
Proses tuntutan hukum yang layangkan pihak GSB group sudah di tindaklanjuti oleh pihak yang berwajib.
Dan sebagai tergugat Hartono pun sudah mulai di sidangkan dengan berbagai alat bukti yang berhasil di kumpulkan oleh pihak GSB group maupun dari penyelidikan pihak kepolisian.
Karena kesibukannya, Bimo maupun papa Haryo hanya mempercayakan semua persidangan itu kepada om Satya maupun Andre yang mewakili mereka di persidangan selain tentu saja lawyer perusahaan.
Begitupun dengan PT ASA PRIMA mereka di wakili oleh orang orang nya juga lawyer nya.
"Bagaimana hasil persidangan hari ini ndre..?," tanya Bimo yang kadang memonitor dari laporan Andre pertelpon.
"Hari ini masih pembacaan dakwaan dan tuntutan dari kita, dengan di sertai bukti bukti yang di temukan, oleh jaksa penuntut," kata Andre yang saat itu hadir di persidangan.
"Seandainya pun hari ini pembacaan tuntutan dan dakwaan belum selesai, malah di lanjutkan besok pagi hari," kata Andre lagi.
"Baiklah terus awasi perkembangan nya dan laporkan kepada ku hasilnya," kata Bimo sambil menandatangi berkas yang ada di depannya.
Mbak Diah masuk mengambil berkas yang sudah selesai di tandatangani, masih dengan teliti menata berkas berkas itu di dalam map yang di bawanya.
"Habis ini agenda ku apa mbak Diah..?," tanya Bimo.
"Nanti lagi....habis ishoma pak, membahas rencana penganjuan tender proyek yang kita ikuti untuk pembangunan waduk dan pembangkit listriknya," sahut mbak Diah sambil membereskan berkas yang sudah di tandatangani Bimo.
"Oh..ya..bagaimana kabar suami mbak Diah..?, apakah sudah bisa berjalan tanpa alat bantu..?." tanya Bimo
"Alhamdulillah...sudah pak," sahut mbak Diah tersenyum senang.
"Bahkan sudah mulai bekerja lagi."
"Ooh...ya.. syukurlah.. Alhamdulillah, memangnya kerja di mana mbak..?."
"Kita usaha kecil kecilan pak, membuka toko material yang kebetulan belum ada di wilayah kami."
"Kemaren ngajuin pinjaman di bank, sama ada tabungan sedikit maka sekarang suami wirausaha di rumah..pak," terang mbak Diah.
Bimo tersenyum ikut senang mendengar cerita dari mbak Diah.
**
Acara pernikahan yang tinggal beberapa hari itu membuat kedua keluarga itu makin sibuk.
Karena Bagi kedua keluarga yang hanya mempunyai anak tunggal itu, pesta pernikahan itu merupakan hajatan yang pertama dan terakhir bagi kedua keluarga tersebut.
Kedua keluarga tak ingin menanggung malu bila hajatan mereka tak berjalan lancar sesuai harapan.
Apalagi bagi keluarga Sultan macam tuan Haryo, sudah pasti menginginkan pesta yang mewah dan meriah.
Maka wajar jika persiapan panjang di perlukan guna terciptanya acara yang sesuai dengan keinginan.
Fitting baju pengantin bagi kedua calon mempelai sudah tinggal tahapan finishing.
"Assalamualaikum.." Meytta menghubungi Bimo untuk memastikan rencana ke butik langganan untuk fitting baju nanti sore.
"Waalaikumssalam," jawab Bimo.
"Mas Bimo ini dimana..?, aku sudah ada di rumah mama Halimah," kata Meytta yang sedang duduk di ruang keluarga bersama mama Halimah.
"Ini masih di jalan paling sebentar juga udah nyampe."
"Ya ..sudah mas, aku kira lupa... kan sore ini kita mau fitting baju yang terakhir."
"Iya ...mas Bimo nggak bakalan lupa sayang.., bentar lagi sampai kok."
__ADS_1
"Ok..hati hati mas, enggak usah ngebut ngebut." pesan Meytta kepada Bimo.
"Ya...."
"Bagaimana sayang...?," tanya mama Halimah.
"Mas Bimo sudah di jalan kok mah..katanya sih bentar lagi nyampe."
"Oh..ya sudah, memangnya janjian nya jam berapa sama pihak butik..?." tanya mama Halimah.
"Kita bilangnya habis sholat ashar ma."
"masih lama ..kalau begitu, ini aja masih jam dua."
"Iya ma...maka nya aku bilang mas Bimo enggak perlu tergesa-gesa, yang penting hati hati jangan ngebut." kata Meytta lagi.
