Jagoanku Ternyata CEO

Jagoanku Ternyata CEO
76. Tiga Perusahaan tiga Masalah


__ADS_3

Bimo yang sudah ada di kantornya masih sibuk menandatangani beberapa berkas, menurut schedule dari sekertaris nya yaitu Mbah Diah, ada rapat nanti jam 10.00.


Setelah semua berkas berkas di tanda tangani, Bimo memanggil sekertaris nya untuk mengambil berkas itu kembali.


"Mbak berkasnya sudah selesai, silahkan di ambil kembali," kata Bimo lewat telpon di mejanya.


"Baik pak."


cekleek..


Pintu terbuka setelah sebelumnya mengetuk pintu.


Mbak Diah mulai mengambil berkas berkas tersebut dari meja direktur utama tersebut.


"Mbak habis ini tolong panggilkan om Satya dan Andre ke ruanganku."


"Baik pak."


Beberapa saat kemudian om Satya yang datang namun sendirian tanpa Andre.


"Pagi direktur muda," sapa om Satya begitu masuk ruangannya.


"Pagi om Satya," balas Bimo.


"Lho mana Andre..?,"


Bimo hanya menggelengkan kepala menanggapi pertanyaan om Satya tersebut.


"Saya kira sudah ada di sini anak itu, soalnya tadi belum datang di ruanganku," kata om Satya lagi.


"Iya nih ..om, tumben belum datang anak itu," kata Bimo sambil mencoba menghubungi nomor Andre.


Namun belum sempat memencet nomor nya Andre terdengar ketukan.


Tok..tok..


Ceklek...


Pintu di buka oleh Andre yang masih sedikit terengah-engah.


"Maaf terlambat," kata Andre sambil sedikit membungkuk kearah Bimo dan om Satya.


Bimo hanya mengangguk sedikit.


"Duduklah ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama kamu dan om Satya."


"Masalah apa itu..?," tanya om Satya serius.


Andre pun nampak serius sambil mendekatkan kursinya.

__ADS_1


"Bukan masalah perusahaan kita," kata Bimo yang melihat kedua orang di depannya nampak terlalu serius.


"Huft...," terdengar sedikit kelegaan dari Andre, mendengar masalah bukan dari perusahaan mereka.


"Memangnya masalah perusahaan siapa pak..?," tanya Andre.


Andre memang membiasakan bila di kantor tetap memanggil Bimo sebagaimana memanggil atasannya.


"Masalah PT KSAJ..., ternyata seperti yang sudah kamu dan om Satya duga penyebabnya memang dari PT ASA PRIMA."


"Penyebabnya adalah pimpinan dari PT ASA PRIMA ingin mengakuisisi perusahaan itu, dengan berbagai cara termasuk menjodohkan anak anak mereka."


"Namun rencana itu tidak berhasil, karena di tolak oleh pemilik dan juga anak dari pemilik PT KSAJ itu."


"Mereka menjadi marah dan ingin menghancurkan perusahaan itu," terang Bimo kepada dua orang di depannya itu.


Om Satya yang sudah lama berkecimpung di dunia bisnis, sudah cukup tahu permainan bermacam macam trik dan intrik cuma mengangukan kepala.


"Lalu apa yang akan kita lakukan..?."


"Aku ingin membantu dan menyelamatkan perusahaan itu Om."


"Tadi pagi aku sudah berbicara dengan papa sedikit masalah ini, dan papa memintaku untuk bicara sama Om Satya dan Andre," kata Bimo lagi.


"Baiklah kalau begitu, kita akan lebih serius menyelidiki dan mempelajari masalah ini, akan kita bantu perusahaan itu bangkit lagi," kata om Satya sambil memandang Bimo dan Andre bergantian.


***


"Sial .., kurang ajar sekali Adrian itu, sudah aku kacaukan semua dari kegiatan perusahaan itu namun tak kunjung menyerah juga," teriak Hartono.


"Kalian ini apa memang tidak becus bekerja atau bagaimana sih, cuma mengacaukan perusahaan kecil saja sampai sekarang belum beres juga," kembali Hartono berteriak sambil menghamburkan kertas kertas tersebut ke muka dua orang pria yang ada di depannya.


"Ma.. maaf ..tuan, saya su..sudah bekerja semaksimal mungkin, coba tuan lihat lagi data data itu,bukankah perusahaan itu sudah seperti mau mati," jawab orang yang satu dengan wajah ketakutan.


