
Bimo sudah di pindahkan di ruang RR (Recovery Room) atau ruang pulih sadar setelah habis operasi.
Disana masih di awasi kondisinya secara umum setelah operasi yang lama tersebut.
Keluarga hanya di perbolehkan melihat dari kaca kotak di dekat ruang RR tersebut.
Masih banyak alat medis yang di pasang di tubuh Bimo, dengan wajah yang sangat pucat.
Meytta hanya menangis dan menangis.
"Mas.. Bimo..," lirih Meytta memanggil nama suaminya di antara isak tangisnya.
Mama Halimah sudah lebih tegar dari saat tadi kejadian.
Kini mama Halimah malah menghibur Meytta yang masih saja tak berhenti menangis.
"Sabar sayang...ingat kandungan mu..," kata Mama Halimah menyadarkan Meytta akan adanya anak di kandungan nya yang juga perlu dia jaga.
Namun Meytta masih menangis saja.
Mama Qonita juga masih menghibur anaknya meskipun dirinya juga ikut menangis.
**
Andre yang saat kejadian juga langsung ke rumah sakit, masih mengurus beberapa keperluan lainnya semacam persiapan kebutuhan darah tambahan sehabis operasi.
Babe dan Emak setelah selesai menemui tuan Haryo dan mama Halimah untuk memberi suport, dan doa, langsung di minta kembali ke apartemen oleh Andre dengan menggunakan taksi on line bersama adik adik.
Sedangkan Rani masih menemani Meytta menunggu di depan kamar operasi bersama mama Halimah dan mama Qonita.
Setelah beberapa saat mereka menunggu disana akhirnya Bimo di pindahkan di ruang khusus yaitu ICU untuk pemulihan selanjutnya.
Bu Siti dan pak Joko datang ke rumah sakit untuk menunggu Bimo, bergantian dengan mama Halimah dan tuan Haryo.
"Sayang..ayo kita pulang dulu.., biar gantian Bu Siti dan pak Joko yang berjaga di sini," ajak mama Halimah kepada Meytta.
"Enggak mah...Meytta di sini saja nunggu mas Bimo bangun, takutnya mas Bimo nyari nyari Meytta," sahut Meytta dengan pandangan kosong.
Mama qonita juga membujuk Meytta.
"Mey..pulang ya..nanti kamu kelelahan di sini..kasihan anak yang ada dalam kandungan mu," bujuk mama Qonita.
Meytta masih menggeleng pelan.
Akhirnya mama Halimah dan mama Qonita pulang ke rumah masing masing, hanya tinggal Meytta dan bu Siti serta pak Joko serta Andre dan Rani.
Beberapa pengawal berada sedikit menjauh.
"Non Meytta ..makan ya..ni Bu Siti sudah masakin kesukaan non Meytta..," bujuk Bu Siti kepada Meytta yang dari pagi belum makan apapun.
__ADS_1
Meytta menggeleng pelan.
"Non nanti mas Bimo marah sama ibu lho...kalau non Meytta jadi kurusan..lagian kasihan anak yang ada di kandungan non Meytta," bujuk Bu Siti lagi.
Akhirnya Meytta mau makan juga setelah berkali kali di bujuk.
Malam itu mereka menunggu di ruang tunggu yang khusus untuk penunggu kamar ICU.
Mereka di tempat kan di ruang tunggu khusus VVIP karena tuan Haryo salah satu pemegang saham terbesar di sana.
"Ndre..kamu boleh pulang," kata Meytta kepada Andre dan Rani.
"Kami ikut menunggu di sini saja non..," sahut Rani.
"Nanti pekerjaan mu gimana..?."
"Saya sudah resign kok non..sudah non Meytta tak usah memikirkan saya.., kita berdoa saja tuan Bimo segera pulih..," kata Rani sambil menggenggam tangan Meytta.
"Terima kasih kalian mau menemaniku di sini," kata Meytta .
"Sudah kewajiban kami Non..," sahut Andre sambil merapikan beberapa barang barang bawaan bersama pak Joko.
