
Bimo menggandeng tangan istrinya meninggalkan butik milik istrinya tersebut.
"Kita langsung pulang apa mau nyari gaun lagi..?," kata Bimo.
"Ini..sudah ada yang cocok," sahut Meytta sambil tersenyum dan menunjukkan paper bag ke arah suaminya.
"Berarti langsung pulang..?."
"He'em," kata Meytta sambil menganggukkan kepalanya.
Mereka langsung menuju mobilnya di mana pak Kesot sudah siap memberikan aba aba.
"Ini.. pak..," kata Bimo mengangsurkan uang ke arah pak Kesot.
"Enggak usah pak Bos..," kata pak Kesot sambil tersenyum mengangguk kan kepalanya.
"Ya..udah.makasih..," sahut Bimo sambil melajukan mobilnya dan membelah jalanan yang masih saja ramai.
"Baju model apa yang kamu pilih..sayang..?," tanya Bimo.
"Dress mas.."
"Jangan yang pendek pendek mas Bimo enggak suka," kata Bimo menunjukkan sifat posesif nya.
"Enggak lah mas...," kata Meytta sambil tersenyum.
**
Di sebuah tempat yang lain, terlihat Hartono masih menimang nimang sebuah senjata pistol yang di milikinya.
"Nampaknya aku harus kembali menggunakan mu..," monolog Hartono sambil mencium senjata tersebut dan tersenyum smirk.
"Hancur satu hancur semuanya..huaa..ha..ha...," teriak sambil tertawa terbahak bahak.
Beberapa orang anak buah yang ada di depannya menjadi begidik mendengar teriakan dari tuan nya tersebut.
"Awasi orang orang itu..dan cari celah nya, aku sendiri yang akan bertindak selanjutnya karena kalian tak becus mengurus hal yang beginian," perintah Hartono kepada anak buahnya.
"Baik tuan...," kata beberapa anak buahnya.
**
Sementara itu Andre masih menjemput Rani, hubungan keduanya semakin hangat saja.
"Bagaimana neng..?, apakah sudah mengajukan surat pengunduran diri..?," tanya Andre.
"Sudah bang.."
"Trus..yang Abang pesen kemarin untuk buat surat lamaran ke PT KSAJ apa sudah di buat..?," tanya Andre lagi.
"Ini..," kata Rani menunjukkan map yang berisi surat lamaran beserta beberapa persyaratan melamar pekerjaan seperti yang lainnya.
"Ya..nanti biar Abang bawa ke tempat non meyyta.."
Rani mengangguk sambil menaruh map tersebut di depan dasboard mobil yang tengah di kendarai Andre.
"Tapi nanti balasan dari perusahaan untuk pengunduran diri paling cepat dua mingguan bang.."
"Enggak pa pa., kita ikuti saja sesuai peraturan perusahaan," jawab Andre.
"Ini mau terus pulang apa mau makan dulu..?," tanya Andre.
"Langsung pulang saja bang..kan nanti Abang juga mau pulang ke rumah Babe, entar kemalaman," sahut Rani.
"Terus..Abang belum mau di kenalkan calon mertua nih..," goda Andre.
"Maaf ..ya bang.. pokoknya..nanti kalau kita sudah benar benar serius baru aku berani kenalin bang Andre ke mamak aku, karena aku takut omongan tetangga," sahut Rani.
__ADS_1
"Memang nya Abang sekarang belum kelihatan serius..?," kata Andre.
Rani menghela nafasnya panjang.
"Jujur bang...baru kali ini Rani berani pacaran...soalnya Rani takut kecewa," kata Rani makin pelan.
"Rani hanya anak seorang janda..tua yang miskin, dan Rani anak satu satu nya."
"Makanya Rani belum bisa memberi keputusan apapun bila bang Andre menanyakan kapan kita bisa menikah, Rani masih punya tanggungan mamak yang harus Rani bantu secara finansial..," kata Rani sendu mulai membuka diri nya.
Andre hanya terdiam mendengar perkataan gadis di sebelahnya.
Andre menepikan mobilnya, kemudian mematikan mesinnya setelah sebelumnya membuka kaca jendelanya.
Udara sore yang segar masuk ke dalam mobil tersebut.
"Neng..," kata Andre sambil memandang Rani.
Rani menoleh kearah lelaki yang selama ini sudah menjalin hubungan dengan nya.
"Eneng tahu kan bang Andre juga bukan anak orang kaya, jika bukan karena kebaikan keluarga tuan Haryo mungkin aku tak bisa kuliah, bahkan mungkin juga hanya jadi tukang gorengan seperti Babe jika bukan karena bos Bimo."
"Abang serius mau menjadikan neng Rani istri Abang, menjadikan neng Rani ibu dari anak anak Abang," kata Andre dengan sangat serius.
"Hari ini Abang ingin bertemu dengan mamak neng Rani jika tidak keberatan..," kata Andre serius.
Mendengar pengakuan Andre yang tulus tanpa terasa air mata Rani mengalir membasahi pipinya.
"Abang janji tak akan meninggalkan Rani jika nanti lihat kondisi Rani yang sebenarnya..?," tanya Rani sambil terisak.
