Jagoanku Ternyata CEO

Jagoanku Ternyata CEO
82. Di kantor polisi


__ADS_3

Bimo mendengarkan laporan dari "pengawal bayangan" tentang penculikan yang terjadi.


Tanpa sadar Bimo menggebrak meja.


Braakk..!!


"Kurang ajaaaar..!, bagaiman bisa terjadi," gebrakan dan teriakan Bimo yang keras mengagetkan om Satya dan Andre yang ada di ruangan itu.


"Ada apa ..?," tanya om Satya dan Andre hampir berbarengan melihat kemarahan dan kecemasan di wajah Bimo, setelah telpon genggam di matikan oleh Bimo.


"Ada yang menculik Meytta..," kata Bimo kepada kedua orang itu.


"Meytta..? ," gumam om Satya dan Andre, sesaat kedua orang itu blank dengan nama itu.


"Meytta kekasihku.. anak pemilik PT KSAJ," kata Bimo lemah.


Om Satya dan Andre saling pandang mendengar penjelasan Bimo, ingatan mereka kembali setelah di ingatkan perkataan Bimo.


"Kita ke kantor polisi sekarang," kata om Satya memecah kebingungan di sana.


Bimo menganggukkan kepala seakan tersadar dengan usulan Om Satya yang memang banyak makan asam garam kehidupan.


Segera ketiga orang itu meninggalkan ruang Bimo dengan tergesa, mbak Diah dan staff sekertaris lainnya yang melihat pimpinannya itu keluar ruangan dengan tergesa ikut kaget.


Ingin mbak Diah menanyakan dan mengingatkan rapat nanti siang dengan perusahaan rekanan.


Tapi lambaian tangan Andre memberi kode untuk diam memaksa mbak Diah mengurungkan niatnya.


Sambil berjalan Andre menelpon sopir kantor karena mereka akan melakukan kunjungan resmi ke kantor polisi bukan sebagai individu melainkan sebagai pimpinan perusahaan GSB group.


***


Pak Adrian dengan di temani Pak Bandi meluncur ke kantor polisi di mana menangani kasus penculikan itu.

__ADS_1


"Selamat siang pak," kata Adrian kepada polisi yang bertugas di bagian penjagaan depan.


Setelah mengatakan siapa dirinya dan ada keperluan apa, kedua orang itu di antar ke ruangan pimpinan kepolisian setempat.


Tampak di sana sudah ada beberapa saksi mata yang menjadi saksi kunci.


Ketiga teman Meytta yang menjadi saksi juga sudah di periksa dan di mintai kesaksiannya.


Ketiga teman Meytta menghampiri Adrian dan menyalaminya.


Sama seperti Adrian yang masih terlihat sedih dan cemas, ketiga teman Meytta juga tampak sangat sedih bahkan Debora yang biasanya ceria masih nampak sesenggukan habis menangis.


Sedangkan dua orang "pengawal bayangan" juga sudah di mintai keterangan, namun mereka tidak mengatakan apapun tentang tugasnya dari Bimo.


"Saat saya sedang melintas di sana saya lihat lima orang nampak memaksa seorang perempuan untuk masuk mobil nya." kata dua orang itu kepada polisi yang meminta kesaksiannya.


"Kami ingin mencegahnya namun kami malah di pukuli pak ," kata dua orang bawahan Bimo itu kepada para penyidik di sana.


Setelah sampai di depan ruangan kepala polisi Adrian disambut langsung pimpinan polisi di sana.


Kedua orang itu masuk ke raung kepala kepolisian itu.


"Sebelum kami menyelidiki kasus ini ada beberapa hal yang akan kami tanyakan ke pada bapak sebagai orang tua dari korban," kata kepala polisi itu.


"Mungkin pernyataan yang bapak sampaikan bisa membantu mengungkap kasus ini," kembali kepala polisi itu berkata.


Adrian menganggukkan kepalanya kemudian menjawab semua pertanyaan dari kepolisian yang mungkin di butuhkan.


"Apa dalam waktu dekat dekat ini, bapak ada perselisihan dengan orang lain," tanya polisi penyidik.


Kemudian Adrian menceritakan berbagai permasalahan yang di alami perusahaan meskipun entah berhubungan apa tidak dengan kasus penculikan anaknya.


Setelah semua pernyataan di catat untuk pengambilan data data pendukung, Adrian di perbolehkan pulang.

__ADS_1


Terimakasih pak semua keterangan dari bapak dan beberapa saksi semoga bisa membantu memecahkan kasus ini.


"Saya ingin penculik anak saya segera di tangkap dan di tangani pak," kata Adrian yang sangat cemas dengan keselamatan anaknya.


"Kami berjanji akan menangani kasus ini sebaik baiknya pak, mohon laporkan pada kami setiap ada sesuatu yang menurut bapak mencurigakan."


"Jangan mencoba coba menangani sendiri setiap ancaman yang datang kepada bapak, seperti permintaan tebusan dan yang lainnya," kata kepala polisi itu berpesan kepada Adrian selaku orang tua dari korban penculikan.


Setelah beberapa saat di kantor polisi itu Adrian kemudian berniat kembali ke rumah untuk menemui istrinya yang mungkin belum tahu kejadian penculikan anakknya itu.


Dengan gontai dia melangkah menuju mobilnya dengan masih di dampingi oleh Bandi.


Begitu sampai di parkiran mobilnya, nampak sebuah mobil yang cukup mewah memasuki kantor polisi tersebut.


Adrian yang sudah masuk di mobilnya namun belum menjalankan mobilnya melihat mobil siapa yang barusan datang.


Nampaklah Bimo yang memakai pakaian rapi seorang direktur dengan di dampingi om Satya dan Andre keluar dari mobil itu.


"pak Bandi bukankah itu pak Satya dan pak Andre dari GSB group.?," tanya Adrian kepada Bandi.


"Benar pak, memangnya ada urusan apa mereka kemari..?," kata Bandi yang juga penasaran.


"Terus siapa pemuda itu, kayaknya saya kenal pak..?," kata Bandi lagi.


"Bukankah itu nak Bimo..?," kata Andre seakan tak percaya .


"Aah .ya ya...pak itu nak Bimo," kata Bandi membenarkan perkataan pimpinan perusahaan nya itu.


Pak Bandi yang menjadi sopir saat itu, menjalankan mobilnya meninggalkan area kantor polisi itu.


Menurut Adrian dan Bandi mungkin GSB group ada urusan di kantor polisi, dan masalah Bimo ikut rombongan itu saat itu tidak punya pikiran apapun, pikirannya masih kalut memikirkan penculikan anakknya.


__________

__ADS_1


**Selamat membaca...


Happy reading...jangan lupa dukung nya**....


__ADS_2