"Nanti mama ikut kan mah..?," tanya Meytta kepada mama Halimah.
"Kan mama kemaren udah ke sana sama mama Qonita, bahkan sudah mama bawa pulang seragam untuk kami berempat."
"Lho kok aku malah enggak tau kalau mama Halimah udah ke sana sama mamaku..?."
"Iya...kan kamu sibuk ngurus Masalah kampus, jadi enggak kami ajak," sahut mama Halimah.
Mereka masih berbincang santai ketika terdengar suara mobil memasuki garasi samping rumah, yang langsung bisa menuju ruang tengah rumah mewah itu.
"Lha itu...mungkin mas Bimo mah," kata Meytta.
"Kayaknya iya...soalnya papa sudah ijin mama pulang agak malam, ada pertemuan dengan rekanan dari Luar negeri," sahut mama.
"Assalamualaikum...'
"Waalaikumssalam," jawab kedua wanita itu.
"Sudah lama..?, datangnya..?," tanya Bimo.
"Habis dhuhur tadi, setelah dari kampus sekalian langsung kesini," jawab Meytta.
"Sudah makan ..?." tanya Bimo lagi.
Meytta menggelengkan kepalanya.
"Masih kenyang kok mas, tadi di ajak ke kantin sama anak anak, kangen masakan kantin kampus," kata Meytta.
"Kalau mas Bimo mau makan, aku temani.."
"Iya ..sana temani mas Bimo makan, bilang sama Bu Siti agar menyiapkan makanan nya," kata mama Halimah.
Bimo pun bergegas ke kamarnya sedangkan Meytta langsung ke arah dapur di mana Bu Siti sedang mengatur pekerja yang lain.
"Lho...ada non myetta to...," sapa Bu Siti begitu melihat Meytta berjalan mendekatinya.
Meytta tersenyum.
"Udah dari satu jam yang lalu Bu," sahut Meytta.
"Mas Bimo mau makan siang Bu, tolong di siapin ya Bu..," kata Meyta lagi.
"Lho mas Bimo juga sudah pulang..?."
"Tumben non.., pulangnya mas Bimo awal...," tanya Bu Siti sambil memerintah kan para pekerja menyiapkan dan menghangatkan makanan.
__ADS_1
"Kita mau fitting baju pengantin entar sore kok Bu, jadi mas Bimo sengaja pulang awal."
"Ooh."
Kemudian Bu Siti membantu menyiapkan makan siang yang sudah telat itu, sedangkan Meytta berjalan menuju kamar Bimo.
Tok.. tok.. tok..
''Mas...," panggil Meytta.
"Masuk aja ...," sahut Bimo dari dalam.
"Memangnya mas Bimo udah ganti baju..?," sahut Meytta masih enggan untuk masuk.
"Udaah."
Cekleek...
"Ishh....mas Bimo...!."
Teriak Meytta begitu masuk, karena melihat Bimo masih memakai handuk belum berganti pakaian.
"Ngapain siiih....teriak ..teriak..?," kata Bimo sambil tersenyum.
"Itu..mas Bimo belum ganti baju, udah nyuruh Meytta masuk aja..," kata Meytta tersipu.
"Maaf yaa..., mas mau ganti di ruang ganti (walk in closed) tapi ini ada panggilan telpon jadi mas Bimo mau angkat dulu...eh..malah sudah mati," kata Bimo sambil tersenyum.
"Sudah... sudah.. cepetan ganti..," kata Meytta sambil tersipu malu.
Bimo berjalan ke arah ruang baju dan berganti di sana.
"Ngapain nyusul mas Bimo..?."
"Makanan sudah siap," kata Meytta setelah Bima datang lagi dengan baju santainya.
"Ayuuk...makan sekalian lagi aja kan nanti lama di butiknya ..entar lapar lho," ajak Bimo.
Meytta hanya mengangguk sambil mengikuti langkah calon suaminya itu.
Merek sudah ada di meja makan dan sudah ada aneka menu di sana.
Meytta mengambilkan nasi untuk Bimo.
"Segini cukup..?."
"Tambah sedikit ..mas Bimo lapar banget."
"Mau pakai lauk apa mas..?."
"Rendang aja sama sambal dan sayur sedikit," jawab Bimo.
"Kamu juga makan sekalian sayang.., takutnya lama di butik," kata Bimo lagi.
Meytta mengangguk dan mengambil piring serta makanan yang di inginkannya.
__________
**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejak nya...
Baca juga karya lainku
__ADS_1
*Sang Pengacau
* Aku lebih mencintaimu**