
"Jadi Rama telah kembali dari Milan? Kalila juga?" Raya meraih bantal dan memeluknya dengan senang. Ia sudah mengenakan piyama dan bersiap tidur. Seperti biasa sebelum tidur Raya dan Aska selalu menyempatkan untuk mengobrol santai.
"Hei kenapa dengan ekspresi wajah mu itu? kau terlihat senang dengan kepulangan Rama?" Aska kesal dan menarik selimut ia hampir memejamkan kan matanya dan tidur.
"Bukan begitu sayang, aku senang saja mendengan dua orang itu kembali kemari"
Aska mulai membaca niat tersembunyi istrinya yang gemar membuka biro jodoh untuk orang lain.
"Tidak!" kata Aska tegas, bahkan sebelum Raya mengutarakan niatnya untuk menjodohkan Rama dengan Kalila Aska sudah tahu dan menolaknya mentah-mentah.
"Sayang bukan kah mereka cocok?"
"Tidak Raya, ini pasti karena kau keseringan menonton drakor" Aska baru tahu sejak awal pernikahan jika istrinya itu penggila drama romantis. Raya bisa menghabiskan waktu beberapa jam untuk menonton drama kesukaannya itu.
"Memang apa alasannya kau tidak menyetujui perjodohan ini sayang?"
"Raya usia mereka jauh berbeda, dan belum tentu Rama menyukai Kalila yang kekanakan itu"
"Ah dalamnya hati siapa yang tahu, bisa jadi Rama juga diam-diam suka dengan Kalila"
"Terserah padamu kau benar-benar gigih sekali, tapi aku tetap tidak setuju"
Raya mendekati wajah Aska dan dengan gerakan cepat ia mengecup bibir suaminya itu. Kalau sudah begitu Aska pasti kalah dan luluh.
"Ku mohon jangan memancing ku atau aku tidak bisa mengendalikan diri dan membuat mu bangun kesiangan besok!" Aska menarik pinggang Raya dan memeluknya erat sembari menarik selimut.
"Tuan muda! hei aku belum selesai ....."
"Aku tidak peduli dengan mereka, yang jelas aku sangat mencintai mu" ucap Aska lirih. Apa lagi yang bisa di lakukan Raya jika Aska sudah berkata demikian. Raya akan terbangun di pagi hari dengan simbol merah di sana sini.
__ADS_1
Keesokan paginya Raya sudah terlihat rapi dan merias wajahnya dengan riasan natural. Ia menyiapkan baju ganti untuk Aska dan anak-anak.
"Sayang hari ini pakai stelan jas warna apa?" tanya Raya bingung. Banyak sekali stelan jas yang di miliki suaminya semakin hari semakin bertambah koleksinya.
"Terserah istriku mau memilihkan yang mana" Aska menggeliat dari balik selimutnya. Ia menarik handuk putih baru yang sudah disiapkan Raya di atas meja dekat tempat tidur.
Aska melilitkan handuk itu sebatas pinggang dan ia berjalan cepat ke kamar mandi.
Air hangat sudah siap di bathub. Sabun kesukaan Aska juga sudah Raya siapkan. Aska berendam dengan air penuh busa di bathub. Tidak berapa lama ia segera berjalan menuju shower dan membilas badannya dengan air bersih.
"Raya mengeringkan rambut Aska dengan handuk kecil. Sementara Aska duduk di kursi rias milik Raya sembari mengenakan kemejanya.
"Sayang aku pakaikan vitamin rambut ya"
"Apa itu?"
"Rambutku sudah tebal"
"Tidak mau ya ...yasudah kalau begitu"
Aska tahu Raya sedang merayu nya agar ia setuju dengan ide gila menjodohkan Rama dengan Kalila. Ia pikir hal itu semudah menjodohkan Tan dengan Yuki.
"Mana jam tangan ku?"
"Baik" Raya membuka laci panjang berisi jajaran jam tangan mahal milik Aska. Setelah menimbang akhirnya ia memilih mengambil jam tangan branded berwarna hitam.
"Pakaikan dasi ku"
"Baik" Raya berjinjit memakaikan dasi untuk Aska.
__ADS_1
Diam-diam Aska gemas sekali pada Raya. Ia tidak mengerti apa yang di pikirkan Raya sampai hobi menjodohkan orang.
"Auchhh sakit!" Raya berteriak karena Aska mencubit hidungnya dan itu terasa sakit sampai ujungnya berwarna merah.
"Jawaban ku tetap tidak, tidak ada perjodohan dan semacamnya"
"Sayang....."
"Tidak"
****
Di tempat lain....
Tan dan Yuki tengah bersantai di sofa ruang tamu rumah Tan. Keduanya sudah berbaikan dan kembali meneruskan rencana pernikahan mereka.
"Oh ya ku ingin tahu kenapa Armand membawakan bunga untuk mu sewaktu di restoran?" tanya Tan dengan wajah kurang suka.
"Dia meminta tolong padaku untuk mengatur kencan dengan seorang gadis yang di sukai nya dan kebetulan mereka akan bertemu
di restoran tempat ku bekerja. lalu kau datang dan mungkin kau salah paham sayang"
"Benar saat itu aku kesal dan ingin menghajarnya!"
Yuki tersenyum ia bisa mengerti jika Tan cemburu dan marah.
"Oh ya undangan pernikahan kita akan aku bagikan besok bagaimana?"
"Hmmm aku setuju"
__ADS_1