Jagoanku Ternyata CEO

Jagoanku Ternyata CEO
122. Persiapan Wisuda


__ADS_3

Semua laporan dari GSB group sudah di terima oleh pihak kepolisian.


Laporan itu kemudian di kembangkan oleh pihak kepolisan dan terus di selidiki sebelum melakukan pemanggilan terhadap tergugat.


Semua data data yang sudah di berikan kepada pihak kepolisian di jadikan sebagai barang bukti bersama dengan hasil temuan penyelidikan pihak kepolisian.


**


Bimo yang saat itu di kampus tengah mengurus beberapa hal karena kebetulan juga sebentar lagi akan di wisuda karena sudah menyelesaikan pendidikan di sana.


Belum ada rencana untuk melanjutkan program S2 karena kesibukannya yang kian banyak dan padat.


Teman teman Bimo yang kini benar benar mengetahui siapa diri Bimo yang sesungguh nya, ada yang makin mendekat namun ada pula yang menjauh, mungkin sungkan dan segan saja.


Yang mendekat bisa karena memang tulus dari dahulu mereka sahabatan, atau bahkan untuk mencari muka agar bisa di masukkan di GSB group.


Yang menjauh juga karena dahulu mereka suka menghina Bimo namun ternyata sekarang mereka tahu Bimo seorang sultan, namun ada juga yang karena tak mau makin sakit hati karena kecewa cintanya bertepuk sebelah tangan seperti Arlita.


Karena sesungguhnya sejak awal Arlita sangat menyukai Bimo, namun karena saat itu dia tahunya Bimo miskin dia lebih memilih Joni Arman, yang kini mereka bahkan telah putus karena tak ada kecocokan lagi.


"Wiih..Bos Bimo..lama enggak ketemu nih kita...," teriak Romano yang masih berjalan dengan Achri.


Semenjak terakhir mereka bertemu di acara lamaran itu mereka memang tak bertemu lagi.


"Hehe...kalian juga enggak pernah ngontak aku..sih," sahut Bimo.


"Mana berani kami ganggu kamu, emang kamu pengangguran macam kita, kamu kan pemimpin perusahaan yang banyak kesibukan," sahut Achri lesu.


"Ya..enggak usah telpon, kirim pesan pasti aku balas, soalnya kalau telpon takutnya pas repot gak bisa selalu bisa angkat," terang Bimo sesuai keadaan yang di hadapinya.


"Lah ...kalian kok sudah ada disini memangnya sudah pada tanda tangan..?," tanya Bimo kepada kedua sahabat satu angkatan nya itu.


"Baru saja kami selesai dari sana," kata keduanya.


"Ya..udah...aku kesana dulu, tapi kalian jangan pergi ...ya, aku masing ingin ngobrol ngobrol dengan kalian."

__ADS_1


"ok, kami tunggu di kantin ya."


Bimo mengangguk kemudian berjalan ke arah kantor dosen dimana Rektor dan Dekan juga berkantor di sana.


Sampai di belokan Bimo ketemu dengan rombongan Arlita,Yuke dan Dona.


Ketiganya tersenyum ke arah Bimo.


"Hai..Bim..," sapa ketiga gadis itu.


"Hai..mau kemana..? kok arahnya kesana..?," tanya Bimo kepada ketiganya karena berbeda arah.


"Kami mau menemui dosen xx karena masih ada tanggungan," jawab Yuke.


"Tapi kalian ikut wisuda periode ini kan..?," tanya Bimo kepada ketiganya sedikit kaget.


"Semoga aja ya..," kata Dona sambil tersenyum.


Arlita nampak sedikit pendiam sekarang, apalagi dia tahu Bimo sekarang sudah bertunangan bahkan sebentar lagi menikah.


Setiap melihat Bimo yang makin tampan hati Arlita bagai di iris iris.


"Kok tumben Arlita pendiam..?," goda Bimo agak suasana tak canggung.


Arlita yang merasa sedikit di perhatikan sontak tersipu, sebenarnya dia juga cukup manis juga.


"Yaa..soalnya hati aku lagi sakit, cowok yang ku suka mau nikah," sahut Arlita dengan sedikit guyonan meskipun kenyataannya juga demikian.


''Mungkin belum jodohnya kali..," sahut Yuke dan di angguki Dona sambil mengelus punggung sahabatnya itu.


Melihat suasana jadi nampak sedih Bimo kemudian pamit ke ruang dosen.


"Aku kesana dulu ya... teman-teman," kata Bimo kepada ketiga gadis tersebut sambil melambaikan tangan.


Arlita masih menatap kepergian Bimo dengan hati yang perih.

__ADS_1


"Sudah...ayuk...kita cari dosen xx," kata Yuke dan Dona menggandeng Arlita yang nampak masih ingin memandangi Bimo.


Dengan malas malasan Arlita mengikuti kedua sahabatnya itu.


**


Meytta yang masih di kampus juga masih asyik bersama teman temannya.


Nampak di kejauhan beberapa pria ada di sana mengawasi dari kejauhan aktivitas Meytta.


Meytta kini sudah terbiasa akan pemandangan itu.


Semenjak penculikan dirinya kini Bimo makin ketat dalam memberikan pengawalan.


Semula Meytta sedikit protes tapi setelah diingatkan kembali dia pun menerimanya dan menurut apa tindakan calon suaminya itu, apalagi memang saat ini serangan dari Hartono masih juga terjadi dalam bentuk berbeda.


Bersama ketiga sahabatnya mereka masih berbincang di cafe kampus itu.


"Jangan lupa datang di acaraku ya..," pinta Meytta kepada semua sahabat nya .


"Pastilah sist..kami pasti menyempatkan hadir," jawab Debora.


"Apalagi jamuannya kan uenaak uenaak," katanya lagi.


"Issh....kamu ini makanan mulu yang di pikirin," kata Wulan sambil mencolek perut Debora yang lumayan gembung.


"Lha...kan mumpung..ada makanan enak..?, emang kapan lagi... ada makanan para sultan hadir di kalangan rakyat jelata," Debora masih ngeyel.


Memang benar sih apa yang dibilang Debora..kapan lagi...makan enak..tanpa perhitungan.


_____________


**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...


Happy reading**.....

__ADS_1


__ADS_2