Jagoanku Ternyata CEO

Jagoanku Ternyata CEO
186. Akhirnya..


__ADS_3

"Mau apa anak itu kemari..?," tanya mama Halimah sedikit mengkhawatirkan menantunya.


"Cuma mau menengok mas Bimo kok mah..," jawab Meytta pelan dan sendu.


"Sayaang..kalau ada apa apa panggil saja penjaga yang selalu siaga di depan ya..," kata mama Halimah lagi kepada Meytta sambil mengelus punggung menantunya.


Meytta hanya mengangguk.


"Kamu sudah makan..?," tanya mama Halimah sambil mengeluarkan bekalnya.


"Sudah Mah..barusan sebelum kemari sarapan di rumah," jawab Meytta masih nampak bersedih.


"Ini..Mama belikan rujak eskrim kesukaanmu.."


"Makasih..mah...nanti aku makan agak siangan aja ya Mah..," sahut Meytta lalu menyimpan rujak eskrim tersebut ke lemari pendingin yang ada di ruangan tersebut.


**


Agak siang tim dokter yang merawat Bimo melakukan rakor membahas masalah pekembangan kesehatan dari sang pasien.


Rakor yang di pimpin langsung oleh dr Melly selaku direktur rumah sakit tersebut nampak sedikit tegang dan nampak serius.


Tampak dokter spesialis bedah thorak yang mengoperasi paru paru, dokter spesialis bedah digestiv yang mengoperasi usus memotong dan menyambungnya, serta dokter spesialis anestesi yang menangani pembiusannya, juga dokter spesialis ahli nutrisi yang mengawasi asupan makanan nya sudah ada di ruangan tersebut.


Mereka melaporkan dari pengawasan di bidang masing masing.


Dari hasil laporan masing masing dokter mengatakan jika di bidang nya tak ada masalah namun yang menjadi pertanyaan kenapa sampai lebih dari satu minggu belum juga nampak tanda tanda pasien akan siuman.


Semua dokter juga kebingungan dengan kasus tersebut.


**


Siang itu keluarga di kumpulkan oleh pihak rumah sakit karena dari tim dokter akan memberikan pernyataan secara resmi masalah kesehatan yang di alami Bimo.


Papa Haryo, papa Adrian, mama Halimah, dan mama Qonita serta tak lupa Meytta sudah berada di ruang khusus.


Semua nampak harap harap cemas dengan berita yang akan di sampaikan.


Tampak tim dokter sudah duduk di ruangan tersebut sebelum pihak keluarga datang.


"Assalamualaikum..," sapa perwakilan tim dokter yang di percayakan kepada dokter Adnan Sp BTKV dokter bedah thorak yang cukup senior.


"waalaikumssalam..," balas semuanya bersamaan.


"Terima kasih atas waktunya tuan Haryo dan seluruh keluarga, juga nyonya Meytta selaku istri tuan Bimo."


"Kami akan memberikan pernyataan resmi tentang kesehatan tuan Bimo kepada keluarga semuanya."


"Bahwa dari bidang medis semua yang terjadi terhadap tuan Bimo sudah kami atasi dengan baik."


"Bedasarkan Pengamatan kami dari catatan tanda-tanda vital dan laboratorium juga sudah tak ada yang abnormal, semua menunjukkan hasil yang baik."


"Tapi ada satu hal yang membuat kita juga kebingungan kenapa tuan Bimo tak juga menunjukkan tanda tanda sadar dari keadaan koma."


"Dan itu di namakan faktor X, kami sudah melakukan semuanya sesuai prosedur hingga tinggal menunggu keajaiban mukjizat dari Yang Maha Kuasa agar tuan Bimo bisa tersadar."


Semua yang mendengar penjelasan tersebut menjadi lemas, karena itu berarti tim dokter sudah menyerah karena tak ada lagi yang perlu di lakukan dari pihak medis.


Meytta tak bisa lagi menyembunyikan tangisnya.

__ADS_1


Mama Halimah juga sangat bersedih.


"Sabar ya Mey....," kata Mama qonita sambil mengelus punggung anaknya tersebut.


"Berdoa saja semoga mas Bimo lekas sembuh," kata mama Qonita lagi yang tak bisa menahan tangisnya lagi.


Semua nampak sangat bersedih.


**


Malam itu meyyta sengaja tak pulang kerumah.


Dengan di temani Bu Siti dan pak Joko, Meytta masih berada di kamar khusus menunggu yang di khususkan untuk keluarga tersebut.


