanya pasrah perutnya di usap usap mama mertuanya.


"Enggak nakal kan..?, ngidamnya enggak macem macem kan..?," tanya mama Halimah.


"Enggak mah..paling paling suka makan rujak sama Bakso yang pedes," sahut Meytta tersenyum.


Mama Halimah juga tersenyum mendengar perkataan menantunya tersebut.


"Sudah sana kalau mau istirahat lagi di kamar, ini masih jam enam kurang," kata mama Halimah.


"Iya mah..," sahut Bimo.


"Lagian nanti berangkat ke tempat Wisuda nya dari sini jam sembilan, soal nya jatah wisuda jurusan ku jam sepuluhan," kata Bimo kepada mama nya.


Mama Halimah hanya mengangguk.


**


Flashback on


Di apartemen Andre, keluarga nya nampak sudah datang sejak tadi sore.


Babe, emak serta adik adik dan juga Rani sudah di jemput oleh Andre sehabis pulang kantor.


Mereka semua menginap di apartemen itu, untuk menghadiri acara wisuda Andre besok pagi.


Meskipun apartemen nya sempit karena hanya ada satu kamar tak mengurangi rasa senang untuk mereka semua.


Emak di bantu Rani dan adik adik perempuan Andre sedang sibuk memasak di dapur apartemen untuk makan malam.


"Sini Mak biar Rani yang goreng ayamnya, emak lanjutin buat bumbu sayur lodeh nya aja," kata Rani kepada emak.


"Ya..boleh neng..," sahut emak sambil memasak air di panci buat kuah sayurnya.


"Sayurnya udah Rani potong potong Mak.."


"Oh.. iya.."


Sementara itu Babe dan Andre serta Rizal masih duduk duduk di balkon, menikmati suasana sore dari balkon apartemen.


Melihat matahari terbenam dari ketinggian seperti itu adalah sesuatu yang langka bagi keluarga itu.


"Bagus banget Be..," kata Rizal yang masih bergelayutan manja kepada bapaknya.


"Iya...dari sini semua nampak kecil kayak semut," kata Babe.


Anak kelas enam itu masih suka bermanja kepada bapak juga kakaknya.


Putri dan Nissa yang membantu emak dan Rani calon kakaknya, masih sibuk menata ruang makan yang ada di dekat dapur.


Sesekali keduanya mencicipi masakan yang sudah matang seperti orek tempe, dan gorengan lainnya.


"Eeh...nanti dulu makannya..," goda Rani.

__ADS_1


"Habis enak masakan orek tempe kak Rani, sensasinya beda sama masakan emak," sahut Putri dan Nissa bersamaan.


Tak berapa lama masakan pun sudah siap di meja makan.


"Panggil Babe sama Abang dan adikmu..," kata Emak kepada Nissa.


"Ya..Mak," sahut Nissa bergegas pergi meninggalkan dapur menuju Balkon.


Semua makan dengan lahap apa yang di masak emak dan Rani.


"Tumben orek tempe nya lain rasanya..," sahut Babe yang mengambil menu itu.


"Enggak enak ya Be..?," tanya Rani dengan khawatir.


"Itu masakan Rani..," sahut Rani pelan.


"Enak..enak..kok neng, beda aja ama masakan emak...tapi enak kok bener..," sahut Babe.


"Beneran Be...?, Abang cobain dong masakan Eneng.., enak enggak..," kata Rani.


"Ya... Abang cobain," sahut Andre mengambil orek tempe tersebut.


"Enak...enak..kok," sahut Andre.


Emak dan adik adik juga ikut mengambil orek tempe tersebut.


"Enak...kok neng..," kata emak.


"Iya..enak kok kak," sahut adik adik Andre.


Semua nampak senang dengan kebersamaan itu, bahkan semua terlihat senang saat tidur di karpet bersama sama di ruang tengah.


Flashback off.


**


"Benarkah apa yang kamu katakan..?," tanya Hartono.


"Benar tuan..," sahut anak buah Hartono pagi itu.


"Akan aku akhiri semua ini..," batin Hartono dengan pandangan mata membara.


"Cari informasi di mana tempatnya, nanti aku akan kesana."


"Baik tuan..,akan kami pastikan."


**


"Mas...bagus nggak..?," tanya Meytta memamerkan baju baru yang kemarin di ambil dari Butik Cantika.


Bimo kemudian menoleh ke arah istrinya, mendekati Meytta kemudian memeluknya.


"Bagus sayang.... kamu makin cantik deh..," goda Bimo sambil memeluk istrinya.


"Ish...mas...nanti Kusut lho bajuku," sungut Meytta sambil meronta sedikit tak mau di peluk suaminya.


