Jagoanku Ternyata CEO

Jagoanku Ternyata CEO
177. Makin posesif


__ADS_3

Meytta masih menikmati rujak es krim di ruang kantor butiknya.


"Waah.. Alhamdulillah...pemasukan bulan ini lumayan banyak bulek," kata Meytta.


"Iya..non Alhamdulillah..., hampir tiap hari mobil parkir seperti ini."


"Omzet nya naik empat ratus persen bulek dari awal tahun ini..," kata Meytta lagi yang masih meneliti pembukuannya sambil masih menyantap es krim nya.


"Sejak kapan bulek merasakan peningkatan konsumen di sini..?," tanya Meytta.


"Mmm..Kayaknya habis non Meytta kesini sama Nyonya ibunya tuan Bimo itu .. beberapa hari mulai deh banyak mobil mobil kemari," kata bulek parmi.


"Oh..iya..aku ingat...waktu itu mama Halimah mau promosi kan hasil rancangan dari butik kita...kepada teman teman sosialita nya..,"


"Oh..ya..bener non..waktu itu bulek pernah tanya tanya kepada seorang konsumen yang terlihat orang kaya."


"Saat itu bulek tanya darimana beliau bisa tahu butik Cantika, terus beliau bilang dari rekomendasi temannya..eeh..disini beliaunya borong borong..soalnya katanya murah banget dengan kwalitas yang tak kalah sama butik kelas atas," kata bulek parmi dengan antusias bercerita.


Meytta sangat senang mendengar hal itu.


"Besok aku mau buat rancangan yang lebih bagus lagi, kan aku pas ke Paris beli aneka majalah mode yang bisa aku jadikan inspirasi untuk karya karya ku," sahut Meytta dengan semangat.


"Waah..bulek senang sekali non ngedengarnya..," balas bulek parmi.


Mereka terus mengobrol membahas perkembangan butik yang kian berkembang.


"Untuk ketenagaan nya bagaiman bulek..?," tanya Meytta.


"Sementara ini sih masih bisa kami atasi berlima non, ya cuma..sedikit sibuk sih..tapi bila situasi masih seperti ini..tambah satu orang mungkin lebih baik..non," kata bulek parmi.


"Ya coba nanti ..kita hitung hitung lagi..mau nambah karyawan dengan gaji tetap, .. atau segini aja tapi naik gaji..coba nanti bulek tolong tanyakan kepada teman teman," perintah Meytta kepada bulek parmi.


"Siap non.. nanti kita akan membahas nya bila kondisi sudah memungkinkan," jawab bulek parmi.


"Eeh..ngomong omong..mas Bimo kemana ya.. bulek..?," tanya Meytta yang menyadari suaminya tak ada di sekitarnya.


"Oh..tuan Bimo duduk duduk di depan, sambil bercanda dengan pak Kesot tukang parkir jalanan ini non."


"Apa mau saya panggilkan kemari non..?."


"Nggak usah deh bulek...biar aja mas Bimo..di luar, kalau udah ada teman ngobrol nya, dari pada di sini malah bosen nungguin aku memeriksa pembukuan."


Bulek parmi hanya tersenyum saja mendengar perkataan pemilik butik tersebut.


**


Bimo masih duduk di kursi yang biasa buat mangkal pak Kesot.


Sebuah mobil memasuki halaman butik yang baru saja di tinggalkan oleh konsumen yang sudah selesai bertransaksi di butik itu.


Nampak turun dua orang perempuan yang satu sudah paruh baya yang satunya masih muda dengan pakaian yang lumayan modis.

__ADS_1


Gadis tersebut memandang Bimo sejak dari dalam mobil sebelum berhenti parkir, hingga turun dari mobilnya, bahkan saat si wanita paruh baya memasuki butik gadis itu masih saja menatap Bimo.


Bimo hanya cuek saja tak merespon nya, malahan kembali asyik mengobrol dengan pak Kesot yang kembali duduk di sebelah nya setelah barusan memberikan aba aba kepada mobil konsumen.


"Waah..lumayan juga parkirannya ya pak..," tanya Bimo.


"Banget..bos.. Alhamdulillah..saya kecipratan rezeki dari butik ini," kata pak Kesot.


"Dapat berapa pak sehari hari nya..?."


"Kalau ramai gini bisa duaratus hingga tiga ratus Bos, kan kalau motor cuma saya tarik dua ribu sekali parkir terus mobil tiga ribu meski kadang mereka ngasihnya lima ribu dan kadang nggak mau di kasih kembalian."


