Jagoanku Ternyata CEO

Jagoanku Ternyata CEO
206. Periksa Sebelum Melahirkan


__ADS_3

Kandungan Meytta makin hari kian membesar.


Bimo makin overprotektif, yang biasanya sangat sabar kini apapun yang menyangkut masalah istrinya dia pasti yang paling bawel.


"Sayaang mas Bimo kan sudah bilang jangan banyak bergerak nanti kamu kesakitan loh...pegel pegel kayak gini."


Bimo bergumam sambil mengelus dan mengusap punggung serta perut istrinya yang kian buncit tersebut.


"Ish..mas Bimo..ini, justru Meytta harus banyak olahraga seperti tadi mas, toh itu anjuran dokter, supaya nanti bisa lahiran lancar."


Meytta yang kini malah degan sabar menasehati suaminya yang kian overprotektif tersebut.


"Tapi kan jadinya begini, kaki kamu nih sedikit bengkak dan juga punggung kamu malah pegel pegel enggak karuan kan," masih saja Bimo ngeyel dengan pendapat nya.


"Enggak pa pa mas...demi baby boy aku harus kuat.," sahut Meytta yang malah mengelus rambut suaminya yang kini di rebahkan di pangkuannya setelah selesai mengelus perut istrinya.


Mama Halimah yang tingkah polah anaknya jadi geleng geleng kepala.


"Bim..istri mu yang harusnya bermanja manja malah kamu yang begitu, sekarang suka ribut.lagi.," kata mama Halimah melihat anak lelakinya kian aneh.


"Kadang khawatir berlebihan kadang manja kayak bocah..," kembali mama Halimah berkata.


Jika sudah mama yang menegur baru Bimo kembali seperti semula.


"Nanti sore jadi kan mah.?, kita periksa ke Tante Puspita ..?."


Tanya Bimo kepada mama nya, sambil kembali mengelus perut istrinya yang sedikit meringis karena Baby Boy menendang perut momy nya.


"Iya..jadi lah...ini malah Tante Puspita tadi yang ingetin mama."


"Seperti biasa kita nanti berangkat habis sholat ashar.."


Memang Meytta berencana untuk melahirkan di rumah sakit dimana keluarga papa Haryo menanam saham nya, nanti setelah beberapa bulan baru gantian boyongan ke rumah mama Qonita.


Hari ini Bimo sengaja pulang awal bahkan sebelum sholat dhuhur sudah berada di rumah karena ingin memeriksakan kandungan istrinya di trimester akhir.

__ADS_1


**


Sebelum jam tiga sore, papa Haryo yang juga masih sibuk sudah berada kembali di rumah utama.


"Papa siap siap aja deh..," kata mama yang melihat suaminya malah rebahan habis pulang ketemu relasi.


"Sebentar ma..papa mau istirahat dulu.."


"Apa papa enggak usah ikut saja, biar mama yang antar mereka berdua," kata mama Halimah yang melihat papa Haryo nampak lelah.


"Wah..papa ya harus ikut," sahut tuan Haryo dengan cepat bangun dari tidurannya.


Mama Halimah hanya tersenyum saja melihat suaminya yang tak pernah mau ketinggalan jika menyangkut calon cucunya.


"Ya..sudah papa mandi dulu biar segar sana," perintah mama Halimah kepada suaminya tersebut.


Papa Haryo langsung bergegas ke kamar mandi untuk mandi biar segar kembali badannya.


**


Kembali pak Joko yang mengantar keluarga tersebut ke dokter Puspita SpOG.


"Waah..tumben hari ini ramai banget arus lalu lintas nya," gumam Bimo sambil melihat ke luar jendela.


"Iya..mas..kan tanggal muda, banyak orang gajian jadi banyak yang bepergian."


Pak Joko yang masih menyetir menjawab gumaman dari Bimo.


Mobil masih melaju dengan kecepatan sedang, para pengawal masih mengikuti di belakang mobil yang nampak santai melaju.


"Mamah sudah janjian dengan dokter Puspita..?," tanya papa Haryo sambil memperhatikan padatnya jalanan.


"Sudah..lah..malahan pagi tadi Puspita yang mengingatkan mama."


Mama menjawab pertanyaan papa Haryo tersebut sambil membetulkan jam di tangan kirinya.

__ADS_1


**


Semua sudah berada di ruang dokter Puspita.


Degan alat USG dokter tersebut memeriksa kandungan Meytta yang sudah memasuki bulan bulan tua.


"Ni..kepala baby sudah masuk ke panggul, jadi sudah tak sejelas bulan bulan kemarin," kata dokter itu.


"Tapi secara keseluruhan baik baik saja, baik baby maupun momy nya," kata dokter itu lagi masing dengan fokus menggerakkan probe pemindai ke perut Meytta yang sudah di olesi gel pelumas.


"Syukur Alhamdulillah..jika semua baik baik saja," sahut mama Halimah dan papa Haryo sambil saling pandang.


Kemudian dokter itu kembali menjelaskan beberapa pantangan dan beberapa hal yang di anjurkan agar nantinya lancar dalam persalinan.


"Menurut pemeriksaan apakah istri saya bisa lahir normal apa harus operasi Tante ..?."


Bimo bertanya karena terlalu khawatir memikirkan bagaimana nanti proses melahirkan.


"Insha Allah..bisa normal mas, karena di usia sekian kepala bayi sudah masuk panggul, terus dari hasil USG 4D tak ada lilitan tali pusat."


Mereka berbincang bincang dengan leluasa karena memang jam praktek belum di buka.


"Terima kasih ya..Jeng sudah memeriksa menantuku," kata papa Haryo kepada dokter Puspita.


"Sama sama mas Haryo, aku sama istrinya mas Haryo kan sudah temenan dari dulu, sudah kayak saudara," kata dokter Puspita sambil tersenyum kearah keluarga tersebut.


____________


**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...


Terima kasih kepada para readers sekalian yang selama ini sudah mensuport karya ini hingga saat ini.


Terima kasih kepada semua rekan author yang sudah memberi masukan, dukungan serta suport nya.


Sekali lagi kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang tak bisa saya sebutkan satu persatu..

__ADS_1


Dalam beberapa Chapter lagi karya ini mungkin sudah akan berakhir..


Tunggu dan baca karyaku selanjutnya**...


__ADS_2