Jagoanku Ternyata CEO

Jagoanku Ternyata CEO
185. Berdamai


__ADS_3

Meytta masih mengusap rambut suaminya dan terus mengajak bercerita.


hatinya terasa perih melihat suaminya tampak lemah dengan beberapa alat bantu yang menempel di tubuhnya.


"Cepat sembuh..sayang....kami semua merindukanmu seperti dulu..," kata Meytta sambil menggenggam tangan Bimo menciumnya kemudian menempelkan tangan suaminya ke pipinya.


Bu Siti yang berada di belakang Meytta turut menitikkan air mata nya.


"Sabar ya non..mas Bimo pasti sembuh..."


"Mas Bimo orang yang kuat..," kembali Bu Siti berkata sambil memijat mijat kaki Bimo dan menenangkan Meytta.


"Terima kasih Bu Siti..," sahut Meytta.


*


Sementara itu di luar teman teman dari Dojo terlihat berdatangan.


Meytta hanya bisa menemui sebentar kemudian kembali ke ruang ICU menunggu di samping Bimo di rawat.


Andre akhirnya yang menemui teman teman Dojo.


"Saya atas nama tuan Bimo Aryoseno Perwira Atmaja dan keluarga sangat berterima kasih atas kehadiran teman teman dari Dojo."


"Mohon maaf buat teman teman saat ini belum bisa menjenguk ke dalam di karenakan belum memungkinkan," kata Andre yang mewakili pihak keluarga untuk menemui teman teman Dojo.


"Kami menyadari itu pak Andre..semoga bos Bimo segera lekas sembuh dan berkumpul lagi dengan kita," balas bang Fachri mewakili teman temannya.


Begitupun dengan teman teman kampus dan cafe semua di temui oleh Andre, semua menyadari hal itu.


*


Hari itu Bimo belum menampakkan tanda tanda akan sadar dari keadaan koma nya.


Banyaknya kehilangan darah, paru paru yang tak berfungsi sebelah karena tertembak dan mengalami robekan, juga tembakan di perut yang mengenai ususnya hingga dilakukan pemotongan dan penyambungan kembali ususnya.


Semua itu menyebabkan operasi berjalan sangat lama hingga Berjam jam mungkin juga menjadi penyebab keadaan Koma nya Bimo.


Meytta masih setia di sana, membersihkan badan Bimo dengan telaten bila saatnya tiba bersama para petugas medis di ruang ICU tersebut.


"Mas.. Bimo....bangun mas...," begitu selalu yang di ucapkan Meytta bila sedang menungguinya.


Tetap mengajaknya berbicara karena ada yang bilang orang yang sakit dan koma masih bisa mendengarkan serta perlu di rangsang dengan bunyi bunyi suara meskipun itu hanya lewat radio.


Harapannya agar cepat mengembalikan kesadaran nya.


**


Hari itu adalah hari ke tujuh setelah Bimo di operasi.


Meytta sudah tak lagi menunggu di rumah sakit sejak dua hari yang lalu.


Dia akan datang pagi hari dan pulang sore atau malam.


Pak Joko dan Bu Siti lah yang kini sering menginap di rumah sakit, mereka akan pulang jika pagi hari saat Meytta datang bersama mama Halimah maupun mama Qonita.


Dari pagi Meytta sudah berkemas, membawa bekal dan perlengkapan yang dibutuhkan selama di rumah sakit.


"Kamu berangkat dulu ya Mey...mama nanti menyusul ," kata mama Qonita karena semenjak Bimo sakit dan di rawat Meytta memutuskan kembali ke rumah orang tuanya.


"Iya ma..," sahut Meytta sambil menata barang yang akan di bawa nya.


Setelah semua tertata Meytta pun berangkat ke rumah sakit.

__ADS_1


Sengaja Meytta menyetir sendiri mobil nya karena biar tak tergantung dengan sopir bila mau pulang kapanpun.


"Pah..mah..Meytta ke rumah sakit dahulu," pamit Meytta kepada kedua orang tua nya.


"Ya hati hati..," sahut papa Adrian dan mama Qonita.


"Assalamu'alaikum.."


"Waalaikumssalam ..," balas papa dan mamanya.


**


Meytta sudah sampai di rumah sakit.


"Pagi Bu Siti pak Joko.. assalamualaikum..," sapa Meytta.


"Eeh.. Non Meytta sudah datang ..," balas Bu Siti.


"Waalaikumssalam.." kata kedua suami istri tersebut.


"Pagi sekali Non datangnya..," sahut pak Joko.


"Iya pak...takut nya mas Bimo bangun Meytta enggak ada," sahut Meytta dengan sedih.


"Sudah...Non jangan sedih..mas Bimo pasti sembuh..," kata Bu Siti sambil mengusap lengan Meytta memberikan semangat.


"Aamiin ...Bu..semoga saja.."


