
Sehabis Maghrib Bimo dan papa Adrian malah duduk duduk di masjid, karena banyak orang orang yang menyalami kemudian berkenalan bagi yang belum mengenal Bimo.
Mereka semua mengajak ngobrol di beranda masjid tersebut.
"Mas Bimo kapan datangnya..?," tanya pak RT kepada Bimo, pak RT juga salah satu saksi di penikahan Bimo.
"Siang tadi pak..habis kerja terus kesini, soalnya istri sudah kangen sama papa mama di sini," jawab Bimo sambil tersenyum menanggapi bapak bapak di sana.
"Waah..mas Bimo ini enak ya..di sini anak tunggal di sana juga anak tunggal pasti banyak yang menyayangi dan memgangeni," kata pak Beno yang juga menjadi salah satu saksi pernikahan, dari perwakilan warga sekitar itu.
"Aaah...bapak bisa aja..semua orang pasti ada enak dan enggaknya pak.. pokoknya semua di syukuri aja." kata Bimo tertawa menjawab perkataan pak Beno yang baginya terasa lucu.
Papa Adrian juga hanya tersenyum mendengar guyonan para tetangga.
"Nanti pasti rumah pak Adrian tak lagi sepi kalau sudah ada anak anak mas Bimo dan mbak Meytta," goda para tetangga di sana.
"Doakan aja ya bapak bapak..biar saya cepat dapat gendong cucu sudah pingin banget..," kata papa Adrian dengan tersenyum senang membayangkan cucu cucunya kelak.
"Aamiin pak, semoga mas Bimo dan mbak Meytta cepat di beri momongan," bapak bapak di sana nampak mengamini perkataan papa Adrian.
"Aamiin..," sahut papa Adrian dan Bimo bersamaan.
Semua yang di sana bergurau dan bercanda bahkan hingga adzan isya di kumandangkan.
"Sudah..ah..sudah adzan isya ..ayo bapak bapak sholat sunah dulu..," pamit papa Adrian yang juga membubarkan kerumunan itu.
Setelah melaksanakan sholat isya, papa Adrian dan Bimo berpamitan kepada para tetangga untuk pulang ke rumah.
"Main mainlah ke kampung mas Bimo, kalau pas berkunjung ke sini," kata bapak bapak di sana.
"Iya pak makasih, pasti saya akan main main ke sini bila pas pulang," sahut Bimo sambil berpamitan.
Kemudian papa Adrian dan Bimo pun pulang ke rumah lewat gerbang belakang kembali karena lebih dekat tidak memutar.
"Tumben papa bablas nunggu di masjid dari sholat Maghrib sampai sholat isya..?," tanya mama Qonita.
"Iya ..tadi sebetulnya mau pulang, malah bapak bapak ngajak ngobrol mas Bimo...ya..kita enggak enak kalau ninggalin."
"Sekalian aja papa nongkrong di masjid, lagian papa juga ingin mengenalkan menantu kita ke para tetangga," kata papa Adrian sambil tersenyum senang, sudah lama sebenarnya papa Adrian ingin punya anak lelaki yang bisa di ajak ke masjid seperti saat ini.
"Ya..sudah, papa segera ganti baju sebentar lagi makan malam," kata mama Qonita.
Bimo yang langsung ke kamar nya mendapati istrinya masih duduk di meja rias sehabis mandi.
"Mandi kok ya...malam malam, nanti malah pilek gimana..?" kata Bimo khawatir sambil mencium pipi istrinya.
__ADS_1
"Habisnya udaranya panas mas..rasanya gerah banget, sore tadi sih udah mandi, tapi karena gerah jadi mandi lagi..," jawab Meytta sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.
"Mas Bimo kok lama ke masjid nya..?."
"Iya ..habisnya tadi pas di masjid ketemu bapak bapak para tetangga dan di ajak ngobrol, sampai datang waktu sholat isya..."
"Ooh..kirain malah jalan jalan ke mana gitu, sama papa," sahut Meytta.
"Emang jalan kemana.. sayaang..," kata Bimo lagi.
"Tau..mungkin ke teman teman kampung papa."
