
Malam itu adalah malam yang sangat membahagiakan bagi keluarga Adrian, anaknya yang dinyatakan hamil berarti bakal ada keturunan dari keluarga itu, sebagai penerus bagi keberlangsungan keluarga karena Meyta adalah anak satu satunya.
Mereka sudah kembali ke rumah sehabis periksa dan mencari makanan sesuai keinginan si ibu hamil.
"Kita menginap di sini berapa hari mas..?," tanya Meytta begitu keduanya duduk duduk di balkon kamar nya.
"Memang kenapa..?," sahut Bimo.
"Aku masih pingin di sini, di rumah ini," rengek Meytta
"Lusa mas Bimo sudah kerja... berangkat dari sini aja, jadi paling tidak kita seminggu di sini," kata Meytta dengan merajuk.
Bimo terdiam sesaat..seakan berpikir, sebenarnya hanya menggoda istrinya saja.
Karena berangkat dari rumah mertua juga tak masalah baginya.
"Nanti aku pijitin deh.."
"Cuma pijitin...? kata Bimo menggoda istrinya lagi.
"Memang mas Bimo mau apa lagi..?."
Bimo kemudian mendekati istrinya kemudian berbisik di telinganya.
Bluuuss....
Meytta tersipu mendengar bisikan suaminya.
"Kan kata Bu dokter sore tadi boleh..," sahut Bimo tersenyum jahil.
Meytta mengangguk kecil.
"Ok... kita menginap di sini seminggu," kata Bimo sambil tersenyum senang melihat istrinya mengangguk.
Mendengar mereka akan menginap seminggu di rumah mama Qonita Meytta senang sekali.
Kemudian memeluk suaminya.
"Terima kasih mas..Meytta seneng banget."
Bimo tersenyum sambil mengeratkan pelukannya.
"Kalau gitu aku mau bilang sama mama sekarang..," seru Meytta sambil melepaskan diri dari pelukan suaminya.
"Iissh..ini kan sudah malam..sayang.." sahut Bimo.
"Malam apaan sih..mas ...belum ada jam sembilan..lihat tuuh jam dinding."
"Lah...kok kita malah di sini..," kata Bimo yang tersadar.
"Ayuuk mas Bimo ikut keluar," sahut Bimo sambil berdiri dari tempat duduknya.
*
Keduanya turun dari lantai dua dimana kamar mereka berada.
"Kirain sudah pada tidur..," sapa papa Adrian yang masih menyaksikan tayangan hiburan di televisi.
"Belum pah.., masih ngobrol ngobrol tadi."
"Kirain tadi udah malam... eeh ternyata belum ada jam sembilan ," sahut Bimo sambil tersenyum geli sendiri.
Papa dan mama juga tersenyum mendengar perkataan menantunya tersebut.
"Besok mau balik ke sana jam berapa mas..?," tanya mama Qonita.
Meytta yang duduk di samping mama nya langsung menjawab.
"Kami mau di sini seminggu mah.."
"Apa..? yang bener..?," tanya mama Qonita dengan wajah kesenangan.
"Bener mah..Meytta masih pingin di sini," sahut Bimo menegaskan.
__ADS_1
Mama dan papa nampak sangat senang sekali mendengar mereka masih akan berada di sana.
"Mama seneng banget Mey..," kata mama Qonita memeluk anaknya .
"Meyta juga seneng mah..," sahut Meytta membalas pelukan mamanya.
Mereka akhirnya mengobrol dengan seru di ruang keluarga tersebut hingga larut malam.
*
Bimo dan Meytta sudah kembali ke kamarnya.
Setelah mengganti baju dengan baju tidurnya keduanya nampak masih berbincang sambil bersandar di kepala tempat tidur.
"Mas Bimo sudah beritahu mama Halimah hasil tadi kita periksa..?."
"Oh...iya..sayang.., aku malah lupa..belum beritahu mama," sahut Bimo.
"Ish..mas Bimo.., padahal mama Halimah sudah pesen terus lho."
"Iya besok pagi, sekalian mas Bimo mau beritahu mama..kalau kamu menginap di sini selama seminggu," kembali Bimo berkata.
"Ya udah kalau gitu kita bobok sekarang mas," kata Meytta sambil membenahi bantal yang tadi buat sandaran.
"Sayang...kamu lupa ya...," kata Bimo sambil tersenyum melihat istrinya yang sudah baring mau memejamkan mata.
"Apa..sih..mas..?."
"Yang tadi...janjinya..," kata Bimo tersenyum smirk.
"Janji yang mana sih mas..?."
"Beneran lupa apa pura pura lupa..?," kata Bimo masih dengan senyum smirk nya.
"Beneran Meytta lupa mas ..emang janji apaan..?," tanya Meytta yang benar benar lupa.
"Kalau gitu kita enggak jadi nginap di sini," sahut Bimo pura pura cemberut.
