
Hendra sudah membelikan beberapa barang sebagai bingkisan untuk orang tua Nara dan tak lupa ia juga membeli cincin berlian pesanan Kai.
"Hen kau saja yang memberikan cincin itu padanya"
"Maaf tuan tapi ..."
"Kalau kau tidak mau buang saja"
"Baik tuan saya akan memberikan nya pada nona"
"Panggil Nara aku tunggu di mobil"
"Baik"
Nara sudah siap dengan style sederhananya tapi modis. Ia melangkah menuju mobil.
"Silahkan nona" Hendra membukakan pintu mobil untuk Nara.
"Siapa bilang dia duduk dengan ku?"
"Maksud tuan?"
"Aku duduk di depan di samping mu saja sekretaris Hendra"
"Tapi nona"
"Sudahlah ayo"
Jadilah Nara duduk di kursi depan di samping Hendra yang mengemudikan mobil. sementara Kai terlihat diam dan acuh duduk di kursi belakang.
Mobil melewati jalur kecelakaan yang pernah menimpa Bastian. terlihat mata Nara berkaca-kaca ia memandang keluar jendela dan mengamati jalanan itu.
__ADS_1
"Kenapa? apa kau mengingat kekasih mu itu?" sindir Kai dengan nada sinis.
Tuan anda kenapa sebenarnya, tadi anda meminta saya membeli cincin berlian untuk nona dan sekarang anda jutek sekali dengannya.
Nara tidak mempedulikan sindiran Kai. Ia terdiam dan memandang lurus ke depan.
Tidak berapa lama mobil yang di kendarai Hendra tiba di sebuah pelataran rumah yang tidak begitu luas.
Nara bergegas turun dari mobil dan menyapa orang tua serta adik tirinya.
Kusmanto dan Dewi seolah tidak perduli pada Nara, mereka sibuk menyambut kedatangan menantu mereka yang kaya raya.
"Nak Kai silahkan masuk, ibu sudah memasak banyak lho. oh ya nanti juga ada saudara ibu dan bapak yang mau berjumpa dengan nak Kai"
Kai hanya terdiam dengan wajah dingin. ia melirik ke arah Nara yang terdiam karena malu dengan tingkah bapak dan ibu sambungnya.
"Dimana kamar untuk ku? aku mau istirahat"
Kalian berdua? apa maksud bapak? jadi aku akan sekamar dengan Kai?
"Nara temani nak Kai istirahat, Nak Hendra mati ikut kami mencicipi masakan ibu" kata Dewi sembari menarik lengan Hendra.
Kai melepas jasnya dan menggulung lengan kemeja putihnya. wajahnya terlihat letih. Ia mengedarkan pandangannya ke ruangan sederhana itu.
Nara membuka jendela yang view-nya langsung ke halaman samping yang asri.
"Apa anda mau saya buat kan minum?" tanya Nara ragu.
"Tidak perlu basa basi, kau senang bisa sekamar dengan ku bukan?" Kai menyeringai memandang Nara.
Wajah Nara memerah mengingat kejadian yang pernah terlewati diantara mereka berdua.
__ADS_1
"Kalau begitu saya keluar dulu"
"Tunggu! aku tidak menyuruh mu keluar dari ruangan ini"
Kai menarik lengan Nara hingga terduduk di ranjang. Kai merebahkan kepalanya di pangkuan Nara.
Nara tersentak dan hampir berdiri tapi di tahan oleh Kai.
"Sebentar...."
Nara menurut saja ia diam, kaku seperti patung sembari membuang pandangan dari wajah Kai.
Kai tertidur di pangkuan Nara. Nafasnya mulai teratur dan wajahnya terlihat lebih rileks.
Nara dengan ragu memandang Kai yang tertidur. setetes butiran bening menyembul di ekor mata Kai.
Dia menangis? tuan kaya... masalah apa yang sebenar nya kau pikul di bahu mu? beban berat apa yang menindih hati mu?
Selama ini Nara melihat Kai sebagai pribadi yang seenaknya, kasar dan dingin. Ia sering berkata sinis dan meremehkan orang lain. tapi detik ini perasaan Nara berbeda. Ia bisa melihat sisi lain pria itu.
Semalaman Kai tertidur di pangkuan Nara hingga kaki Nara kesemutan. Ia menyadarkan badannya pada tumpukan bantal.
Pagi tiba matahari bersinar cerah. Nara menggerakkan kakinya dan Kai terbangun. Ia terduduk dan mengusap wajahnya.
"Kenapa tidak membangunkan ku?" Kai memandang wajah Nara yang terlihat menahan kesemutan di kakinya.
"Apa kaki mu pegal?" Kai meraih kaki Nara.
"Tidak apa-apa" Nara bergegas menepis tangan Kai ia berdiri dan berjalan keluar kamar dengan gerakan aneh.
Kai tersenyum entah kenapa pagi itu ia merasa segar dan cerah.
__ADS_1