Masih dengan mengenakan mukena Meytta nampak melantunkan ayat ayat suci Al-Qur'an mengaji.


Tiba -tiba pintu ruangan tersebut di ketuk dari luar.


Tok tok tok..


Cekleek..


"Ada apa ya Bu..?," tanya Bu Siti yang membukakan pintu dengan khawatir tampak dari wajahnya.


Meytta yang tahu bahwa petugas ICU yang mendatangi makin berdebar kencang jantung nya.


"Apakah ada ibu Meytta ..?," tanya petugas ruang ICU tersebut.


"Ya..saya..," sahut Meytta sambil terlonjak saking terkejutnya.


Pak Joko yang berada di luar kamar masih berbincang dengan para pengawal juga berjalan mendekat.


Sontak Meytta bersujud syukur.


"Alhamdulillah..ya Allah..," ucap Meytta di sujudnya sambil tak kuasa menahan tangisnya.


Tanpa melepas mukenanya Meytta langsung mengikuti petugas tersebut menuju ke ruang ICU.


Tampak Bimo sudah membuka matanya meski masih sangat lemah.


"Sayaang...," kata Meytta sambil mengelus rambut suaminya yang baru tersadar dari koma nya.


Bimo yang masih nampak lemah sedikit tersenyum.


Meytta menangis gembira melihat nya, kemudian menggenggam tangan suaminya...diciumi nya.


Meytta duduk di kursi yang di sediakan petugas dengan masih menggenggam tangan Bimo.


Meskipun lemah Bimo berusaha tersenyum dan mengusap rambut Istrinya..seakan menenangkan sang istri...aku baik baik saja.


"Sudah dulu ya..nyonya Meytta..biarkan tuan Bimo beristirahat kembali..," kata petugas agar Bimo kembali beristirahat karena masih sangat lemah.


Meytta pun kembali ke ruang tunggu di samping ruang ICU dengan tangis gembira.


**


Mama Halimah masih termenung di ruang keluarga, hatinya sangat sedih.


"Jika saja saat itu aku yang di tembak...," begitu sesal mama Halimah sambil menitikkan air mata nya.

__ADS_1


Papa Haryo yang ada di sebelah nya hanya mengusap lembut punggung istrinya.


"Yang sabar ya Ma...kita doakan saja semoga Bimo lekas sembuh..," kata papa Haryo menghibur istrinya.


Di saat Papa Haryo masih menghibur Mama Halimah tiba -tiba ponsel nya berbunyi.


Drrt...drrt...


"Eh..Meytta ma..yang telpon," kata Papa Haryo sambil memberikan ponsel istrinya.


"Ya... Assalamualaikum..," sapa mama Halimah masih dengan Isak nya.


"Waalaikumssalam..ma..mama... mas Bimo...," kata Meytta.


"Kenapa sayang dengan Bimo...?," mama Halimah terlonjak kaget.


"Mas Bimo sudah sadar mah..," kata Meytta yang juga masih menangis gembira.


"Apaa??."


Papa Haryo yang di sebelah mama kaget jantung nya juga berdebar kencang.


"Kenapa mah...dengan Bimo...?."


Mama Halimah hanya memeluk papa Haryo sambil menangis, membuat papa Haryo makin pucat.


"Bimo...pah..Bimo sudah sadar.."


BYaaar...


"Alhamdulillah..ya Allah..."


Papa Haryo langsung mengucap syukur sambil memeluk erat istrinya.


"Kita ke rumah sakit sekarang mah..," kata papa Haryo, mama Halimah langsung menganggukan kepalanya.


Segera sopir dan para pengawal bersiap mengawal tuan Haryo ke rumah sakit di mana Bimo di rawat.


**


Sementara itu papa Adrian dan mama Qonita yang di beritahu Meytta juga langsung meluncur berangkat ke rumah sakit.


"Alhamdulillah..pa..mas Bimo sudah siuman..," kata mama Qonita sepanjang perjalanan.


"Iya mah...papa juga sangat senang menantu papa sudah sadar..," sahut papa Adrian yang duduk di samping mama Qonita.


Pak sopir juga ikut mengucapkan Alhamdulillah sambil menyetir mengantar dua juragannya itu.


Mobil mereka hampir berbarengan dengan mobil papa Haryo ketika tiba di rumah sakit.


Mama Halimah dan mama Qonita berpelukan saat mereka bertemu di parkiran.


"Alhamdulillah..jeng mas Bimo sudah sadar..," kata mama Qonita.


Mama Halimah menganggukan kepalanya.


"Iya jeng.."


_____________

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya...


__ADS_2