
Bimo dan Meytta sudah berada di dalam apartemen, keduanya masih berangkulan sambil berjalan ke ruang tengah.
Entah kenapa rasanya tak pernah ada bosannya bagi Bimo untuk selalu memeluk, menciumi istrinya.
Meytta yang merasa di perlakukan seperti itu makin merasa manja saja.
"Mas..aku kok kini merasa makin manja ya..," kata Meytta makin aleman.
Bimo mengembangkan bibir nya mendengar perkataan istrinya.
"Bagus dong berarti mas Bimo... ada gunanya jika selalu ada di dekatmu," sahut Bimo tersenyum senang.
Malam yang belum terlalu larut itu membuat keduanya masih ingin menikmati keindahan kota Paris dari balkon apartemen.
Dengan memandang menara Eiffel yang nampak indah keduanya menikmati segelas minuman hangat yang baru saja di buat Meytta.
"Besok keluar dari apartemen jam berapa mas..?."
"Jam 12 an, soalnya jarak tempuhnya malah lumayan lama, karena bandara malah sedikit jauh dari sini."
"Takutnya malah telat karena macet." kata Bimo lagi.
"Berarti pagi pagi kita sudah berkemas dong," sahut Meytta.
"Ya..kan nanti mas Bimo bantu.. sayaang," kata Bimo sambil mendekap istrinya karena angin yang berhembus sangat dingin.
**
Pagi hari Meytta sudah mulai berkemas.
Semua sudah mulai sedikit demi sedikit di masukkan ke dalam tas koper nya.
Itu di lakukan agar tak terjadi ketinggalan barang di sana.
Selesai berkemas sedikit sedikit Meytta juga membuat sarapan untuk mereka berdua.
"Mas Bimo mau sarapan apa..?," tanya Meytta kepada Bimo suaminya.
Bimo yang masih membantu mengemasi barang-barang menoleh, " terserah kamu sayang.."
"Aku pingin yang seger seger mas."
"Terus kamu mau masak apa sayang..?," sahut Bimo menghampiri istrinya yang makin terasa menggemaskan.
"Aku kepingin masak mie rebus saja terus aku kasih telur," sahut Meytta pelan.
"Ya..mas Bimo sama sepertimu aja," balas Bimo kemudian menyudahi kemas kemas nya.
"Mau buat kopi..?."
"He'em."
Meytta kembali ke dapur apartemen dan sudah mulai berkutat dengan masakan nya.
Membuat mie rebus yang di bawa dari tanah air, karena memang dirinya jika pagi hari selalu ingin makan yang pedes dan berkuah.
Satu bungkus untuk dirinya serta sebutir telur, dan dua bungkus untuk suaminya dengan dua butir telur.
Bimo menghampiri istrinya memeluk dari belakang, mencium rambutnya.
"Jangan lupa mas Bimo dua bungkus," kata Bimo mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
Meytta hanya menganggukan kepalanya paham akan hal itu.
Dengan badan suaminya yang tinggi besar mana mungkin kenyang jika hanya satu bungkus seperti dirinya.
"Minumannya biar mas Bimo yang buat," kata Bimo ketika melihat air yang sudah mendidih di sebelah panci.
"ini kamu mau buat minuman apa..?," tanya Bimo melihat gelas cangkir istrinya.
"Itu jahe bubuk aku campur sama susu bubuk," sahut Meytta.
"Ooh."
Kemudian Bimo menuangkan air panas tesebut ke kopinya, kemudian mendiamkan sesaat air tersebut biar suhunya agak dingin sebelum menuangkan ke susu jahe istrinya agak tak merusak kandungan gizi yang ada di susu bubuk tersebut.
Makanan sudah siap dan minumanpun juga sudah siap.
"Mau makan di mana..?."
"Di meja apa di balkon..?," tanya Meytta.
"Di balkon aja ya..?," sahut Bimo.
Meyttapun membawa makanan itu satu per satu ke balkon apartemen.
Sedangkan Bimo membawa dua cangkir minuman itu ke sana.
Mereka menikmati makan pagi yang nikmat itu sambil melihat matahari terbit dari balkon.
Udara yang cerah dan cuaca yang sejuk sangat mendukung suasana romantis keduanya.
"Mas Bimo sudah mengabari orang rumah..?, kalau kita mau terbang siang ini kan..?," kata Meytta di sela makannya.