**
Flashback on
Seketika Hartono ambruk dan tangannya langsung di bekuk sebelum di borgol.
Segera pengusaha bekas preman itu di ciduk dan di bawa ke kantor polisi.
Satu persatu orang orang yang merasa di rugikan oleh Hartono berdatangan untuk melaporkan kejahatan orang tersebut.
Semula mereka enggan dan takut melapor, melihat betapa ganas dan kuatnya kedudukan seorang Hartono, namun kini begitu melihat Hartono lemah dan bahkan gedung perusahaan nya di bakar massa maka semua yang merasa di rugikan segera melapor untuk memberi pelajaran kepada pengusaha bekas penjahat tersebut.
Kasus tuntutan yang dakwakan kini makin berlapis lapis.
Hartono yang mulai kembali kesadarannya akibat amuk massa sesaat tadi di kampus mulai sadar diri di rumah sakit milik kepolisian tersebut.
Salah satu tangannya yang sehat nampak di borgol dengan tempat tidur karena dia di anggap penjahat yang berbahaya.
Setelah apa yang menimpa dirinya kini ada sedikit pertanyaan di hatinya..apa sesungguhnya yang di dapatnya dari semua tindakan nya.
Semua yang di dapatkan dengan susah payah kini musnah semua, hanya karena selalu tak pernah merasa cukup dan ingin menggapai nya dengan cara apapun.
Sedikit penyesalan hinggap di hatinya..tapi semua sudah terlambat.
**
Pagi hari Meytta sudah terjaga dari tidurnya padahal semalaman dia juga tak bisa tidur dengan nyenyak.
__ADS_1
Diambilnya air wudhu untuk melakukan sholat malam, mendoakan sang suami agar segera di berikan kesembuhan seperti sedia kala.
"Non Meytta sudah bangun..?," sapa Bu Siti.
Meytta mengangguk tersenyum.
"Mau sholat dulu Bu..," kata Meytta pelan.
"Iya ...non," sahut Bu Siti sambil beranjak dari duduknya.
Meytta pun sholat malam di ruang tersebut karena belum waktunya subuh.
Lama Meytta berdoa kepada Sang Pencipta mohon di beri kesembuhan pada suaminya.
**
Sehabis sholat subuh papa Adrian dan mama Qonita masih duduk di ruang keluarga.
Mereka masih sangat bersedih dengan apa yang menimpa menantu nya tersebut.
"Mah...nanti papa mau ngantor dulu..habis itu baru ke rumah sakit."
"Iya.. pah..nanti mama ke rumah sakit sendiri saja..," kata mama Qonita.
"Mama juga berangkat agak siang mungkin jam sembilan dari rumah karena mau belikan Meytta rujak eskrim semoga bisa sedikit menghibur nya..," kata mama Qonita lagi.
"Iya..mama atur aja..bagaimana baiknya," sahut Papa Adrian dengan menghela nafas panjang nya.
"Kemarin pagi mereka masih di sini..dan rumah ini jadi ramai..," kata papa Adrian pelan sambil menggeleng gelengkan kepalanya menyesalkan sesuatu.
"Sudah pah..kita doakan saja mas Bimo segera pulih kembali dan bisa berkumpul dengan kita lagi..," kata mama Qonita menghibur suaminya.
"Iya...mah..," sahut papa Adrian pelan.
**
Bimo masih belum sadar, banyak alat medis masih menempel di tubuhnya, salah satunya alat bantu nafas ventilator yang bisa membatu pernafasan yang paru paru nya masih lemah seperti Bimo.
Karena paru paru nya juga terkena tembakan maka selesai operasi di butuhkan alat bantu nafas tersebut.
Meytta sudah di perbolehkan mendekat ke suaminya setelah di lakukan perawatan personal hygiene kepada Bimo.
"Mas...mas Bimo...," bisik pelan Meytta di telinganya sambil mengusap rambut sang suami.
"Cepat sembuh...ya....Dady... dedek baby..pingin di temani dady terus," kata Meytta sambil memegang tangan suaminya menempelkan ke perutnya yang masih rata.
____________
Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...
__ADS_1