"Beneran..enggak mau di peluk niih..?," goda Bimo sambil tersenyum jahil.


"Enggak nanti mas Bimo macam macam malah membuat kusut bajuku," kata Meytta sambil berlari menghindar.


"Entar ..nyesel lho..enggak mau di peluk suami..," kata Bimo melihat Meytta lari menghindar darinya.


Meytta malah menjulurkan lidahnya, mengejek suaminya yang kini tak lagi menggodanya.


"Udah... Meytta mau keluar dulu..mau sama mama Halimah aja," kata Meytta langsung keluar dari kamar nya meninggalkan Bimo yang masih menyisir rambut nya.


**

__ADS_1


Mobil yang di kendarai Bimo sudah meluncur ke arah kampusnya.


Disebuah bangunan yang biasa di gunakan untuk acara acara besar milik kampus tersebut, rencananya acara wisuda akan di langsungkan.


Para tamu undangan sudah mulai berdatangan memadati area parkir dan juga kursi kursi yang sudah di siapkan.


Tiap wisudawan mendapat jatah tiga anggota keluarga yang bisa memasuki area gedung wisuda untuk menjaga ketertiban.


Semua tamu undangan sudah tertera nomer kursinya sesuai dengan yang ada di undangan.


Kebetulan mama Halimah, serta Meytta mendapatkan nomer agak di depan.


Bimo masih mencari tempat duduk untuk keluarga nya.


"Kayaknya itu mas..," kata Meytta yang sambil tolah toleh dan menunjuk urutan kursi yang sesuai dengan nomer urutan di undangan.


Bimo kemudian mencocokan dengan undangan kemudian tersenyum.


"Iya ..benar..itu kursinya ," kata Bimo sambil menggandeng tangan istri dan juga mama nya.


Setelah para keluarga duduk di kursi nya, maka para wisudawan duduk di kursi yang sudah di sediakan.


Acara wisuda pun di mulai, di awali oleh sambutan dari Rektor kemudian Dekan lalu pejabat yang berwenang dari wilayah setempat juga daerah tersebut.


Setelah semua sambutan dari pihak universitas dan fakultas selesai lalu di teruskan sambutan dari pihak mahasiswa, selain mahasiswa yang terbaik ada juga mahasiswa yang berprestasi non akademik dan berdasarkan prestasi non akademik nya yang tebaik, maka Bimo lah yang mewakilinya.


"Di mohon untuk saudara Bimo Aryoseno Perwira Atmaja bersedia maju ke mimbar, untuk memberikan sedikit ilmu dari pengalamannya sebagai pemimpin perusahaan besar, kami persilahkan saudara Bimo..."


Nama Bimo sudah di panggil untuk maju ke mimbar untuk memberikan pesan kesan dan trik trik bagaimana bisa berprestasi.


Bimo yang tak menyangka akan ada acara dadakan tersebut, sedikit berdebar saat maju ke mimbar.


Sepasang mata yang membara nampak selalu mengawasi setiap gerak geriknya juga ibunya, diantara ribuan tamu undangan tersebut.


Saat Bimo sudah berada di mimbar dan memulai berpidato, nampak pemilik mata dengan dendam membara tersebut berjalan ke mama Halimah dan Meytta.


Bimo yang masih berpidato sedikit kaget saat orang tersebut berjalan dengan tenang menghampiri sang mama sambil mencabut pistolnya di arahkan ke mama Halimah.


Spontan Bimo langsung meninggalkan mimbar diiringi kesadaran orang orang bahwa ada seorang penyusup membawa senjata api.


Setelah sedikit dekat tahu lah siapa orang tersebut..yaitu Hartono.


Suasana langsung kacau-balau seiring Bimo meninggalkan mimbar mengejar orang tersebut yang mengarahkan senjata api nya kepada Mama.


"Awaas...Maaah...," teriak Bimo meloncat memperingatkan mamanya.


Hartono yang menyadari kedatangan Bimo mengalihkan bidikan pistol nya ke arah pemuda itu.


Door...!


Door..!!


Dua buah tembakan langsung di lepaskan Hartono mengarah ke Bimo yang mau melindungi mama nya.


Seketika suasana hiruk pikuk, dan kacau balau.


Beberapa petugas kemanan di bantu pihak kepolisian setempat yang mengamankan jalannya wisuda langsung mengepung Hartono, bahkan salah satu polisi berhasil melumpuhkan bekas preman tersebut.


Bimo ambruk bersimbah darah, setelah dua tembakan Hartono bersarang di tubuhnya.


Mama Halimah dan Meytta langsung menghambur memeluk tubuh Bimo sambil menangis histeris.


____________


**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...


Happy reading**...

__ADS_1


__ADS_2