"Enggak kok sayang..tadi dah ketemu sama tetangga di masjid, makanya itu pas mau pulang....mereka pada ngajak ngobrol terus.. tak enak lah bila main pulang aja...jadi deh kita ngobrol di beranda masjid."
Keduanya masih mengobrol di kamar hingga..
Tok..tok.. tok...
Meytta membuka pintu.
Cekleek..
"Non makan malam sudah siap, ibu dan bapak sudah menunggu di meja makan..," kata bi Ijah.
"Iya..bi... makasih... sebentar lagi kami turun," sahut Meytta.
Setelah papa Adrian berdoa mama kemudian mengambilkan papa nasi serta lauknya.
"Mas Bimo mau sama lauk apa..?," tanya Meytta yang sudah mengambilkan nasi untuk suaminya.
"sama udang goreng bumbu kecap terus di kasih sayur sedikit," jawab Bimo.
Keluarga itu makan dengan suasana yang nyaman dan penuh kekeluargaan.
Tampak sekali kegembiraan di raut wajah papa dan mama dengan kedatangan anak dan menantu nya tersebut.
**
Di tempat lain, di kediaman keluarga Hartono di liputi dengan kegelisahan, terutama yang paling gundah adalah Hartono pribadi.
Karena berdasarkan laporan lawyer nya di persidangan, semakin lama semakin membuat posisinya terancam dan berujung ke arah menjadi tersangka bukan lagi terlapor maupun saksi.
Hartono nampak duduk di kursi ruang tamu nya yang mewah, sedangkan para tim lawyer berdiri di depannya dengan menunduk.
"Aku sudah membayar mahal kalian..tapi apa balasan kalian kepada ku..?," bentak Hartono dengan sangat marah.
__ADS_1
"Maaf tuan kami sudah berusaha sebaik baiknya," kata salah satu lawyer itu.
"Jangan hanya berusaha tapi dapatkan lah hasil terbaik."
"Maaf tuan kami akan mencoba melobi beberapa orang...," kata salah satu pengacara tersebut.
"Bagaimana caranya ..bukan urusan ku..karena aku sudah bayar mahal kalian..pokonya aku ingin memenangkan kasus ini," teriak Hartono lagi.
Suasana ruangan tersebut menjadi sangat mencekam karena memang beratnya kasus yang harus mereka tangani.
Tim lawyer juga sedikit pesimis dengan kasus yang di tanganinya karena mereka sadar siapa lawan mereka.
Karena berdasarkan bukti bukti memang klien nya yang salah, bahkan sebagaian bukti itu di temukan oleh pihak kepolisian.
Hingga larut malam mereka mengadakan pertemuan tersebut, membahas langkah yang harus dilakukan untuk memenangkan kasus tersebut.
"Kalian tahu ..siapa aku, karena aku tak suka dengan kekalahan."
"Aku akan menggunakan cara apapun untuk menghancurkan mereka."
"Dan kalian jangan coba coba menghindari ku, karena aku akan mengejar kalian jika kalian tak memenangkan kasus ini," kata Hartono.
Semua pengacaranya sudah tahu siapa Hartono, dahulunya Hartono adalah seorang bandit..preman yang sangat kejam dan akan melakukan segala cara untuk mencapai tujuan nya.
"Kami akan melakukan yang terbaik tuan," kata orang orang tersebut sebelum meninggal kan tempat itu.
Hartono hanya mendengus mendengar orang-orang nya pamit.
"Awas...kalian ....berani main main dengan Hartono..akan aku hancurkan kalian semuanya," batin Hartono dengan geram.
Sepeninggalan orang orang itu Hartono langsung masuk ke kamarnya, membuka laci lemari yang disana terdapat sepucuk pistol senjata yang selama ini di simpan nya.
Dielusnya senjata itu sambil tersenyum dengan menakutkan.
" mungkin aku harus menggunakan pistol ini lagi."
Malam makin larut dengan bermacam cerita bagi para penduduk bumi ini.
___________
**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...
Baca juga karya lainku
*Sang Pengacau
__ADS_1
* Aku Lebih Mencintaimu**