Setelah sesaat berbincang dengan Bu Siti dan pak Joko keduanya akhirnya minta ijin untuk pulang istirahat di rumah.


"Non Bu Siti sama pak Joko pulang dulu ya..," pamit keduanya setelah dipastikan semua sudah beres.


"Ya..Bu .. pak.."


Sepeninggalan kedua orang tersebut Meytta masih nampak beres beres barang bawaan di ruang tunggunya.


Tok tok tok..


Meytta berjalan untuk membuka pintu ruang tersebut.


Cekleek..


Nampak Arlita berdiri di depan kamar Meytta.


Sesaat tejadi kekakuan di antara keduanya.


"Maaf..aku hanya ingin menjenguk Bimo..bolehkah...?," kata Arlita dengan ragu.


Meytta tersenyum.


"Mari masuk ke sini dulu....sekarang belum bisa karena belum waktunya bezuk..," ajak Meytta masuk ke dalam ruangan tunggu khusus keluarga tersebut.


Arlita masuk kedalam ruangan tersebut, kemudian duduk di kursi yang di arahkan Meytta.


"Aku minta maaf..jika beberapa waktu yang lalu selalu mengganggumu..," kata Arlita begitu sudah duduk.


Meytta hanya terdiam mengangguk sambil masih memberesi barang bawaan.


"Tak apa...aku sudah melupakannya..," sahut Meytta pelan.


"Bagaimana keadaan Bimo sekarang..?."


"Masih ..belum sadar," sahut Meytta.

__ADS_1


"Mungkin Tuhan masih mengujiku seberapa kuat aku menunggu mas Bimo..," sahut Meytta kembali.


"Ya...semoga kamu kuat..tak seperti aku dulu saat mengenalnya ..malah berpaling dari nya padahal hatiku selalu ada padanya..," sahut Arlita dengan pelan mengungkapkan perasaan yang terdalam.


Meytta terdiam memandang gadis di depannya, yang kini makin terlihat dewasa.


"Apakah sampai saat ini kamu masih menyukai suamiku..?."


Arlita mengangguk tapi dengan cepat berkata.


"Tapi kini aku sadar ..cintanya bukan untukku....tapi untuk mu.."


"Meskipun aku mencintainya ..tak bakalan aku bisa memilikinya...karena hanya ada kamu di hatinya dari dulu hingga sekarang....," kata Arlita pelan.


Meytta melihat jam dinding di ruang tersebut.


"Ini saatnya bezuk..aku mau menunggu suami ku..," kata meytta sambil beranjak berdiri.


"Bolehkah aku ikut ..menjenguknya sebentar..?," pinta Arlita.


Meytta mengangguk pelan.


Keduanya wanita cantik itu masuk ke dalam ruang ICU setelah sebelumnya memakai baju pelindung.


Keduanya sampai di dekat Bimo di rawat dan berbaring.


"Beginilah keadaan mas Bimo saat ini..," kata Meytta pelan.


Meytta dengan pelan mengusap rambut sang suami.


"Bolehkah...," kata Arlita sambil memandang Meytta, meminta ijin kepada Meytta untuk memegang tangan Bimo.


Meytta mengangguk.


Arlita memegang tangan Bimo, menggenggam nya sesaat.


"Cepat sembuh Bimo... kasihan istri dan juga calon anakmu..," kata Arlita sambil melihat ke arah perut Meytta yang sudah sedikit menyembul.


"Aku minta maaf bila selama ini sudah mengganggu kalian ..dan aku juga mau pamit untuk pergi ke luar negeri yang entah sampai kapan..," kembali Arlita berkata dengan sebuah bulir air di sudut matanya.


Meytta hanya terdiam di dekat suaminya sambil masih mengusap rambut nya.


"Terimakasih Meytta ..kau sudah memperbolehkan aku sejenak dengan orang yang aku cintai, meskipun itu bertepuk sebelah tangan," kata Arlita dengan tersenyum sedih.


"Semoga Bimo lekas sembuh seperti sedia kala..," kata Arlita dengan mengelus lengan Meytta.


"Dan kalian bahagia..."


"Terimakasih..," sahut Meytta sebelum akhirnya Arlita pamit kepada Meytta meninggalkan tempat tersebut.


Keduanya sudah keluar dari ruang ICU.


Saat itu mama Halimah baru datang dan memandang ke arah keduanya dengan heran, karena mama Halimah ingat betul dengan gadis yang bersama Meytta, beberapa kali membuat menantu nya cemburu.


"Pagi Tante..," sapa Arlita.


Mama Halimah mengangguk sedikit tersenyum, kemudian Arlita pamit meninggalkan tempat tersebut.


__________


**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...


Baca juga karya lainku

__ADS_1


* Sang Pengacau


* Aku Lebih Mencintaimu**


__ADS_2