"Bahkan pernah pas malam minggu saya dapat lima ratus ribu dari pagi hingga malam," sahut pak Kesot sambil tersenyum senang.


"Yaa...semoga saja butik ini makin ramai..saya bisa numpang hidup di sini," kata pak Kesot sambil menengadahkan tangan nya berdoa.


"Aamiin..pak.. semoga rezeki istri dan anak saya makin melimpah," sahut Bimo.


"Loh...Nyonya Bos..sudah mengandung..?."


"Alhamdulillah..pak," sahut Bimo lagi.


Mereka asyik mengobrol sampai ada mobil di seberang yang hendak meninggalkan tempat parkir tersebut.


"Pak..!!," panggil pemilik mobil kepada pak Kesot sambil melambaikan uang tanda minta di kasih aba aba.


"Sebentar tuan Bos..pamit pak Kosim kepada Bimo."


Saat pak Kesot masih memberikan aba aba, sepasang perempuan yang habis berbelanja nampak keluar dari butik dengan membawa tentengan belanjaan.


Kembali gadis muda itu menatap Bimo, sedangkan ibunya kelihatan masih mengawasi situasi parkiran yang terlihat padat.


Bimo yang mengetahui akan kesulitan tersebut berdiri dan menghampiri.


"Silahkan ibu masuk nanti akan saya pandu dengan aba aba," kata Bimo sopan.


Wanita paruh baya itu menatap Bimo dan tersenyum cerah.


"Lho..mas Bimo..bener kan mas Bimo putra jeng Halimah..?," tanya Ibu tersebut yang rupanya teman sosialita mama Halimah.


"Saya tante Jolie...teman mama mas Bimo," kata wanita tersebut.


"Eeh...kenalkan anak saya Cindy," kata tante Jolie tersebut.


Gadis yang sudah mengagumi Bimo sejak tadi itu langsung mengulurkan tangannya mengambil tangan Bimo yang masih menggantung tak merespon.


"Cindy...," kata gadis itu sambil menggenggam tangan Bimo sedikit lama.


"Bimo..," kata Bimo dengan wajah datar.


"Silahkan tante masuk aja..nanti saya kasih aba aba," kata Bimo sambil berusaha mengusir gadis yang masih saja menggenggam tangannya.

__ADS_1


"Eh..I.iya..mas," kata gadis itu yang menjawab sambil meminta kunci mobil dari ibu nya.


Bimo hanya menghela nafas saja.


Akhirnya kedua orang tersebut memasuki mobil dan meninggalkan tempat tersebut.


Pak Kesot datang tergopoh-gopoh.


"Maaf tuan Bos..jadi merepotkan..," kata pak Kesot yang menjadi tak enak hati.


"Ha..ha..santai aja pak...," sahut Bimo sambil tersenyum dan meninggalkan tempat tersebut karena butik sudah sedikit longgar.


"Aku masuk dulu pak.., kayaknya sudah longgar tuh," sahut Bimo melangkah masuk ke butik.


Bimo masuk dan tolah toleh nyari istrinya.


"Mbak mana istri saya..?," tanya Bimo kepada pegawai butik.


"Non Meytta sudah kembali ke ruang kerjanya," sahut pegawai butik itu sambil tersenyum mengangguk sopan.


"Kembali ke ruang kerja nya..??," batin Bimo..sedikit heran.


"Loh..masih disini to..," kata Bimo sambil masuk ke kantor istrinya.


"Iya...habisnya pas keluar tadi ada yang sedang pegang pegangan tangan sama seorang gadis," kata Meytta sambil cemberut.


"Hadeeuhhh.."


"Sayang itu teman mama katanya ..dan anaknya, masak mereka memperkenalkan diri mas Bimo acuhin kan enggak enak," sahut Bimo.


"Bener..cuma kenalan enggak sampai tukar nomer HP," kata Meytta lagi.


Entah kenapa saat mulai hamil Meytta jadi sensi..dan makin posesif aja.


Bimo terkekeh..melihat keposesifan istrinya.


"Enggak lah...ngapain tukar nomer HP..kalau di rumah aja tiap malam udah ada yang melayani," goda Bimo kepada istrinya yang membuat Meytta jadi tersipu.


"Kalau udah selesai pulang yuuk," ajak Bimo.


Meytta bangun dari kursi nya dan menggandeng tangan suaminya.


"Mas Bimo enggak boleh macam macam...apalagi nanti aku hamil makin besar perutnya," kata Meytta sambil berjalan keluar.


"Cck..enggaklah."


_______________


**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...


Happy reading**....

__ADS_1


__ADS_2