Jagoanku Ternyata CEO

Jagoanku Ternyata CEO
139. Bimo di rumah mertua


__ADS_3

Sore itu di kediaman papa Adrian nampak meriah sekali, kebahagiaan menyelimuti keluarga itu.


Papa Adrian yang biasanya pulang lebih dari jam lima sore, tapi kali ini habis ashar sudah sampai di rumah.


"Lho papa sudah ..pulang..?," tanya mama terkejut dengan wajah gembira melihat suaminya sudah ada di rumah, karena tadi mama sibuk di dapur membantu dua pembantu nya membuat aneka makanan.


"Kan..anak dan menantu ku datang..," kata papa Adrian dengan gembira.


Meytta yang masih di dapur langsung ke depan begitu mendengar suara papanya.


"Papa...," Meytta langsung merangkul papa Adrian yang juga nampak gembira.


"Waah...suasana jadi meriah ya Ma..," kata papa Adrian kepada mama qonita.


Mama Qonita tersenyum mengangguk.


"Apalagi nanti kalau sudah ada cucu..pasti....makin ramai Pa..," sahut mama Qonita.


"Iyaa..kapan..punya cucu...," kata papa Adrian dengan muka pura pura sedih.


Meytta hanya tersipu mendemgar guyonan kedua orang tuanya.


Bimo yang masih istirahat di kamar Meytta kemudian terbangun dan keluar dari kamar begitu mendengar heboh heboh.


"Pah..," Sapa Bimo begitu keluar dari kamar.


"Sudah lama mas Bimo...?," sapa papa Adrian.


"Habis dhuhur tadi pah.. berangkat dari rumah, sampai sini ya sekitar jam satu lebih sedikit," jawab Bimo sambil mencium tangan papa Adrian.


Keempat orang tersebut kemudian berjalan ke ruang keluarga.


"Papah ganti baju dulu...habis itu kita ngobrol lagi..ya."


Kemudian papa Adrian masuk kamar, sekalian melaksanakan kewajiban sebagai muslim karena sudah hampir jam setengah empat sore, biasanya sih sholat di kantor tapi karena pulang awal jadi pas waktu sholat ashar masih di perjalanan.


"Mas Bimo mau buat minuman lagi enggak sekalian aku buatin papa."


"Boleh ...sayang teh aja ya...gulanya sedikit aja," sahut Bimo menjawab istrinya yang menawari minuman.


"Apa mas Bimo mau kolak pisang, aku tadi buat..udah lama enggak makan kolak pisang soalnya," kata Meytta lagi menawarkan.


"Ya..kolak aja kalau gitu.., sedikit aja kuahnya terus di kasih es kristal biar enggak terlalu manis...kan manisnya sudah ada di istri mas," kata Bimo sambil memeluk pinggang Meytta sambil duduk di sofa.


Meytta yang di sanjung suaminya, merasa sangat senang apalagi Bimo berkata sambil memeluk pinggang nya dan menciumi perutnya yang masih rata.


Mama qonita hanya tersenyum melihat kemesraan anak dan menantu nya.


''Lho katanya mau ambilkan mas Bimo kolak kok masih disini..?," kata Bimo menyadarkan istrinya yang malah bermanja manja di pelukan nya.


''Habisnya mas Bimo meluk aku terus sih...," sahut Meytta sambil tersenyum malu malu.


Papa Adrian yang baru keluar dari kamar juga senang melihat keharmonisan rumah tangga anaknya.


Papa Adrian kemudian duduk di samping Bimo.

__ADS_1


"Papa mau aku buatkan minuman apa sekalian kolak buatanku ..?," tawar Meytta kepada papa nya.


"Iyaa..pa..entah kenapa ...aku pingin kolak pisang," kata Meytta .


"Apa jangan jangan kamu sudah ngidam sayang...?," tanya mama Qonita yang sudah tak sabar menimang cucu.


"Issh...mama, masak baru empat hari nikah langsung ngidam..," sahut Meytta malu malu.


"Lho..bisa saja to.., dulu mama pas ngidam kamu juga satu minggu habis nikah," kata mama Qonita makin semangat.


"Ah..nggak ..kok..ma.. bukti nya kan aku masih enggak ngerasa apa apa..," sahut Meytta sambil berjalan ke dapur mengambil kolak untuk papa dan suaminya.


Kemudian mereka semua memakan kolak pisang itu sambil becanda di ruang keluarga rumah itu.


"Mas Bimo rencana ke Eropa kapan jadinya..?," tanya papa Adrian.


"Lusa pah.., makanya kami pulang sekarang karena lusa kita berangkat."


"Niat kami sih..malam ini menginap di sini terus besok sore kembali ke rumah sana... sekalian ajak papa Adrian dan mama Qonita, kan besoknya kita berangkat."


