
Pagi tiba, seperti biasa Raya sudah berangkat ke kantor. Ia berjalan santai menyapa security dan beberapa karyawan lain. Di kejauhan terlihat Aska juga sudah tiba dan berjalan dari arah parkiran menuju loby.
Raya mempercepat jalannya agar tidak berpapasan dengan Aska dan tidak perlu menyapa pria itu. Ia melebarkan langkahnya agar lebih dulu membuka pintu loby. Tapi sepertinya Aska bisa menebak pikiran Raya. Pria itu juga sedikit mempercepat langkahnya.
Akhirnya keduanya malah berpapasan di depan pintu loby dan berebut untuk membuka pintu itu. Jantung Raya berdegup kencang saat Aska menunduk menatap wajahnya. Aska terlihat tampan dengan stelan kemeja putih dan jas biru cerah.
"Selamat pagi tuan Aska" tidak ada pilihan, mau tidak mau Raya harus berbasa-basi menyapa bosnya. Aska dengan angkuh tidak merespon Raya. Ia berjalan menuju ruang kerjanya. Pagi itu sedikit berbeda, Tan asisten tuan Aska tidak ikut berangkat bersama tuannya.
Raya mengedarkan pandangannya. Di ruang kerja Tan juga masih kosong. tidak nampak batang hidung lelaki itu.
Telepon di meja kerja Raya berbunyi. itu dari Aska.
"Kemarilah, bawa data terbaru yang kau punya"
"Baik.." Raya bergegas menyiapkan semua. Ia sedikit merapikan rambutnya dan berjalan menuju ruang kerja Aska. Di ruangan itu Aska sedang duduk mengerjakan pekerjaanya dengan serius. Wajah tampannya nampak menggemaskan.
"Duduk"
__ADS_1
Raya duduk dan menyerahkan berkas yang ia bawa pada Aska.
"Kenapa data ini bisa salah?"
"Salah? tapi saya sudah melakukan double check dan benar adanya tuan"
"Check ulang dan benahi segera, turun ke ruang produksi cari tahu dimana letak kesalahan data itu"
"Baik tuan" Raya berdiri dari duduknya dan melangkah cepat. Ia menyambar id cardnya dan turun ke ruang produksi seperti yang di minta Aska.
Raya mencoba menemui pimpinan disana dan minta di adakan meeting. Sampai jam makan siang Raya belum juga kembali ke meja kerjanya. Aska hanya masuk kantor selama setengah hari. Setelah meminta Raya membenahi datanya yang salah Aska langsung pergi meninggalkan kantor.
Sepi, Belalang tidak menyapanya melalui email seperti biasanya. Raya terlihat gelisah, sepertinya ia mulai nyaman dengan Belalang.
Raya send
"Hai, kau sibuk?"
__ADS_1
Pagi tadi aku berpapasan dengannya.....
Lama tidak ada balasan. Raya menutup email-nya dan kembali bekerja. Aska tidak ada di ruangannya begitu juga Tan. Kedua orang itu tidak nampak hilir mudik seperti biasanya.
"Lisa apa bos kita sedang pergi?" tanya Raya pada Lisa salah satu staff di ruangan itu.
"Tuan Aska ada urusan keluarga. Dengar-dengar jamuan makan siang. Mungkin ia akan di jodohkan oleh orang tuanya dengan gadis konglomerat juga" kata Lisa panjang lebar.
"Oh begitu ya.." wajah Raya terlihat kecewa.
Raya melihat jam tangannya, dan membuka email pribadinya. Masih sama belum ada balasan dari Belalang.
Kenapa kau tidak membaca dan membalas emailku seperti biasnya. apa kau sibuk sekali?
Raya pulang lebih awal, ia menumpang taxi online. Raya ingin mampir ke toko buku untuk membeli novel. Ia sedang suntuk dan jika sudah begitu Raya lebih senang membaca novel untuk mengembalikan moodnya seperti semula.
Raya tiba di toko buku, ia membeli dua buah novel terbitan terbaru dari penulis favoritnya. Selesai dari toko buku Raya bergegas pulang dan mandi. Ia mengganti pakaian lalu makan malam dengan ibu.
__ADS_1
Selesai makan malam, Raya kembali ke kamarnya dan membuka salah satu bungkus novel baru yang ia beli tadi. Lembar demi lembar Raya membacanya hingga ia ketiduran dan bermimpi bertemu si Belalang.
Di mimpinya Belalang adalah pria tampan dengan kemeja putih dan dasi bergaris bu-abu. ia memiliki senyum menawan. tapi Rya tidak bisa melihat dengan jelas wajah Belalang. Ia hanya melihat sekilas senyum mengembang di bibir pria itu.