
Mama Qonita awalnya kaget mendengar Bimo mau pulang ke tanah air.
"Loh..bukannya kalian di Eropa sepuluh hari..? ini belum genap enam hari sudah mau pulang..?."
"Mas Bimo dan Meytta baik baik saja kan..?," tanya mama Qonita dengan nada khawatir.
Bimo tersenyum mendengar kekhawatiran ibu mertuanya.
"Kami baik baik saja kok mah.., cuma Meytta kangen masakan tanah air..kayak orang ngidam."
"Pingin bakso sama rujak di sini tak ada mah, yang mirip sih ada ...tapi tak seenak aslinya," kata Bimo Kembali.
Mendengar itu, mama Qonita langsung terdengar ceria.
"Mungkin memang ngidam mas..aduuh..mama senang sekali, semoga mama lekas gendong cucu ," kata mama Qonita kegirangan.
Bimo tersenyum mendengar mama mertuanya sudah tak khawatir lagi.
"Ya...udah mah..Bimo tutup dulu, rencana besok siang dari sini," kata Bimo sebelum mengakhiri panggilan telponnya.
Saat itu di Prancis masih sore sedang di tanah air sudah malam.
**
"Besok kita berangkat jam berapa mas..?," tanya Meytta kepada Bimo.
"Siang sayang...penerbangan sekitar.. jam satuan, memangnya kenapa..?," tanya Bimo sambil memandang wajah istrinya yang nampak Kembali cerah tersebut.
"Malam nanti jalan jalan sambil belanja yuuk mas.."
Bimo terkekeh mendengar permintaan istrinya.
"Kamu itu lucu.. kemarin buru buru ngajak pulang, sekarang nampak kesenangan malah mau jalan jalan dan belanja...," sahut Bimo sambil mendekat dan merangkul pinggang istrinya kemudian memeluknya.
"Mmm..aku juga enggak tahu mas .., sesaat masih ingin berlibur tapi kadang kadang kangen dan pingin banget makanan di tanah air."
"Ya.. udaah..kita istirahat dulu nanti malam kita jalan jalan dan berbelanja."
"Memang kamu mau belanja apa sih..?," sahut Bimo.
"Pokoknya fesyen di sini..kan sini termasuk salah satu pusat fesyen dunia mas."
"Ok.."
mereka lalu bergandengan tangan berjalan menuju ke ruang tengah apartemen tersebut.
**
Hari sudah sedikit gelap, saat itu di Prancis siangnya lebih panjang dari pada malam hari.
Mereka masih duduk berdua di balkon melihat suasana senja di kota Paris.
Menikmati secangkir kopi dan roti biskuit yang di hidangkan di meja kecil di depannya.
"Kalau aku bener bener hamil..mas Bimo pingin anak laki apa perempuan...?," tanya Meytta sambil menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
"Apa saja yang penting sehat dan jadi anak yang Sholeh atau Sholehah serta berbakti ke orang tua," sahut Bimo sambil mendekap tubuh istrinya.
"Kalau aku pinginnya..anak laki..biar bisa jagain kita besok nya," sahut Meytta.
"Memangnya kalau anak cewek enggak bisa jagain."
__ADS_1
"Kan kalau anak cewek terus dapat suami kayak mas Bimo juga bisa jagain keluarga," sahut Bimo sambil menepuk dadanya bergaya arogan.
Meytta tersenyum, mendengar perkataan suaminya.
Memang bener sih apa yang di katakan sang suami, baik anak laki apa perempuan asal anak yang berbakti taat pada agama dan orang tua pasti orang tua akan bangga dan senang...bahkan hingga matipun sang anak akan selalu mengalirkan pahala buat kedua orangtuanya.
Sebaliknya baik anak laki maupun perempuan bila tak berbakti bahkan pembuat masalah pasti malah akan mencoreng nama baik orang tua dan keluarga.
"Memangnya mas Bimo pingin punya anak berapa...? tanya Meytta kembali.
"Mmm...tiga ..atau... empat..," sahut Bimo dengan mantap.
"Ishh...banyak banget..," seru Meytta.
"Kan mas Bimo pernah bilang sama kamu sayang."
"Ingat enggak.. pas kita ngobrol sambil makan waktu ada pak Joko dan Bu Siti di rumah, mas Bimo..bilang kan," terang Bimo kembali.
"Memang kamu enggak kepingin punya banyak anak..?."
"Yaa..seneng sih mas..tapi." Meytta sedikit ragu.
"Tapi kenapa sayang..?."
"Nanti badan aku jadi jelek kalau sebentar sebentar punya anak," kata Meytta sedikit khawatir.
"Terus mas Bimo enggak sayang lagi kepada Meytta," sungut Meytta.