"He'em,..nanti kalau udah pas mau terbang baru akan mas Bimo kabari lagi," sahut Bimo sembari meminum kopinya.
"Mungkin belanjaan kita semalam mas..," sahut Meytta.
"Oh..iya mas Bimo sampai lupa kita punya belanjaan," kata Bimo bergegas menuju pintu dan membuka pintu apartemen.
Benar memang jasa pengiriman barang yang tadi malam di beli nya.
Jasa pengiriman itu adalah fasilitas yang di sediakan oleh pihak pengelola bersama mobil Limousine juga sebenarnya.
Bimo mengecek barang dan nota yang semalam sudah di bawa nya.
Setelah di nyatakan sesuai Bimo tak lupa memberi tip petugas pengantar tersebut.
"Terima kasih tuan," kata petugas pengantar barang sambil berlalu pergi.
"Sama sama," sahut Bimo sambil menutup pintu apartemen nya.
"Belanjaan kita mas..?," tanya Meytta.
"Iya.."
"Mas Bimo udah ngecek..?."
"Sudah."
**
Sebelum jam 12.00 waktu setempat Bimo dan Meytta sudah bersiap.
__ADS_1
Mereka masih menunggu di apartemennya karena Yosef berpesan agar menunggu di atas nanti akan di bantu menurunkan barang barang bawaan.
Meytta sudah kembali terlihat cemas, karena akan terbang jauh.
"Jangan khawatir sayang.. semua pasti baik baik saja," kata Bimo memeluk istrinya yang masih duduk di sofa ruang tengah.
"Aku sudah berusaha relaks mas.., tapi tetep saja enggak bisa..," sahut Meytta sambil mendekap lengan suaminya.
"Nggak pa pa ..Pikirkan saja kalau sebentar lagi kita bertemu dengan mama papa, ok," sahut Bimo sambil mengusap lembut rambut Istrinya.
Teet..teet..
Suara bel apartemen kembali berbunyi.
Yosef sudah datang dan berdiri di depan pintu apartemen bersama seorang petugas apartemen pembawa barang.
Barang barang bawaan yang lumayan banyak itu kemudian di masukan di kereta dorong yang di bawa petugas tersebut.
Yosef membantu petugas tersebut menata barang barang bawaan itu.
Mereka menuju lift langsung ke lobi dimana mobil yang di bawa Yosef sudah menunggu.
Sampai di mobil petugas apartemen pembawa barang ikut menata barang barang tersebut ke mobil.
Bimo mengucapkan terimakasih setelah tak lupa memberi tip kepada petugas tersebut.
"Kira kira berapa lama perjalanan menuju bandara ..?," tanya Bimo kepada Yosef setelah mobil yang di kemudikan Yosef berjalan.
"Sekitar satu jam tuan.. semoga jalanan tak macet jadi bisa kurang dari waktu tersebut," jawab Yosef.
"Ya..semoga saja..," kata Bimo.
Meytta hanya diam saja, dia sibuk membuka media sosial nya untuk mengurangi ketegangan yang di rasakan nya.
Ternyata jalanan meskipun padat namun tak sampai berhenti macet, tak sampai satu jam mereka sudah sampai di bandara.
Setelah Boarding dan packing barang barang bawaan Bimo dan Meytta langsung masuk ke ruang tunggu keberangkatan pesawat, setelah sebelumnya berpamitan dengan Yosef tentu saja.
Sebelum pesawat berangkat terbang tak lupa Bimo telpon ke tanah air.
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumssalam..," sahut mama Halimah dari tanah air.
"Kami sudah di bandara Ma..sebentar lagi pesawat akan terbang," kata Bimo.
"Ya..nak..semoga di beri kelancaran dan keselamatan," sahut mama Halimah.
"Aamiin," kata Bimo sebelum akhirnya menutup sambungan telepon tersebut dan kembali duduk di samping istrinya yang masih saja nampak tegang di wajahnya.
"Mau ngabarin mama Qonita enggak..?," kata Bimo untuk mengalihkan perhatian istrinya dari ketegangan nya.
Meytta mengangguk nampak sedikit sumringah.
__________
**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...
Baca juga karya lainku ya..
* Sang Pengacau (Silat)
__ADS_1
* Aku Lebih Mencintaimu (roman**)