
Nara terdengar sedang berbicara di telepon dengan orang tuanya.
"Acara apa pak? seperti ya tidak bisa ikut karena tuan Kai sedang sakit"
Nara mematikan ponselnya dan terdiam sejenak. Di rumah sedang ada pesta kecil-kecilan karena Bu Dewi yaitu ibu sambung Nara baru saja membeli rumah yang sedikit lebih luas di banding rumah lama mereka.
"Ada apa?"
Nara tersentak mendengar suara Kai. Pria itu berdiri di belakang nya entah sejak kapan.
"Bapak bertanya kabar kita"
"Katakan pada orang tuamu kalau kita akan pulang"
"Tapi anda masih sakit"
"Aku baik-baik saja jadi kau bersiap lah, nanti Hendra akan mengurus semua"
"Baik"
Kai berangkat ke kantor karena hari itu ada meeting yang akan di hadiri kakek dan juga ayahnya. Hendra bergegas menyiapkan mobil dan membukakan pintu untuk Kai.
"Hen apa Deniz ikut datang ke meeting?"
"Saya rasa begitu tuan"
"Sepertinya aku harus mulai membesarkan usaha ku sendiri. Aku yakin kakek ku pasti akan berusaha menyingkirkan ku dari ahli warisnya"
"Apa anda akan pergi dari Admaja Group tuan?"
"Pasti, tapi tidak sekarang. kau ingat aku memiliki usaha di kota A?"
"Benar"
"Tolong kau berikan aku kabar soal perkembangan usaha ku itu. Jika perlu suntikan modal yang lebih besar kau segera bilang pada ku"
__ADS_1
"Baik tuan"
"Oh ya nanti malam aku dan Nara akan ke rumah Kusmanto, beri mereka bingkisan"
"Apakah anda akan menginap tuan?"
"Sepertinya begitu, kau bilang pada Kusmanto untuk menyiapkan kamar"
"Baik tuan"
"Apa saya perlu memberi uang lagi pada Kusmanto dan istrinya yang matre itu? maaf tuan"
"Tidak perlu belikan saja mereka hadiah yang mahal"
"Hen apa sejak menikah Nara pernah meminta sesuatu untuk ku belikan?"
Anda bagaimana tuan, nona kan istri anda kenapa bertanya pada saya?
"Kalau sepengetahuan saya belum pernah tuan"
"Apa menurut mu aku harus memberinya sesuatu?"
"Apa yang harus ku berikan padanya? tanah? rumah? mobil baru?"
"Kenapa anda tidak memberi nyonya Besar cucu?" celetuk Hendra ia keceplosan bercanda dengan bosnya.
"Mau mati kau! kenapa bicara sembarangan!"
"Maaf tuan saya hanya bergurau, maafkan saya tuan"
"Hen"
"Iya tuan"
"Kau ku pecat!" kata Kai sembari menendang kursi di depannya.
__ADS_1
Kai terlihat badmood mendengar celetukan Hendra yang juga setiap hari di gemakan oleh ibunya. mama Raya begitu menginginkan cucu dari Kai dan Nara.
"Kenapa anda tidak memberi nona cincin berlian saja?"
"Ide bagus, Carikan untuknya"
"Baik tuan"
Mobil tiba di pelataran perusahaan, Kai dan Hendra berjalan cepat menuju lift karena sudah di tunggu tuan Bram dan tuan Aska di ruang meeting.
"Selamat pagi semua" sapa Kai yang memasuki ruangan meeting.
Disana duduk tuan Bram selaku pemilik Admaja Group, tuan Aska Admaja selaku pewaris utama, Deniz Admaja selaku pewaris strata dua Admaja Group.
"Selamat pagi Kai, papa dengar kau tidak enak badan?"
"Papa tahu dari mana?"
"Mama menelpon Nara semalam"
"Oh saya sudah sembuh pa"
"Baiklah kalau begitu meeting akan kita mulai, kepada tuan Bram Admaja selaku pemilik Admaja Group silahkan untuk memberi sedikit sambutan"
Kai mempersilahkan kakeknya untuk berdiri di depan.
"Baiklah tidak perlu basa basi lagi, meeting kali ini akan membahas masa depan Admaja Group dari semua bisnis baik properti, tambang, penjualan produk, restoran, hotel bintang lima dan resort di pulau B serta aset lainnya. Kai bagaiman menurut mu jika suatu saat Deniz akan menggantikan mu menduduki kursi Presiden direktur?"
Semua tampak tegang, tuan Aska mencoba memberi pendapatnya tapi percuma sepertinya tuan Bram ingin Kai mundur dari jabatannya.
"Baik pa, terimakasih papa sudah memberikan Kai kesempatan menduduki posisi yang harusnya adalah milik papa. Jika kakek memutuskan memindahkan kursi Presdir pada Deniz, saya setuju"
"Kai...." tuan Aska terlihat kecewa. Ia tahu Deniz belum mampu untuk memegang perusahaan sebesar Admaja Group.
"Pa tapi ini berbahaya" Aska protes pada tuan Bram.
__ADS_1
"Iya kek lagi pula Deniz belum merasa mampu kek" Deniz terlihat tidak enak pada Kai. terlebih ia selalu merepotkan Kai dalam setiap masalahnya. Kai bahkan berkorban menikahi gadis yang tidak di cintainya demi menutupi kasus tabrak lari yang di lakukan Deniz.
Kai tersenyum dalam hati melihat rencana kakeknya gagal.