
Mereka kini sudah berada di dalam mobilnya dengan dua pengawal yang berada di kursi depan.
Meytta masih saja cemberut, jika mengingat gadis yang nampak genit menggoda suaminya itu.
"Dasaar perempuan menyebalkan."
Bimo yang duduk di samping Meytta tahu jika istrinya masih jengkel dan mencoba untuk menghibur nya.
"Sayang..."
"Emm.."
"Mau mampir beli rujak es krim enggak..?."
"Enggak..!," jawab Meytta masih dengan cemberut memainkan jari jemari nya saling meremas.
"Beneran..?," kata Bimo lembut.
Meytta hanya diam, pandangan matanya menatap ke arah luar jendela.
Kilasan bayangan wanita penggoda kembali menghampirinya pikirannya.
"Heii.. Meytta... kamu itu.. kenapa sih..?, memangnya suamimu selingkuh..? tertarik dengan jalang penggoda..? tidak kan..? " pikiran Meytta bergejolak sendiri membuat Meytta tersadar akan sikapnya yang salah, telah mengacuhkan suaminya.
Mobil masih melaju dengan tenang hingga hampir mendekati tempat mangkal kang rujak eskrim.
"Bener nih..enggak mau..?."
"Nanti sampai rumah kepikiran loh..," goda Bimo sambil merangkul istrinya dan di usap usapnya pelan.
"Mau mas..," kata Meytta pelan akhirnya.
Bimo tersenyum melihat istrinya yang sudah mau bicara lagi.
"Pengawal kita berhenti di tempat rujak, minta dua porsi cup rujak eskrim," perintah Bimo.
"Baik tuan.."
Meytta nampak tersenyum.
"maafkan Meytta ya mas," sahut Meytta sambil menyandarkan kepalanya di dada sang suami yang kini mencium pucuk kepalanya.
"Maaf kenapa..?," Bimo pura pura tak tahu sambil menggoda istrinya.
"Aku cuekin mas Bimo..gara gara perempuan tadi..," kata Meytta lagi makin menenggelamkan kepalanya di pelukan suaminya.
"Aku takut mas Bimo tergoda gadis seperti tadi..," jujur Meytta berkata sambil mengambil lengan suaminya untuk di peluknya.
__ADS_1
Bimo tersenyum mendengar ungkapan hati istrinya.
"Kamu tahu bedanya kamu dan wanita seperti tadi..?."
"Bagai langit dan Bumi.."
"Kamu menerima mas Bimo apa adanya saat itu.., saat mas Bimo sangat susah dalam ujian papa dan mama.."
"Kamu juga sudah banyak berkorban dan setia dengan mas Bimo, mengurus mas Bimo saat sakit."
"Kini saatnya mas Bimo ganti menjagamu..dari semuanya..tak usah khawatir untuk hal hal sepele semacam tadi..," kata kata panjang.. Bimo sampaikan kepada istrinya sambil mendekap dan mencium pucuk kepala istrinya.
Meytta mengangukkan kepalanya mendengar perkataan suaminya yang memenangkan hatinya.
Dua pengawal sudah berjalan kembali ke arah mobil dengan membawa dua cup besar rujak eskrim.
Keduanya memasuki mobil di kursi depan laku melajukan mobilnya menuju jalan menuju rumah papa Adrian.
**
Mama qonita yang masih berada di ruang tengah nampak masih menikmati acara televisi sedikit lega begitu mendengar suara deru mobil memasuki pekarangan rumahnya.
Meskipun tragedi peristiwa yang menantunya alami sudah hampir sekitar lima enam bulan berlalu tapi masih saja menimbulkan trauma tersendiri jika anak dan menantunya tak kunjung pulang dari bepergian.
"Mama khawatir kalian kok lama sekali..?," sahut mama Qonita menyambut keduanya sambil tersenyum lega.
"Kapan kapan mama ikut..," kata mama Qonita menyahut omongan anaknya.
"Boleh mah..besok kita belanja lagi sehabis tujuh bulanan," kata Bimo sambil memerintah kan kedua pengawalnya membongkar belanjaan dan membawanya ke dalam.
Mama qonita tersenyum mendengar perkataan menantu nya tersebut.
"Memangnya kalian nanti mau lahiran di mana..?," tanya mama Qonita.
"Masih bingung mah..., tapi mama Halimah pinginnya Meytta lahiran di sana," sahut Meytta sambil terus berjalan masuk ke dalam ruang keluarga setelah meminta eskrim rujaknya dari pengawal.
"Lah terus ini kok beli banyak perlengkapan bayi disini."
"Ya biar nanti kalau mau kesini enggak bawa bawa barang banyak mah..," sahut Meytta lagi.
**
Rani masih menata aneka makanan rumahan olahan Mamak juga Emak serta dirinya tadi.
"Awas.. panas..," seru Rani memperingatkan semuanya saat dia memindahkan sayur sup panas ke meja makan.
Nissa dan putri juga membantu kakak iparnya menata meja makan.
__ADS_1
Di meja makan itu hanya ada empat kursi, jadi mereka memutuskan mengambil tikar yang kebetulan di bawa dan masih ada di mobil.
"Panggil Babe sana Zal..," seru Emak kepada Rizal yang masih saja asyik nonton TV.
"Memangnya Babe ada di mana Mak..?."
"Tuh..masih di beranda depan melihat lihat halaman depan," sahut emak lagi.
Babe memang masih asyik mengelilingi rumah tersebut, melihat kira kira perlu di tanami apa supaya tidak nampak gersang.
"Be..makanan sudah siap..," seru Rizal sedikit berteriak kepada Babe.
"Eh. iya Zal..," sahut Babe yang masih berjongkok melihat dari dekat bunga bunga yang nampak sudah layu.
Babe masuk ke dalam rumah, semua nampak sudah menghadapi piring dengan lauk kesukaan masing masing.
"Babe kelamaan kami sudah pada ambil," kata Emak.
"Iya..enggak pa pa...," sahut Babe sambil berjalan ke belakang mencuci tangan di wastafel dapur.
"Waah...siapa nih yang masak..? banyak amat lauknya..?."
"Kita bareng bareng Be..," sahut Nissa yang kebagian goreng tahu dan tempe.
"Sudah Babe duduk di situ saja," sahut emak yang duduk di depan tv bareng mamak Sadur sambil makan dan menonton TV.
"Lah..Andre nya mana..?."
"Bang Andre masih di kamar atas Be..sudah Rani suruh turun masih aja belum turun turun..keburu pada lapar," sahut Rani sambil tersenyum.
Tak berapa lama Andre pun terlihat menuruni tangga.
"Lah..itu si Andre..sini makan bareng Babe di meja makan..," teriak Babe yang sudah menyenduk sayur Sop ke dalam piring nasinya.
"Iya..Be..," sahut Andre mengambil piring dan duduk di depan Babe setelah menyendok nasi dari rice cooker.
Rani mendekat ke suaminya untuk mengambil lauk tambahan.
"Sambelnya pedes loh Bang..jangan banyak banyak entar mules."
"Iya..neng.."
Keluarga tersebut nampak menikamati makanan yang di masak ramai ramai tersebut meskipun hanya masakan rumahan dengan menu sayur sop dengan lauk ayam serta tahu tempe dan sambal.
__________
Happy reading...
__ADS_1