"Kamu ..berani menjawab ku ..haa.!," teriak Hartono makin marah.


"Aku tidak butuh data dan teori yang aku butuhkan agar perusahaan itu ambruk dan merengek minta bantuan kepadaku." kata Hartono lagi.


Kedua orang suruhan Hartono itu makin ketakutan melihat pimpinan dari PT ASA PRIMA itu makin hilang kendali.


Diangkatnya telpon di depannya dan di tekannya beberapa nomor.


"Panggilkan semua staf direksi aku ingin melakukan rapat kecil di ruangan ku." teriak Hartono kepada sekertaris nya


"Baik pak." sahut sekertaris itu yang tak lain adalah Rani.


Rani juga sama seperti Andre, dia berasal dari keluarga yang pas pasan, sudah setahun ini bekerja di PT ASA PRIMA sebagai sekertaris di ruang direksi tersebut menggantikan sekertaris sebelumnya yang mengundurkan diri.


Setahun bekerja di tempat tersebut sudah membuatnya hafal dengan sikap dan sifat atasannya tersebut.

__ADS_1


Pimpinan nya itu akan marah marah kesemua orang bila ada yang kurang berkenan sedikit saja.


Sebenarnya dirinya sudah tidak betah kerja disana, namun tuntutan hidup mengharuskannya untuk tetap bekerja di sana, sebelum mendapatkan pekerjaan yang baru dan cocok baginya.


Rani sudah menghubungi semua staf yang ada di jajaran direksi tersebut.


"Ada apa lagi sih Ran..?, kemaren kan baru rapat, ada masalah lagi..?," tanya Dimas salah satu rekan Rani di lantai itu.


"Enggak tahu juga," sahut Rani pelan takutnya ada yang mendengar kasal kusuk itu.


Semua staff sudah berdatangan dan memasuki ruang direktur utama PT ASA PRIMA termasuk Rani dan Dimas.


***


Di tempat lain lagi di perusahaan Adrian tampak Adrian dan Bandi serta beberapa staffnya masih melakukan rapat kecil.


Mereka membahas tentang Langkah selanjutnya rencana pemulihan perusahaan tersebut.


"Perusahaan ini sedang mengalami permasalahan namun aku akan berusaha memperjuangkan agar tidak tutup, dan terimakasih kepada kalian semua yang sudah mau bertahan di situasi yang seperti ini," kata Adrian memberi sambutan sebelum rapat di mulai.


"kita harus kembali bekerja lebih giat lagi agar situasi seperti ini segera berakhir."


"Pak Bandi coba laporkan apa saja kewajiban yang harus kita selesaikan terlebih dahulu."


Pak Bandi sedikit menegakan tubuhnya, dan memulai membaca catatan yang di pegangnya.


"Selain penggajian para pegawai, yang menjadi kendala bagi kita adalah adanya piutang yang jatuh tempo pada bulan tiga, jadi masih dua bulan lagi."


"Bila dalam dua bulan kita tidak membayarkan cicilan piutang itu maka kemungkinan kita akan di tutup paksa, karena pengaduan pihak bank tersebut.


Mendengar betapa seriusnya permasalahan itu membuat Adrian sedikit cemas.


"Bagaiman dengan pengajuan pinjaman kepada bank lain pak..?," tanya Adrian.


"Mereka tahu kita dalam masalah jadi mereka untuk sementara tidak bisa meminjami modal tersebut pak," jawab pak Bandi.


"Bagaimana dengan perusahaan lain.?, apakah mereka mau bekerja sama dan menyuntikkannya dana ke perusahaan kita pak..?," tanya Adrian.


"Jangankan menyuntikkan dana pak, mau kerjasama dengan kita saja rasanya sudah bersyukur," Kata pak Bandi dengan mengela nafas panjangnya.


Memang biasa begitu, di dunia bisnis apabila ada perusahaan yang mulai pailit maka akan sangat sulit mencari rekanan.


Berbeda apabila perusahaan itu nampak jaya mewah, maka semua berlomba lomba untuk menjadi rekanannya.


_____________


**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejak dengan like vote dan koment-nya...


juga hadiah dan terus jadikan cerita ini favorit sehingga akan selalu di beri notifikasi bila sudah up date..

__ADS_1


...Baca juga karya lainku bergenre silat Nusantara yang berjudul "SANG PENGACAU**"...


__ADS_2