"Hehehe...nggak bakalan mas Bimo berkelakuan seperti itu sayang," sahut Bimo dengan gemas mentoel pipi istrinya.
"Aamiin...semoga mas Bimo tetep sayang sama Meytta selamanya," kata Meytta sambil menengadah kan tangan nya.
"Aamiin..," sahut Bimo sambil mencium pipi istrinya dengan penuh rasa sayang.
Kerap kerlip bintang di langit menggantikan tugas sang matahari, bersama secuil bulan sabit yang masih terlihat tipis di ujung barat.
Kedua suami istri itu masih asyik berpelukan sambil menikmati suasana temaram sebelum mengakhiri nya karena melakukan kewajiban seorang muslim.
**
"Mas..memangnya si Yosef sudah di beritahu untuk mengantar kita malam ini..," tanya Meytta kepada suaminya.
"Tadi sih sudah...sayang.... sekalian mengantar kita makan malam,"
"Mas Bimo bilangnya jam berapa..?."
"Jam delapan malam nanti."
"Yaa..udah..aku dandan nya nanti aja ya mas..?," seru Meytta karena suaminya masih berjalan ke arah kamar mengambil handphone nya.
"Iyaa...sayang.." teriak Bimo dari dalam kamarnya.
"Kita pakai pakaian kasual aja sayang..biar nyaman jalan jalan nya," kata Bimo kepada Meytta setelah keluar dari kamarnya.
Meytta mengangguk mengikuti apa perkataan suaminya.
**
Pukul tujuh tiga puluhan waktu setempat Meytta dan Bimo sudah bersiap untuk makan malam dan berbelanja.
Bimo memakai celana jeans biru navy dengan kaus lengan panjang warna hitam di balut jaket tebal warna senada.
__ADS_1
Sedangkan Meytta menggunakan Jeans dan atasan coklat susu degan jaket tebal serta jamper bulu yang nampak cantik di pakainya.
Semua pakaian yang mereka pakai adalah pakaian branded.
Keduanya sudah turun di lobi menunggu jemputan Yosef.
Tak berapa lama keduanya di sana, Yosef sudah menghampiri.
"Selamat malam tuan dan nyonya, mobil sudah ada di depan," kata Yosef kepada Bimo dan Meytta yang masih duduk duduk di lobi apartemen tersebut.
Bimo dan Meytta pun berjalan menghampiri mobil yang sudah terparkir di lobi.
"Maaf aku tak melihat mu tadi," kata Bimo sambil tersenyum begitu melihat mobil yang di kemudikan Yosef sudah terparkir di sana.
Yosef membukakan pintu untuk keduanya, kemudian dia sendiri memasuki mobil tersebut.
"Kita mau kemana dulu tuan..?." tanya Yosef sopan.
"Kami mau makan malam dahulu..apakah ada restoran yang bisa menjadi tujuan kami..?," tanya Bimo.
Yosef terdiam sesaat, mungkin sedang berfikir.
"Bagaimana dengan Le train bleu..tuan?," tanya Yosef balik.
Meytta langsung browsing di gadgetnya.. takut nya makanannya tak cocok.
"Bagaimana sayang..?," tanya Bimo yang melihat istrinya browsing tentang restoran tersebut.
"Kayaknya cocok mas.."
"Ok..kita kesana..," kata Bimo begitu mendengar istrinya menyetujui apa yang di rekomendasi kan oleh Yosef tersebut.
Mobil melaju menuju arah restoran itu berada.
Tampak dari luar kemegahan restoran tersebut sudah terasa.
Mereka bertiga memasuki restoran tersebut, sebenarnya Yosef sudah menolaknya namun Bimo memaksanya.
Bimo dan Meytta memesan satu meja sedangkan Yosef yang tak ingin mengganggu tuan dan nyonya mudanya memilih meja lainnya.
Le Train Bleu merupakan restoran ikonik dengan suasana yang megah.
Cocok bagi yang mencari suasana berbeda saat makan malam.
Kolaborasi antara The Train Bleu dan Maison Rostang menawarkan masakan mewah namun tetap dengan sentuhan lokal Prancis.
Hidangan yang di sajikan kebanyakan adalah yang kaya akan kaldu.
Saat menyantap makanan ini sesendok demi sesendok rasanya waktu seperti berhenti dan membuat keduanya terhanyut dalam rasa makanan yang begitu lezat mendekap lidah.
"Mm.. yummy banget mas..," kata Meytta.
Bimo tersenyum senang istrinya nampak menikmati makanan tersebut.
Beberapa saat keduanya menikmati suasana makan malam romantis di tempat tersebut.
__________
**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...
Baca juga karya lainku
__ADS_1
* Sang Pengacau (silat)
* Aku Lebih Mencintaimu (Roman**)