
Naila pergi ke toilet untuk membasuh wajahnya. ia memegang bibirnya yang tadi dicium oleh Arsene. selama menikah baru kali ini mereka berciuman dengan panas.
Naila kembali mencuci bibirnya dan menggosok dengan jemarinya. ia jengah dan sedih tidak rela mendapat ciuman dari pria yang tidak bisa membuatnya bahagia dalam pernikahan mereka.
Sementara Arsen terdiam melamun di dalam mobil yang sedang di kendarai oleh Pitt. sejak keluar dari toko milik Naila pria itu tidak bicara sepatah katapun. tapi noda lipstik yang tertinggal di bibirnya sudah bisa membuat Pitt paham apa yang terjadi tadi di dalam toko.
Pitt memarkir mobil di pelataran khusus di perusahaan milik Arsene.
"Maaf tuan ini ..." dengan ragu Pitt mengulurkan saputangan bersih pada Arsen.
"Untuk apa?" tanya Arsen datar dan wajahnya terkesan garang.
"Saya rasa sebelum masuk ke lobi anda harus membersihkan noda lipstik di bibir anda tuan"
Arsen nampak tersentak ia tidak menyadari jika lipstick Naila tertinggal di bibirnya. Arsen meraih saputangan itu dengan kasar lalu mengusap bibirnya dan ia melemparkan saputangan itu kepada Pitt.
Dengan wajah sedikit memerah Arsen berjalan memasuki lobi perusahaan. para staf berdiri memberi salam pada Presdir mereka meski sapaan itu tidak pernah di gubris oleh Arsen.
__ADS_1
"Pitt!"
"Iya tuan"
"Pecat Hendrawan! mulai sekarang di bukan dokter pribadi keluarga Admaja!"
"Memecat dokter Hendra? saya rasa ini terlalu gegabah tuan apa tidak bisa di pertimbangkan lagi? apa rasa cemburu anda sangat besar pada dokter Hendra?"
"Apa katamu?!" Arsen menarik kerah jas Pitt. ia menatap asistennya itu dengan tajam seolah ingin menelannya.
"Maaf tuan, tapi.."
Arsen duduk di kursi kerjanya mencoba fokus pada pekerjaannya. ia mengibaskan kepalanya mengusir wajah Naila dan adegan ciuman di toko tadi.
"Sial! aku tidak bisa konsentrasi!" gumam Arsen sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Pitt menggelengkan kepala melihat tingkah tuannya yang benar-benar arogan hari itu.
__ADS_1
Larut malam Arsen tiba di rumah ia tadi mampir ke bar untuk minum dengan beberapa koleganya. sekalian Arsene ingin melupakan wajah Naila yang memenuhi pikirannya seharian ini.
Naila membuka pintu kamarnya memandang ke arah kamar Arsen yang masih belum nampak ada orangnya.
"Selamat malam nyonya Admaja!" sapa Arsen tiba-tiba mengejutkan Naila.
"Ayo tuan sebaiknya anda beristirahat" kata Pitt sambil memapah tubuh Arsen menuju kamarnya.
Naila yang masih marah mencoba tidak mempedulikan Arsen. ia kembali masuk ke kamar dan mengunci pintu dari dalam.
Naila duduk di lantai memeluk kedua lututnya mengingat kejadian tadi siang. begitu kasar dan arogannya seorang Arsen Admaja pada dirinya. pria itu menciumnya dengan brutal ia membuat Naila ketakutan sekaligus malu.
Naila mendongak memandang foto pernikahannya dengan Arsen yang terpanjang di meja riasnya. Entah kenapa Naila tadi mengeluarkan foto itu dari nakas.
Foto pernikahan yang cantik tapi terlihat dingin dan hambar. tidak ada senyum di wajah Arsen dan Naila.
Mungkin sudah saatnya kita mengakhiri semua ini Arsen. untuk apa kita bertahan dalam pernikahan yang kau dan aku sama-sama tidak menginginkannya?!
__ADS_1
Naila menangis meraih bingkai foto pernikahan nya lalu kembali memasukannya kedalam nakas.
Sementara di kamarnya Arsen tidak dapat memejamkan matanya. ia ingin sekali melihat wajah Naila saat ini.