
Pagi itu Bimo berangkat ke kampus nya, seperti biasa dia kembali menjadi orang biasa bukan anak sultan.
Meskipun hanya berpakaian biasa bukan pakaian bermerk dengan harga jutaan bahkan ratusan juta, pesona Bimo tidak luntur.
Wajah tampan nya dan bodi atletis nya bahkan membuat pakaian biasa terlihat mewah.
"Aku membuat pakaian ini jadi tampak mewah," begitu gurauannya sesama anak kos, bila ada yang bilang tampan.
"Hai Bimo...," sapa teman temannya, terutama anak anak cewek kepada Bimo, saat berpapasan di kampus nya.
"Hai teman teman..," Bimo membalas setiap sapaan mereka dengan ramah.
Bimo berjalan menuju ruang kelasnya dengan sedikit tergesa, hari itu dia ada janji ketemu sama salah satu dosen di sana.
Saat Bimo berjalan tergesa sebuah teriakan memanggil namanya.
"Bimoo....!!"
sesaat Bimo menghentikan langkahnya, dia menoleh ke arah suara itu.
"Haiisss , ada apa lagi sih cewek matre itu," batin Bimo setelah tahu yang memanggilnya adalah Arlita dan teman temannya.
Dengan tersenyum manis dan menggoda Arlita menghampiri Bimo.
"Kamu masih marah ya..?," dengan manja Arlita menghampiri Bimo merangkul lengan nya.
Bimo menepis rangkulan Arlita dengan pelan.
"Maaf Arlita, aku gak mau pacar kamu jadi salah paham lagi," kata Bimo sambil sedikit menjauh.
__ADS_1
"Enggak kok Bim, aku sudah menjelaskan padanya ," jawab Arlita dengan mencoba merangkul tubuh Bimo.
Bimo menjauh,dengan mengangkat kedua tangannya, Bimo menghindari rangkulan itu.
"Maaf ya, aku ada perlu sama pak Rustam aku harus menyerahkan tugas kemarin."
Dengan cepat Bimo segera berlalu meninggalkan mereka bertiga.
Arlita hanya menatap sedih, jujur dalam hatinya berkata," sebenarnya jika dengan keadaan yang sama kaya, ia pasti memilih Bimo di banding Joni Arman pacarnya".
Kedua sahabatnya hanya mengelus pundak nya menenangkan Arlita.
"Sabar ya beib..., mungkin Bimo gak bisa jadi pacar rahasia mu," kata Dona.
"Apaan sih kamu.. ini," Yuke menyahut omongan Dona dengan sewot.
Bimo terus berjalan dengan cepat ke ruangan yang ingin di tuju, karena dia merasa telah terlambat akibat di tahan Arlita dan teman-temannya.
Karena tergesa gesa di sebuah belokan Bimo menabrak seseorang.
Bruuuuk..!!!
Dengan badan Bimo yang tinggi tegap, membuat orang itu terpental dan buku yang di pegangnya berhamburan.
"Maaf ..maaf bro ..", kata Bimo dengan segera.
"Gak pa pa men, santai aja ," kata pemuda itu sambil mengumpulkan buku-buku yang berceceran.
mereka bertatapan dan kaget terkejut.
__ADS_1
"Bimoo..!!".
"Andrree....!!"
Ternyata cowok itu sahabat masa kecil Bimo, mereka tertawa berangkulan.
"Kemana aja lu sih selama ini menghilang," kata Andre bertanya.
"Panjang deh ceritanya," kata Bimo.
"Kamu ada acara gak habis ini ?" tanya Bimo kepada Andre, dan hanya di balas gelengan kepala oleh Andre.
"Tunggu aku ya, sebentar aku akan menemui pak Rustam habis itu kita ngobrol," sahut Bimo dengan senang melihat sahabatnya itu.
Andre juga tampak senang dengan pertemuan tersebut, masih jelas di ingatannya dahulu semasa sekolah SMP hanya Bimo satu satunya teman akrab nya.
Andre hanya anak penjual gorengan yang miskin dan adiknya banyak sehingga secara ekonomi sangat susah, berkat kepintarannya saja dia bisa sekolah di sekolahan favorit.
Sedangkan di sekolahnya rata rata anak orang kaya, melihat dirinya yang anak orang miskin semua teman temannya menjauhinya terkecuali Bimo.
Sudah hampir setiap hari dirinya di traktir, bahkan semua bekal yang di makan Bimo selalu di bagi dengannya, makanya sewaktu kehidupan Bimo di kabarkan hancur Andre lah yang paling berempati.
Baginya Bimo adalah saudara sekandung nya.
_____________
**Selamat membaca dan jangan lupa like vote dan koment-nya
happy reading**.....
__ADS_1