Jagoanku Ternyata CEO

Jagoanku Ternyata CEO
193. Periksa bersama Calon Opa-Oma


__ADS_3

Sebulan kemudian.


"Mah...papa sudah siap nih..," sahut papa Haryo yang nampak tidak sabaran.


"Sebentar to Pah...emangnya Meytta sudah siap..?."


Papa Haryo hanya nyengir saja.


"Kan yang mau kontrol.. Meytta..? bukan Mama...? kalau anaknya aja belum siap ngapain mama tergesa gesa..," sahut mama Halimah lagi.


"Papa enggak sabar mau lihat calon cucu papa...Mah.."


Mama Halimah tersenyum karena dia sendiri sebenarnya juga tidak sabar menunggu saat itu.


Keduanya masih menunggu anak dan menantunya yang masih dandan di kamar.


Bimo masih memeluk istrinya dari belakang saat Meytta masih merapikan bedah dan lipstiknya.


Mempermainkan perut istrinya yang mulai makin bulat.


"Iish..geli mas..," seru Meytta pelan.


"Habis kamu gemesin kalau kayak gini sayang..," sahut Bimo sambil tetap memeluk istrinya yang kini sudah mulai pakai baju hamil.


"Oau...," seru Meytta tiba -tiba.


Bimo menghentikan gerakan tangannya yang sedikit mengusap usap perut istrinya.


"Kenapa sayaang..? ," Bimo nampak khawatir.


"Dedek bayi mulai menendang mas..," sahut Meytta.


"Kok mas Bimo enggak ngerasa ya..?."


"Kan masih pelan mas..," sahut Meytta kepada suaminya.


Kembali Meytta mengoleskan bedaknya.


"Dah... siap..," gumam Meytta.


Bimo yang masih duduk di pinggir tempat tidur langsung berdiri begitu istrinya sudah selesai dandan.


Keduanya keluar dari kamar dimana disana mama Halimah dan Papa Haryo sudah menunggu.


"Kirain enggak jadi..," sindir papa Haryo pura pura cemberut.


"Habisnya mas Bimo gangguin Meytta.. terus pah," sungut Meytta.


"Udah..udah...kita berangkat entar keburu malam," sahut mama Halimah menengahi perdebatan kecil tersebut.


Pak Joko yang bertugas menjadi sopir sudah siap di deoan.


Kali ini papa Haryo sengaja memakai mobil mewah yang bongsor, karena biar semua merasa nyaman.


Mobil yang tempat duduknya tiga seat itu sudah di buka pintunya oleh pak Joko begitu melihat para juragannya sudah bermunculan.

__ADS_1


Pintu geser dari mobil tersebut sudah terbuka lebar.


"Papa sama Mama aja yang di belakang, kalian di tengah," kata mama Halimah.


**


Mobil sudah menyusuri jalanan menuju ke tempat dokter Puspita ahli kandungan tersebut membuka praktek.


Mobil pengawal nampak mengikuti dari belakang.


"Habis ini kapan lagi kita kontrol nya..?," tanya papa Haryo.


"Ya..paling telat sebulan sekali lah.. sampai lahiran nanti," kata mama Halimah.


mobil terus melaju membelah padatnya jalanan dengan para pengguna jalan yang lalu lalang tak karuan.


"Itu sudah dekat pak..., habis belokan itu ambil kiri aja...nanti kalau lurus malah padat kalau jam segini," sahut Bimo kepada pak Joko.


''Iya..mas..,"


"Lho..katanya tadi Bu Siti mau ikut kok enggak jadi..?," tanya Bimo kepada pak Joko.


"Iya...tahu tuh mas..tiba tiba enggak jadi, mau mengawasi dapur katanya...," sahut pak Joko.


"Nah..yang itu rumah nya pak...kita masuk saja, tapi para pengawal parkir di pinggir jalan saja.. takutnya penuh nanti di dalam," kata papa Haryo sambil menghubungi para pengawal menggunakan alat komunikasi khusus.


Pak Joko mengangguk dan membelokkan mobilnya memasuki halaman rumah dokter puspita SpOG.


Kedatangan mobil mewah itu cukup menarik perhatian para pasien yang periksa di sana.


"Kalian tunggu di sini..kami akan masuk," kata tuan Haryo.


**


Mereka sudah berada di ruang periksa dr Puspita SpOG.


Meytta sudah tiduran di tempat tidur periksa.


Alat USG 4D sudah siap di samping tempat tidur dimana Meytta di periksa.


Setelah memberi jell dr puspita mulai menggerakkan probe alat pemindai USG tersebut.


"Ini ..mas Haryo dan jeng Halimah bisa lihat calon cucu kalian...," kata dokter Puspita sambil menunjuk ke arah layar monitor.


Papa Haryo dan mama Halimah nampak sangat senang.


"Waah...gerakan nya aktif sekali..jangan jangan cowok ni..cucu Opa," sahut papa Haryo yang tak bisa menyembunyikan rasa gembira nya.


"Mau cowok atau cewek yang penting sehat..," sahut mama Halimah sambil tersenyum.


Bimo dan Meytta juga tak bisa menyembunyikan rasa gembira nya.


"Sudah mulai merasakan gerakannya kan mbak Meytta..?," tanya dokter puspita SpOG.


"Iya... Tante..," sahut Meytta sambil mengangguk.

__ADS_1


"Kadang hingga terasa geli ..," kata Meytta lagi.


Setelah selesai pemeriksaan mereka mengobrol sejenak disana.


Dokter Puspita menerangkan segala pantangan dan menganjurkan apa yang boleh di kerjakan, termasuk juga memberikan penjelasan tentang makanan dan banyak hal mengenai kehamilan.


Malam itu papa Haryo dan mama Halimah sangat senang dengan pemeriksaan tersebut.


**


Pagi hari mereka menikmati makan sambil sedikit berbincang.


"Pah..jangan lupa Sabtu pagi kita ada acara penting loh..," kata mama Halimah.


"Acara apa..?," tanya papa Haryo.


"Andre mau lamaran.."


"Oh..iya.. Masya Allah papa hampir saja lupa.."


"Jam berapa acaranya Bim..?."


"Jam sembilan pah.."


"Sebenarnya mau dilakukan di rumah si Rani, tapi karena sempit acara di lakukan di masjid Baitul Janah di depan gang menuju rumah Rani," sahut Bimo.


Papa Haryo menganggukan kepalanya mendengar perkataan anaknya.


Mereka melanjutkan makan pagi tersebut dengan berbincang ringan.


"Mas Bimo pulang jam berapa nanti..?," tanya Meytta.


"Habis ashar mungkin, karena nanti sehabis dhuhur ada ketemuan dengan perwakilan dari kepulauan yang akan melaporkan pembangunan pabrik di sana."


"Besok kalian mau langsung pulang kemari apa ke tempat mama Qonita..?," tanya mama Halimah.


"Rencana sih menginap di sana mah.., kan udah deket sama rumah sana," sahut Bimo.


"Ya..udah kalau begitu kita pakai mobil masing masing," kata papa Haryo.


Bimo mengangguk mendengar perkataan papa nya.


"Siapin aja baju bajunya mulai sekarang sayang..biar besok enggak tergesa-gesa," kata Bimo kepada istrinya.


Meytta mengangguk.


____________


**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...


Baca juga karya lainku....


* Sang Pengacau


* Aku Lebih Mencintaimu**

__ADS_1


__ADS_2