Jagoanku Ternyata CEO

Jagoanku Ternyata CEO
145. Takut terbang


__ADS_3

Malam kian larut semua sudah terlelap di pembaringanya masing masing, begitupun dengan Bimo dan Meytta, mereka sudah berbaring di kasur yang empuk dan mewah.


Tapi entah mengapa hingga larut malam Meytta masih nampak tak bisa tidur, gelisah dan membolak-balik kan badannya.


Meskipun pelan karena takut mengganggu suaminya.


Bimo yang berbaring di sisinya yang semula sudah mengantuk menjadi terbangun, merasakan kegelisahan istrinya.


"Kenapa sayang..?, kok belum tidur..?, sudah malam nih..," kata Bimo yang merasa istrinya nampak tak tenang.


"Aku kepikiran besok mas..?."


"Memangnya apa yang menggangu pikiran mu..?," tanya Bimo.


"Entah lah mas...aku belum pernah bepergian jauh sejauh besok ke Eropa," kata Meytta pelan.


"Sudahlah enggak usah cemas, sekarang tidur..ya," kata Bimo sambil memeluk istrinya.


Meytta merasa nyaman setelah di peluk suaminya, sehingga malam itupun akhirnya dia terlelap tidur dengan nyenyak di pelukan suaminya.


**


Pagi hari sesudah sholat subuh mereka kembali bersantai, berbincang dari hal remeh temeh sampai perbincangan sedikit serius.


"Mas aku kok nerves ya..nanti malam mau berangkat ke Eropa," kembali Meytta mengungkapkan pelan perasaannya kepada Bimo.


Meskipun pelan namun mama Halimah menangkap obrolan itu.


"Kenapa sayang..?," tanya mama Halimah sambil mengusap lembut lengan Meytta.


"Enggak usah cemas...kalian ini mau bulan madu sayang..harus bahagia..," kata mama Halimah lagi.


"Iya...mah...takut sedikit ..," kata Meytta sambil tersenyum malu malu.


"Apa..yang di takutkan..bukankah mama kemarin sudah bilang kalian nanti tinggal di apartemen sendiri, ada yang akan mengantar kemana pun kalian pergi dan itu orang kita, bukan orang baru yang terasa asing," kata mama Halimah panjang lebar.


"Kan ada mas Bimo..ngapain takut..," kata mama Qonita menguatkan anaknya.


"Namanya juga pergi ke tempat jauh Ma.., antara takut dan senang campur aduk," kata Meytta lagi.


"Sudah yang penting kalian nikmati waktunya...kalau tidak betah tinggal pulang saja.. gitu...aja...gak usah banyak pikiran," kata Papa Haryo mengurangi kekhawatiran anak dan menantu nya.

__ADS_1


"Boleh gitu.. pah.., maksudnya kalau aku home sick boleh langsung pulang..?," tanya Meytta.


Papa Haryo menganggukan kepalanya sambil tersenyum.


"Tapi papa yakin....begitu kalian di sana kalian pasti akan kesenangan bahkan enggan pulang," kata papa Haryo lagi.


"Iya.. Mey..begitu kamu sampai sana pasti enggak mau pulang." kata papa Adrian menggoda Meytta anaknya.


Semua yang di taman samping rumah akhirnya berpindah ke tempat makan ketika Bu Siti memberi tahu makan pagi sudah siap.


"Ayuuk kita pindah ke dalam, makan pagi kata Bu Siti sudah siap," ajak mama Halimah kepada semuanya.


**


Sore itu semua perlengkapan sudah di masukkan ke dalam mobil karena mereka akan mulai berangkat sebelum Maghrib.


Rencana nya mereka sholat Maghrib di bandara, karena boarding di mulai pukul 18.00 malam.


Bimo dan istrinya berangkat dengan di antar kedua orang tuanya menuju bandara internasional terbesar di negara tersebut.


Sebelum Maghrib mereka sudah sampai di bandara, mereka beribadah di musholla yang ada di bandara itu.


"Masih jam enam kurang kita sholat dulu aja,'' kata mama Halimah mengingatkan semuanya.


"Sudah mas Haryo sholat dulu aku tak disini menunggu barang bawaan," kata papa Adrian.


Papa Haryo bersama mama Halimah dan mama Qonita serta Meyyta sholat bersama sedangkan papa Adrian dan Bimo menunggu barang bawaan bersama kedua sopir mereka.


Setelah selesai baru gantian papa Adrian, Bimo dan kedua sopir yang melaksanakan sholat Maghrib berjamaah .


Selesai sholat ternyata belum ada jam 18.00 malam merekapun mampir di cafetaria yang ada di bandara tersebut sekedar minum kopi sambil menunggu waktu boarding pass.


Akhirnya waktu boarding pass yang di tunggu pun di mulai, Bimo mengajak istrinya untuk masuk dan berpamitan kepada semuanya.


"Hati hati..selamat bersenang-senang..," pesen mama Halimah dan mama Qonita.


Setelah mencium tangan para orang tua mereka masuk ke ruang tunggu setelah packing barang bawaan.


Begitu sampai ruang tunggu dan hanya mereka berdua tanpa Keluarga Bimo merangkul istrinya yang masih kelihatan tegang.


''Masih cemas .. sayang..?," tanya Bimo.

__ADS_1


Meytta hanya menganggukan kepalanya dengan tersenyum kecut.


"Mas aku sedikit takut terbang..," kata Meytta pelan, takut terdengar penumpang yang lainnya.


"Tak apa sayang, kita naik penerbangan terbaik dengan pesawat terbaik.. percayalah pasti kamu akan merasa nyaman," kata Bimo menenangkan Istrinya sambil mengusap pelan punggung nya.


Namun rasa cemas tak bisa di hilangkan begitu saja dari pikiran Meytta.


Bahkan Meytta masih mencengkeram keras lengan suaminya.


Bimo masih melingkarkan tangan kirinya di pundak Meytta, sedangkan tangan kanannya masih menggenggam tangan istrinya tersebut.


Makin mendekati keberangkatan pesawat makin membuat jantung Meytta berdebar kencang.


"Santai saja sayang....Ok, semua akan baik baik saja."


"Mas..aku makin deg degan.."


"Sudah bawa santai aja ya.."


Ting tong....


Pemberitahuan keberangkatan pesawat menuju Amsterdam sudah berkumandang.


Meytta makin tampak ketakutan, apalagi saat keduanya sudah masuk pesawat dan mulai duduk di kursi pesawat tersebut.


Namun Bimo dengan sabar menghibur nya hingga tanpa terasa pesawat sudah mengudara.


"Sayang lihat...tanah air kita," kata Bimo kepada Meytta.


Meytta tersenyum mulai hilang kecemasan nya.


"Makasih mas...sudah menghiburku, aku tadi takut banget, apalagi saat pesawat mulai naik," kata Meytta jujur.


Bimo tersenyum sambil memeluk bahu istrinya, setelah instruksi boleh melepas sabuk pengaman.


_____________


**selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya..


Baca juga karya lainku

__ADS_1


*Sang pengacau


*Aku lebih mencintaimu**


__ADS_2