Jagoanku Ternyata CEO

Jagoanku Ternyata CEO
205. Selamatan dan Pengajian


__ADS_3

Halaman belakang sudah di sulap sedemikian rupa dengan berdirinya dua buah tenda besar.


Satu tenda untuk memasak dan satu tenda yang lebih besar lagi untuk acara selamatan kenduren dan malamnya pengajian.


Meytta yang jarang jarang punya hajatan di rumah malah sibuk mengabdikan moment tersebut dengan ponselnya.


"Lho..kok malah jalan jalan terus..?," Bimo yang overprotektif selalu mengikuti istrinya kemanapun melangkah.


"Seru mas..buat kenagan buat Baby Boy nantinya.."


Keduanya masih mengabadikan moment itu, dari bapak bapak yang menyembelih kambing hingga kegiatan ibu ibu yang sedang membuat aneka masakan di dapur tenda.


Bu Siti dan pak Joko sudah sejak pagi berada di rumah mama Qonita, sedangkan mama Halimah dan tuan Haryo rencana sore sebelum selamatan kenduren baru tiba.


"Non Meytta mau mencicipi jajanan yang mana..?."


"Yang itu sama itu..Bu..," kata Meytta kepada bu Siti, lalu duduk di kursi yang ada di dekat ibu ibu yang sedang memasak.


"Gimana non rasanya ..?, sudah pas..?," tanya bu Sholeh yang membuat adonan jajanan tersebut.


"Enak banget Bu Sholeh..pas..manis sama gurih santannya."


Bu Sholeh nampak tersenyum senang saat hasil karyanya di puji orang.


"Yang satunya di coba non.., itu namanya bubur candil.., hampir seperti..kolak biji salak tapi yang itu di buat dari ketan murni..," terang Bu Beno istrinya pak Beno.


Meytta pun mencobanya, diambilnya sendok kecil lalu di sesoknya makanan tersebut, "Ymm..enak Bu.. apalagi di kasih santal kental yang gurih makin mantap rasanya."


Sambil membawa mangkuk kecil tersebut Meytta berjalan mencari suaminya yang masih duduk duduk melihat proses pemotongan kambing yang tinggal mencacah dagingnya.


"Loh..di sini toh.."


"Iya..kirain kamu sudah sama Bu Siti, jadi mas Bimo tinggal nemani pak Joko disini.."


Meytta hanya tersenyum mendekati suaminya.


"Aaaa..buka mulut.."


"Apaan sih..?."


"Bubur enak mas..," sahut Meytta sambil menyendok kan bubur tersebut ke mulut suaminya.


Bimo terpaksa membuka mulutnya setelah di paksa berkali kali.


"Amm..ymm...ymm.."


"Gimana..?."


"Enak sayang...mas Bimo minta lagi ya..?."


Bimo yang memang suka aneka bubur tersebut sangat menyukai makanan yang jarang ada tersebut.


"Makanya aku nyari mas Bimo karena ada makanan kesukaanmu mas..," Meytta tersenyum sambil menyuapkan lagi makanan itu hingga habis di mangkuk.


Pak Joko yang ada di samping Bimo hanya tersenyum saja, bagi pak Joko Bimo sudah seperti anak sendiri.


"Pak Joko mau..?, minta di ambilkan bu Siti sana..," kata Bimo.


"Nanti aja mas..pas kenduren paling juga dapat bagian nanti."


Bimo tersenyum mendengar jawaban pak Joko.


**

__ADS_1


Tepat sebelum beduk dhuhur masakan olahan sudah pada matang.


Karena tugas bapak bapak sudah selesai maka bapak bapak di suguhi makanan hasil olahan daging sebelum pulang, soalnya sore nanti datang untuk kenduren dan malamnya pengajian.


"Pak nasinya di sini..!,"Seru Bu Sholeh yang mengatur semua kegiatan bagian perempuan itu.


Setelah mencuci tangan bapak bapak prasmanan makan siang sebelum pulang dan sholat duhur.


"Nasinya masak sedikit amat..?," goda pak RT kepada pak Beno.


"Lah..kan nanti lauknya yang banyak..," jawab pak Beno pakai aji mumpung.


Pak Mudin sudah duduk di bawah tenda sekenanya sambil menikmati olahan daging tersebut.


Semua siang itu makan bersama di bawah tenda belakang rumah termasuk para pengawal Bimo.


"Yang tak suka daging kambing bisa mengambil daging sapi atau ayam di sebelah sana..," kata pak RT yang mengatur bapak bapak sambil menunjukkan tangan ke sebelah barat dimana ada olahan selain daging kambing.


**


Sebelum Ashar papa Haryo dan mama Halimah sudah tiba di kediaman Keluarga papa Adrian.


Mama Halimah yang membawa banyak aneka kue langsung di bawa masuk oleh pak Man di bantu pak Joko dan pekerja yang lain.


"Wah..kok bawa jajanan sebanyak ini Jeng.."


"Nggak pa pa Jeng kan nanti bisa di makan bareng bareng dengan yang lainnya.