BYaaar..
"Ish..mas Bimo kok selalu ingat sih kalau masalah itu..," kata pelan Meytta sambil beringsut mendekat ke arah suaminya.
"Naaah..gitu dong..emang mau berdosa enggak mau layani suami," kata Bimo langsung memeluk istrinya yang sudah beringsut mendekat.
Meytta cuma terdiam menurut sambil kegelian karena suaminya sudah menciumi ceruk lehernya, tangannya sudah kemana mana seiring bibirnya mengabsen tiap jengkal dari tubuh istrinya.
Bimo kemudian mengambil remot lampu kamar dan mematikan lampu utama berganti lampu tidur yang temaram, lalu menyelesaikan kebutuhannya sebelum terlelap malam itu.
*
Pagi hari sebelum melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim, Bimo sudah mandi dan turun dari kamarnya.
"Lho mana..Meytta.. .mas?," tanya mama Qonita.
"Nanti mau sholat di kamar kok mah, Bimo ke masjid sama papa aja," jawab Bimo kepada mama qonita.
"Papa mana mah..?."
"Masih di kamar ambil peci."
Bimo menunggu sebentar hingga akhirnya papa Adrian memanggilnya.
"Ayuk..mas lewat gerbang belakang seperti biasanya..," kata papa Adrian sambil mengambil kunci gerbang belakang.
Keduanya akhirnya berangkat ke masjid lewat gerbang belakang seperti yang pernah mereka lakukan kemaren kemaren.
"Mas papa Haryo sama mama Halimah apa sudah di beritahukan tentang kehamilan Meytta ..?."
"Belum Pa.., rencana nanti habis dari masjid sekalian mau ijin nginap di sini seminggu," kata Bimo sambil melangkah mensejajarkan dengan ayah mertuanya tersebut.
Mereka berjalan sedikit tergesa karena iqomah sudah terdengar di kumandangkan.
*
__ADS_1
Sehabis dari masjid Bimo masih asyik merhatikan pak kang kebun yang masih memberi makan burung piaraan papa Adrian.
"Burung apaan ni..pak..," tanya Bimo.
"Oh..ini Murai ..tuan muda, kalau yang itu Kacer trus sebelahnya Poksay..," sahut pak tukang kebun.
"Ternyata banyak juga ya burungnya, kenapa kemaren aku enggak ngeh ya..," kata Bimo lagi pelan.
"Kan tuan muda jarang kesini jadi tak terlalu merhatiin kali..," balas pak kang kebun.
"Iyaa...kali.."
"Oh..iyaa.. sebentar ya pak, aku masuk dulu," sahut Bimo yang baru teringat mau menelpon orang tuanya.
Bimo berlari menuju kamar Meytta yang kini jadi kamarnya juga.
"Ngapain sih mas kok tergesa gesa..?," tanya Meytta.
"Sebentar ya sayang..," hanya itu jawaban Bimo kepada istrinya yang nampak keheranan.
Meytta hanya menggelengkan kepalanya sambil berlalu menuju dapur, ikut membantu menyiapkan makan pagi.
Begitu sampai di kamar Bimo langsung menyambar ponselnya.
tut. tut....tut....
Bimo memencet tombol Ponselnya berniat memghubungi mamanya.
Tak berapa lama telponnya di angkat mama Halimah.
"Assalamualaikum...," sapa Bimo.
"Waalaikumssalam..ada apa mas..?," tanya mama Halimah.
"Mau kasih kejutan ke mama," sahut Bimo sambil rebahan di kasurnya.
"Berita apa lagi..?."
"Lho kok berita apa lagi sih..mah.."
"Iya...mama tanya ada berita apalagi..," sahut mama Halimah tersenyum.
"Tentang calon cucu mama," kata Bimo antusias.
"Mama sudah tahu..," kata mama Halimah tertawa.
"Haah...mama sudah tahu..?."
"Iya..barusan Meytta yang kabari mama..," kata mama Halimah nampak gembira.
"Issh...kok Bimo enggak di beritahu kalau Meytta sudah teelpon mama sih..," seru Bimo sedikit cemberut.
"Yaa..karena kamu enggak cepetan ngabari mama," sahut mama dengan enteng.
"Yaa. .Bimo kan sholat dulu mah," kata Bimo beralasan.
"Meytta sudah minta ijin mama sekalian kalau mau nginap di sini seminggu. .?," tanya Bimo lagi.
"Sudah...," sahut mama Halimah.
"Oh..," sahut Bimo merasa keduluan istrinya.
"Ya.....udah kalau gitu mah, Bimo tutup dulu telponnya ya mah."
"Assalamualaikum."
"waalaikumssalam..," balas mama sebelum telpon nya di tutup.
_____________
**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...
Baca juga karya lainku
__ADS_1
* Sang Pengacau
* Aku Lebih Mencintaimu**