"Momen besok kita pakai makan malam bersama..," kata Bimo.


"Bagaimana pah..?," tanya mama Qonita.


"Papa sih... mau mau aja.., tapi papa besok...mau ngantor dulu, habis itu ...sore nya baru sama sama kesana, bagaimana..?," kata papa Adrian.


"Ya ...gitu aja pah..," kata Meytta dengan senang hati.


Mereka mengobrol di ruang itu hingga hampir Maghrib.


"Enggak usah pakai alat kontrasepsi segala nanti malah kayak mama," kata mama Qonita.


"Dulu setelah kamu lahir mama langsung pakai alat kontrasepsi takut kerepotan, setelah kamu besar malah nggak di kasih anak lagi," sesal mama sedikit sedih.


"Makanya besok enggak usah pakai alat kontrasepsi...kami siap menjaga cucu cucu kami kalau kalian kerepotan," kata papa Adrian menyambung usulan mama.


Meytta yang baru tahu permasalahan ini kemudian menganggukkan kepalanya.


"Ooh..gitu ya..mah..?," kata Meytta.


"Itu secara kedokteran juga diterangkan kok Mey..," kata mama Qonita lagi.


Meytta dan Bimo menganggukan kepalanya.


"Kami tak akan pakai alat kontrasepsi pah...aku juga pengen anak yang banyak biar keluarga kita ramai," kata Bimo menyahut.


"Ishh...mas Bimo enak..aja..., lha aku yang mengandung...yang susah," sungut Meytta sedikit protes.


"Nanti mas Bimo kan pasti bantu kamu sayang," kata Bimo dengan serius.


Maghrib pun hampir tiba, obrolan itu berhenti karena mau pada sholat Maghrib.


"Kita sholat di masjid aja ya mas Bimo..., sekalian papa mau kenalin mas Bimo ke warga sekitar, kan kemarin belum pada jelas karena tamu dari kampung pada milih duduk di belakang," kata papa Adrian.


"Boleh..pah, memang masjidnya di mana pah..?."

__ADS_1


"Gang samping rumah kita terus ke belakang, paling berapa rumah kok nanti kita lewat pintu belakang aja langsung ke jalan gang samping," kata papa Adrian lagi.


Suara adzan Maghrib terdengar jelas di rumah itu karena memang letak masjid yang di belakang rumah.


Papa Adrian sudah siap dengan sarung dan baju Koko nya.


"Mas...ini sarungnya.. sudah aku siapkan," kata Meytta.


Begitu melihat Bimo memakai celana panjang lagi.


"Kalau begitu mas Bimo ganti celana pendek lagi," kata Bimo sambil balik lagi ke kamar, sambil membawa sarung tersebut.


Bimo kemudian turun lagi dari kamar sudah pakai sarung lengkap dengan baju rapi.


"Suami aku ganteng banget..," kata Meyyta sambil senyum senyum.


"Kalau gitu sayang dulu..," kata Bimo sambil menyodorkan pipi sedikit membungkuk ke arah Meytta.


Cuup..


Meytta mencium kecil pipi Bimo.


"Udaah..papa nunggu di halaman belakang, katanya mau lewat gerbang belakang biar enggak muter," kata Meytta setelah mencium pipi Bimo.


"Ok...sayang ..mas ke masjid ya.. Assalamualaikum.."


"Waalaikumssalam..," balas Meytta dan mama Qonita juga bi ijah yang senyum senyum melihat kemesraan pengantin baru itu.


"Ayuk.. lewat sini..," kata papa Adrian sambil membuka gerbang belakang kemudian menguncinya kembali setelah mereka berada di luar.


"Waah.. ternyata belakang rumah langsung perkampungan..ya pah," kata Bimo sambil berjalan.


"Ya..mas.."


"Waah ..malah enak pah..bisa bermasyarakat," sahut Bimo.


Mereka berjalan santai menuju masjid.


"Waah pak Adrian ..sama menantu ya..," sapa bapak bapak sambil bersalaman.


Bimo pun tersenyum dan ikut bersalaman.


"Ini pak RT...yang ikut jadi saksi nikah mas Bimo kemarin,'' kata papa Adrian.


"Ooh .. iya to pah.., maaf pak saya lupa," kata Bimo dengan jujur sambil tersenyum.


Pas sampai masjid, sebentar kemudian iqomah di kumandang kan dan mereka sholat Maghrib berjamaah di masjid tersebut.


__________


**Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejaknya..


Baca juga karya lainku dan beri dukungan ya...Kaka Kaka...


* Sang Pengacau

__ADS_1


* Aku Lebih Mencintaimu**


__ADS_2