
"Ada apa Tan kenapa wajah mu menegang?" Aska bertanya pada Tan begitu ia masuk kedalam mobil. Aska tahu ada yang tidak beres, ia tidak ingin Raya tahu agar tidak cemas.
"Tuan Hyuk menelpon tuan, ia memberi tahu jika akan ada pertemuan keluarga Admaja"
"Benarkah? bagus...." Aska tersenyum sembari memegang dagunya. Ia sudah bisa menebak apa yang akan di bahas di pertemuan keluarga itu.
"Sepertinya ayahku akan terpengaruh dengan hasutan para ular itu"
Tan terdiam dan melirik dari spion. Ia memandang tuannya yang tetap terlihat tenang.
"Apa yang harus saya lakukan tuan?"
"Tambah pengawalan pada Raya dan anak-anak. jangan perbolehkan mereka keluar rumah. Beritahu semua pengawal dan pelayan".
"Baik tuan"
Aska merasa Raya bisa saja dalam bahaya. Kedua sepupunya pasti akan memakai berbagai cara untuk menyingkirkan dirinya dan Raya.
"Apakah saya perlu menyiapkan strategi untuk melawan nona Karenina?"
"Tidak perlu Tan, nanti saja. kita lihat apa yang akan dia lakukan"
"Baik tuan"
Hari itu di Admaja Group Aska tetap bekerja seperti biasanya. Ia meeting dan meeting dari pagi sampai siang.
Lalu sorenya ia memutuskan pulang lebih awal sebelum ke rumah ayahnya.
"Apa nona tidak perlu tahu jika ada perkumpulan keluarga Admaja tuan?"
"Aku rasa mereka sudah memberi tahu istriku. Nanti akan ku jelaskan ketika di rumah"
Aska tiba di rumah di sambut aroma wangi kopi racikan Raya. Tadi ia sempat menelpon Raya minta di buatkan kopi panas.
"Hmmm harum sekali" kata Aska sembari mencium pipi Raya.
Pasti anda ingin merayu nona. Batin Tan seranya melengos pergi ke dapur. Ia juga ingin menikmati secangkir kopi sebelum memulai pertempuran dengan keluarga Admaja.
"Sayang apa kau akan ke rumah papa?"
"Kau sudah tahu?" Aska mengerlingkan matanya sembari menyesap kopi dengan nikmat.
__ADS_1
"Karenina menelpon ku"
"Aku akan datang, sayang kau tidak perlu ikut. Jaga anak-anak di rumah. Aku rasa pertemuan nanti tidak akan berfaedah apapun untuk kita"
"Baiklah" Raya mendekat dan merapikan dasi Aska. Ia menyentuh hidung mancung Aska dengan jarinya.
"Apa kau cemas?" bisik Aska di dekat leher Raya, napasnya tercium aroma kopi. Raya tersenyum geli.
"Untuk apa? mereka keluarga mu sayang jadi aku tidak perlu mencemaskan apapun"
"Benar..."
Malamnya Aska dan Tan berangkat ke rumah tuan besar. Saat memasuki gerbang utama Aska melihat mobil Karenina dan Arga sudah terparkir di halaman..
"Tan para pecundang itu sudah tiba lebih dulu. Apa menurutmu ayah ku akan terhasut oleh mereka? aku yakin mereka sudah meracuni ayah dan ibuku"
"Saya rasa begitu tuan, kalau nyonya besar saya tidak cemas beliau tidak mudah terhasut tapi kalau tuan besar bisa jadi percaya pada lidah mereka. Karena tuan besar kurang menyukai nona...maaf saya terpaksa berkata demikian"
"Sialan kau! kenapa kau mengingatkan ku jika ayahku tidak menyukai Raya? aku sedih mendengarnya!"
"Maaf tuan muda"
"Cepat kita turun dan selesaikan semua"
"Baik tuan"
"Hai bibi Jang kau terlihat manis" Aska merangkul bibi Jang yang hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Tuan muda anda membuat ulah apa lagi?"
"Siapa yang berulah?"
"Tuan aku memang sudah tua dan renta tapi pemikiranku masih jeli. Siapa yang berani membuat tuan besar gundah jika bukaan anak lelaki kesayangannya?"
"Bibi berhenti bilang begitu, aku tidak sengaja membuat ayahku gundah gulana" Aska mencolek pipi bibi Jang. Ia memang selalu usil dan sembarangan dengan bibi Jang yang sudah seperti ibunya itu.
"Sudah bi, kau jangan cerewet lebih baik kau membuatkan ku minuman. Aku mau buatan mu bukan pelayan"
"Dasar anak nakal!" bibi Jang berjalan menuju dapur dan melirik Tan.
"Kau juga sama saja!" gumam bibi Jang. Tan bergegas mengikuti langkah Aska yang mendekati nyonya besar.
__ADS_1
"Mama...."
"Aska!" keduanya saling berpelukan melepas rindu. Sementara di ruang tengah sudah berkumpul semua undangan.
"Kau membuat mama cemas"
"Tenanglah ma..."
"Cepat sapa papa mu, ia sedang marah padamu Aska"
"Memang sejak kapan papa tidak marah pada ku?"
"Sudahlah jangan membuat keributan. Ambil hati papamu dengan baik jangan membuatnya marah lagi"
"Baiklah..baiklah"
Semua terdiam ketika Aska mendekat ke arah tuan besar yang sedang duduk bersandar di sofa menikmati cerutu impor kesukaannya.
Seketika suasana menjadi tegang dan kaku.
"Pa..."
"Hmm kau masih menganggap ku orang tuamu setelah kau mempermalukan papa di depan para kolega kita"
"Aku tidak mempermalukan papa, aku adalah presiden direktur Admaja Group jadi berhak untuk membuat keputusan juga"
"Tuan besar Anda jangan terpengaruh dengan Aska. Dia memang putera tunggal anda tapi dia itu sudah gila!" Karenina terlihat kesal dan tidak bisa menahan dirinya.
"Karenina hati-hati bicara, apa kau takut aku mendepakmu tanpa harta keluarga Admaja?"
"Aku pastikan itu tidak akan terjadi!" Aska dan Karenina saling pandang dengan sengit.
"Sudah hentikan!" suara parau tuan besar membuyarkan perseterun itu.
Hasil pertemuan tidak ada solusi. Aska tetap kekeh menjadikaan Raya CEO utama di Admaja Group.
"Karenina bagaimana ini?" tanya Arga.
"Suruh orang mu habisi Aska di jalan..Kita tidak ada pilihan lain. Rusak rem mobilnya sebelum dia pulang"
***
__ADS_1
Duaarr.....!
Raya tidak sengaja menyenggol mug milik Aska dan pecah. Hatinya terasa tidak tenang tiba-tiba saja jantungnya berdebar lebih cepat.