Andre mengangguk.
"Kadang Rani masih takut Abang nanti kecewa..dan meninggalkan Rani, setelah melihat Rani yang miskin," kata Rani sesenggukan.
Andre hanya terdiam merangkul gadis itu ke dalam pelukannya.
Rani mengangguk, "aku akan mengenalkan Abang ke mamak sekarang," kata Rani akhirnya.
Andre kembali menyalakan mesin mobilnya dan melaju ke arah rumah Rani.
Dahulu pernah Andre mengantar Rani saat habis bebergian bersama keluarga nya namun hanya sampai di gang sempit yang menuju ke arah rumah Rani.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang hingga sampai di gang yang dulu Andre menurunkan Rani.
Rani menarik nafasnya panjang.
"Beneran Abang mau mampir ke rumah Rani..?," kembali Rani menegaskan.
Andre mengangguk dengan mantap.
"Ayo.. Abang tak sabar ketemu calon mamak mertua ," kata Andre dengan yakin.
Rani turun dari mobil diikuti Andre yang kemudian mengunci mobil nya dengan remote.
Kemudian Andre mengikuti langkah kaki Rani memasuki gang sempit tersebut.
Mereka melewati beberapa rumah yang nampak kecil kecil di gang itu, hingga tiba di ujung yang berdekatan dengan aliran sungai kecil.
"Inilah rumah aku bang," kata Rani kepada Andre.
Nampak rumah yang sangat kecil jika di bandingkan dengan rumah sederhana keluarga Andre.
Mungkin hanya sepertiga dari rumah Andre dan di sini sudah berdempetan dengan rumah tetangga yang lainnya, hanya ada tanah kosong di sebelah kiri karena itu bantaran sungai yang nampak kecil saat musim kemarau seperti ini.
"Assalamualaikum..," kata Andre sebelum memasuki rumah tersebut.
"Waalaikumssalam..," sahut sebuah suara dari dalam rumah.
__ADS_1
"Mak..," kata Rani.
Mamak yang menyadari ada tamu lain selain anaknya langsung tersenyum.
"Mari..silahkan masuk ..," kata mamak dengan rasa gugup.
Baru kali ini anak gadis nya mengajak pulang laki laki, dan pasti ini bukan teman biasa.
Andre menyalami ibunya Rani.
"Andre Mak..," kata Andre sambil mencium tangan orang tua Rani.
"Mamak Sadur ibunya Rani," balas mamak.
"Mari...mari masuk nak Andre," kata mamak Sadur ramah.
"Maaf kondisi rumah Rani hanya seperti ini," kata mamak Sadur sambil menyingkir kan beberapa kain kain yang berserakan di sekitar nya, karena mamak Sadur membuka usaha terima jahitan warga sekitar.
"Abang duduk dulu, Rani ganti baju dulu ya bang," kata Rani meminta ijin.
Andre hanya mengangguk.
"Teman kantor Rani...?," tanya mamak Sadur.
"Bukan Mak..."
"Lho...terus bisa kenal di mana..?," tanya mamak Sadur penuh selidik.
"Bang Andre ini yang dulu pernah Rani ceritakan Mak, yang bantuin Rani pas motornya mogok," sahut Rani menjawab pertanyaan mamaknya.
"Ooh...yang itu..," sahut Mamak Sadur tersenyum ramah.
"Terima kasih nak Andre mau bantuin anak mamak..," kata wanita yang seusia emak nya Andre.
"Sudah kewajiban saya mak menolong yang sedang kesusahan," kata Andre.
"Abang mau minum apa..?," tanya Rani dari dapur yang hanya bersebelahan.
"Apa aja neng..," sahut Andre.
"Ran...sekalian sayurnya di panaskan nanti kita makan sama sama, emak tak beresin jahitan Bu Siti," kata Mamak Sadur.
"Iya Mak..," sahut Rani.
"Makan di sini sekalian ya nak Andre, meski hanya lauk sederhana," kata Mamak yang merasa cocok meski baru pertama bertemu Andre.
"Iya...Mak kalau tidak merepotkan," sahut Andre.
"Baru kali ini Rani mengajak seseorang kerumahnya," kata mamak Sadur, kemudian sedikit bercerita bahwa sudah sejak kecil Rani di tinggal mati bapaknya, dan mamak berjuang membesarkan Rani sendirian.
"Jadi mamak sedih jika mendengar tempat kerja Rani mau bangkrut, mamak kasihan sama Rani jika jadi pengangguran di rumah," kata Mamak lagi.
"Mamak tenang aja neng Rani mau saya masukkan kerja di tempat istri bos saya Mak, nanti kantornya malah lebih dekat dari sini," kata Andre membuat mamak Sadur terkejut dan gembira.
"Benarkah..itu nak Andre..?."
"Benar mak..," sahut Rani yang kini sudah ceria kembali karena semua kekhawatiran nya tak terbukti.
Andre tersenyum senang melihat gadisnya sudah ceria kembali.
_____________
**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya..
Baca juga karya lainku
* Sang Pengacau
__ADS_1
* Aku Lebih Mencintaimu**