"Iya juga sih Jeng..," kata mama Qonita sambil mengambil beberapa kardus lalu di bawa ke belakang agar di nikmati ibu ibu yang masih beraktifitas memasak di sana.


"Bu Sholeh ...ada jajanan di nikmati bersama sama .."


"Oh..iya...Bu Adrian ini kok ya ... repot repot segala.."


"Repot apanya sih Bu...ini oleh oleh dari Jeng Halimah mamanya mas Bimo..," sahut mama Qonita tersenyum dan meninggalkan ibu ibu untuk kembali menemui mama Halimah.


"Kendurennya kapan mas..?," tanya papa Haryo.


"Habis sholat ashar nanyi..mas."


"Para tetangga sekitar sini saja kok mas..biar ikut mendoakan anak anak kita..," kembali papa Adrian berkata.


"Kamu kok malah masih disini..?, kan kamu yang punya gawe..?," kata


papa Haryo kepada Bimo yang masih santai.


Nanti sekalian mau sholat ashar pah..mandinya.


**


Sholat ashar sudah berlalu.


Satu persatu para penduduk yang akan mengikuti kenduren selamatan sudah pada datang.


Kenduren kali ini hanya di pimpin doa oleh pak Mudin yang juga sebagai pengurus masjid Kampung Dalam.


Bapak bapak sudah nampak duduk di tikar yang di gelar di bawah tenda tersebut.


Anak anak warga sekitar juga sudah pada duduk dengan rapi.


"Bisa di mulai pak RT..tanya pak Modin."


Pak RT memandang yang hadir seakan mengabsen siapa yang belum datang.

__ADS_1


"Kayaknya semua warga sudah hadir deh..silahkan di mulai doanya pak Modin," seru pak RT sambil tersenyum ke arah pak Modin.


Dengan dipimpinnya oleh pak Modin semua nampak khusuk berdoa.


Aamiin...


Aamiin...


Aamiin...


Semua mengucapkan kata Aamiin dalam setiap doa yang panjatkan oleh pak Modin.


"Aaamiiiiin...!


Doa terakhir selesai di bacakan oleh pak Mudin, semua mengucapkan amin lebih keras dan panjang.


Semua yang hadir sudah mendapat bingkisan yang nantinya di bawa pulang.


"Jangan lupa nanti malam di harap kehadirannya...menyaksikan dan mendengarkan pengajian di sini..," kata Pak RT mengingatkan kembali.


"Ya pak...," sahut Bapak bapak.


Anak anak yang ikut kenduren di berikan aneka jajanan, bubur dan juga rujak..serta angpau.


Bimo dan Meytta duduk di kursi yang sudah di sediakan dimana anak anak sudah mengantri untuk mendapatkan angpau.


Semua nampak senang dengan adanya acara tersebut.


**


Selepas sholat Isyak halaman belakang rumah keluarga Adrian nampak di padati para tetangga yang akan menghadiri acara pengajian dan tausiyah dari salah satu ulama yang cukup di kenal di kota itu.


Bimo sudah berdandan dengan baju Koko dan memakai peci, sedangkan Meytta sudah memakai baju gamis dengan jilbab pashmina menambah kecantikan calon ibu muda tersebut.


"Sayang ..pakai jaket ya.. takutnya udara di belakang dingin..kan nanti sampai malam pengajiannya."


"Aku bawa aja dulu ya mas..nanti pakai nya kalau sudah merasa dingin."


Bimo tersenyum mengangguk kan kepalanya.


Beberapa pengawal berjaga di depan rumah juga di dalam rumah karena semua menuju halaman belakang.


Andre dan Rani sudah datang sejak habis Maghrib ikut membaur dengan tamu tamu yang lain.


Beberapa orang kantor juga datang, hanya yang dekat dengan Bimo seperti Om Satya, mbak Diah dan anaknya serta beberapa orang jajaran direksi.


Teman teman kuliah Meytta seperti Deborah, Shinta dan Wulan juga nampak hadir disana.


Bahkan teman Dojo yang kemarin sempat di kabari Bimo juga pada datang termasuk bang Anton yang non muslim.


Bimo yang sudah membaur dengan para tamu menyalami semua yang hadir di sana, terutama teman temannya.


"Makasih teman teman..," kata Bimo.


"Makasih bang Anton...bersedia datang ..padahal ini pengajian..," sapa Bimo tersenyum kepada Anton.


"Hehe..santai aja lah..," sahut bang Anton yang langsung duduk bersama anak anak Dojo.


Acara pun dimulai tepat setengah sembilan malam, saat sang Ulama mulai naik mimbar yang di sediakan di sana.


Acara yang meriah itu berlangsung hingga hampir setengah sebelas malam karena juga di selingi acara makan makan.


Semua bergembira..begitu juga Bimo dan Meytta serta kedua keluarga orang tuanya yang nampak senang bisa berbagi dengan sesama.

__ADS_1


____________


Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya....


__ADS_2