
Iwan segera bergegas menuju parkiran mobil.
Disana nampak Bimo masih menata beberapa barang dalam beberapa kantong.
"Bos..aku bantuin," kata Iwan dan Adit yang mendekat.
"Niih..," kata Bimo kepada Iwan.
"Lainnya mana pak..?," tanya Adit yang terlihat sangat menghormati Bimo.
"Ini..dan ini..," sahut Bimo.
Segera saja ketiga lelaki itu membawa kantong kantong di tangan kanan dan kirinya.
Mereka di sambut suka cita oleh Dodi, Ruri dan Ani.
"Waah...oleh oleh..dari Eropa..?, ya mbak..," tanya Ruri.
Meytta mengangguk.
"Yeiii..!!," teriak semua orang dengan kesenangan.
"Yang itu..dari Eropa," kata Meytta sambil menunjuk tas tas kantong yang lumayan besar.
"Tapi yang ini..dari sini aja."
"Ini di makan di sini... terus yang itu di bawa pulang buat oleh oleh orang rumah..biar merasakan makanan kecil khas Eropa," kata Meyyta lagi.
"Yeiii.makash mbak..," teriak semua orang.
"Jangan terima kasih ke saya..kan yang beliin mas Bimo," kata Meytta sambil tersenyum senang.
"Oh..iyaa..makash..bos Bimo, pak," seru mereka termasuk Adit.
Mereka akhirnya membuka bungkusan makanan lokal dan menikmati nya sembari melayani konsumen.
"Aku ke dalam dulu mau periksa pembukuan," kata Meytta kepada pegawai cafe nya.
"Ya.. mbak..sahut yang lainnya, namun Ruri yang biasa mencatat pembukuan mendampingi Meytta ke dalam ruangannya.
Bimo duduk di depan tempat order makanan, ngobrol dengan Dodi dan Iwan.
Ani berdiri di kasir dan Adit melayani konsumen di depan, mencatat pesanan dan memberesi perlengkapan makan bila sudah usai pelanggan menikmati makanannya.
"Gimana Bro..Cafe..?."
"Alhamdulillah..bos..terus mengalami peningkatan," sahut Dodi.
"Cuma kayaknya kita perlu menu Baru deh..," sahut Iwan.
"Setuju aku...tapi makanan khas kita jangan di tinggalin, karena itu adalah brand kita kalau perlu kita buat variannya," kata Bimo.
"Kemaren di Eropa...mampir di cafe nya enggak bos..?," tanya Iwan.
"Mampir lah..."
"Trus gimana.. bos, maksud nya kualitas menu dan harganya..?," tanya Iwan lagi.
__ADS_1
Bimo terkekeh..
"Jauh...banget.. maksudku.. katakanlah sama sama olahan pisang, kita kasih harga 15k satu porsinya disana 1jeti perporsi," sahut Bimo.
"Aaah..itu sih karena bos Bimo makan di restoran kelas dunia..," sahut Dodi.
"Iyaa siih ..emang."
"Tapi pokonya inti dari yang bisa ku tangkap kita perlu menambah varian menu dan juga sesuatu yang saling berkesinambungan maksudnya saling mendukung," terang Bara.
Dodi dan Iwan nampak mengangguk anggukkan kepalanya mendengar uraian Bimo.
Mereka berbincang di sana cukup lama, sambil menunggu Meytta yang masih nampak bekerja di ruangannya bersama Ruri.
"Mau aku buatin minum apa Bos..?," tawar Dodi.
"Kopi aja kali ya..," sahut Bimo.
"Kalau mbak Meytta mau minum apa ya...kopi..juga," sahut Dodi.
"Eeh..jangan kopi...enggak baik buat ibu hamil," kata Bimo keceplosan.
"Haah...mbak Meytta sudah hamil..?," teriak Ani yang ikut mendengarkan sambil tersenyum senang.
"Belum sih..harapan kami segera hamil..soalnya kadang kadang kayak orang ngidam." sahut Bimo kepada ketiga karyawan yang ada di situ.
"Enggak periksa bos..?," kata Dodi.
"Belum sempat.., mungkin nanti nanti kalau sudah sedikit senggang," sahut Bimo.
"Semoga aja bos..segera punya momongan nanti di ajak kesini, pasti aku gemeees banget..," teriak Ani yang malah kegirangan.
**
Meytta sudah keluar dari ruang kantor nya.
Mereka sudah berpamitan karena hari sudah makin malam.
Menuju parkir mobil dan melaju pulang ke rumah.
"Kok lama banget..?," tanya Bimo.
"Apakah ada masalah..?."
Bimo nampak khawatir dengan istrinya.
Meytta tersenyum, mendengar pertanyaan suaminya.
"Enggak kok mas... Alhamdulillah.. anak anak jujur jujur kok mas, kita cuma mencocokan data yang ada sama kwitansi nya," sahut Meytta.
"Syukurlah..kalau begitu," sahut Bimo sambil menyetir mobilnya pulang ke rumah utama.
"Kita mau langsung pulang apa mau kemana sayang..?," tanya Bimo kepada istrinya.
"kita cari makan yang anget anget yuuk mas..," ajak Meytta.
"Yuuk..," kata Bimo menganggukan kepalanya.
__ADS_1
"Mau makan apa sayang..?."
"Bakso..," kata Meytta sambil terkekeh sendiri.
Bimo pun juga tersenyum, batinya sudah menduga paling paling minta Bakso.
"Sebentar kita cari langganan mas Bimo, yang dahulu sering mangkal di jalan SS," kata Bimo sambil mengarahkan mobilnya menuju ke arah jalan SS.
Sampai di jalan SS yang merupakan taman kota itu masih banyak orang lalu lalang, padahal sudah mendekati jam sepuluh malam.
Namanya juga kota besar, hampir tidak ada tidurnya.
Di pojokan taman ada warung bakso yang lumayan ramai, namun jika di bandingkan jam jam sibuk malam itu bisa di bilang sepi.
Bakso Pak Tua begitu namanya, warung bakso tersebut.
Setelah mendapat tempat parkir yang dirasa cocok Bimo pun turun sambil menggandeng tangan Meytta.
Kebetulan lumayan sepi jadi Bimo merasa nyaman.
"Pak Bakso dua sama minumnya teh hangat saja dua," sahut Bimo kepada penjualnya.
"Teh nya manis apa tawar mas..?."
"Manis pak.."
"Siap mas," kata pak penjual bakso sambil tersenyum senang.
Tak butuh waktu lama bakso sudah di hidangkan.
Meytta yang memang pintar memasak mencicipi kuahnya.
"Syruup..," di kecap kecapnya lidahnya.
"Enaak mas.."
"Enaak banget..," kata Meytta lalu dengan lahap memakan Bakso tersebut.
"Iih... sambalnya jangan banyak banyak ....sayaang, ngerii mas Bimo lihatnya, entar mules lho...," kata Bimo khawatir karena melihat istrinya memasukkan sambal hampir lima sendok makan.
"Segeer kok mas," sahut Meytta kesenengan.
Mereka pun melahap Bakso tersebut hingga tuntas.
Setelah membayar bakso keduanya kembali ke parkiran mobil.
"Sayaang kayaknya kita perlu ke dokter deh...mastiin kamu hamil enggak..," kata Bimo.
"Nanti aja mas kalau Mens ku terlambat, baru periksa," kata Meytta sambil memasuki mobil tersebut.
"Baiklah..mas Bimo ngikut kamu saja."
____________
**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...
Baca juga karya lainku..
__ADS_1
* Sang Pengacau
* Aku Lebih Mencintaimu**