Jodoh Dari Remaja

Jodoh Dari Remaja
Part 50 Kegigihan Raya


__ADS_3

Raya duduk di meja makan untuk menikmati makan malam bersama ibunya. Ia memperhatikan ponsel yang sengaja ia letakkan di sampingnya. Sudah tiga hari Aska tidak mengabarinya. Ia mencoba mengirim email tapi juga tidak ada balasan. Raya menelpon Tan tapi Tan tidak memberitahunya Aska berada dimana saat ini.


"Kenapa makanannya hanya di aduk-aduk?" tanya ibu yang sedari tadi memperhatikan Raya.


"Bu maaf Raya ke kamar dulu ya..." Ibu mengangguk paham. Sementara Raya berjalan menuju kamarnya. Ia teringat ucapan Aska. Jika ia tidak menemui Raya dan tidak menelponnya Aska ingin Raya datang ke rumahanya.


Di tempat lain, di kediaman keluarga Admaja. Aska yang di kurung di kamarnya terus mengamuk dan menghancurkan barang-barang di kamarnya. Ia berteriak minta di keluarkan dari kamar. Empat orang pengawal yang berjaga di depan kamar tidak bergeming. Mereka tetap seperti robot yang yang hanya mau menuruti perintah tuan besar dan asistennya yaitu tuan Hyuk.


Tan bahkan tak di ijinkan bertemu Aska. Tan juga bingung mendengar kondisi Aska yang tidak mau makan dan mengamuk sedari tadi. Ia mencoba menemui Raya di rumahnya pagi-pagi sekali.


Kebetulan Raya sedang berjalan keluar rumah. Ia berhenti ketika melihat mobil Tan.


"Raya...." sapa Tan dan menghentikan mobilnya di dekat Raya berdiri.


"Tuan Tan? dimana tuan muda?" tanya Raya sembari menoleh ke arah mobil Tan yang terhenti di dekat Raya.


Tan hanya terdiam, ia bingung menjelaskan pada Raya.


"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Tan.


"Tentu saja...."


Tan mempersilahkan Raya masuk ke dalam mobilnya.


"Raya, tuan muda saat ini di kurung oleh tuan besar di kamarnya. Ia tidak bisa ke mana-mana karena di jaga ketat oleh pengawal. Bahkan aku di larang menemui tuan muda. Raya terdiam ia sudah menyangka hal ini akan terjadi. Ia mengerti maksud perkataan Aska kemarin yang meminta Raya untuk datang ke rumahnya.

__ADS_1


"Tuan Tan antarkan aku ke rumah itu, ku akan mencoba bicara dengan tuan muda agar ia mau makan"


Tan mengangguk senang, ia menjalankan mobilnya menuju kediaman keluarga Admaja. Sesampainya di depan rumah keduanya di sambut pengawalan yang ketat. Setelah Tan membujuk pengawal yang berada di luar rumah akhirnya ia dan Raya di ijinkan masuk kedalam rumah.


"Bibi Jang..." sapa Raya yang masuk melalui area samping.


"Anak nakal! kemana saja kau?!" bibi Jang meraih lengan Raya dan menariknya untuk duduk.


"Kau tahu kondisi tuan muda sekarang?" tanya bibi Jang menahan tangisnya.


"Dimana tuan muda sekarang bi?"


"Ia di kamarnya, Nyonya dan aku kehabisan cara untuk membujuknya agar mau makan dan minum. Ia bahkan terluka karena menghancurkan barang-barang di kamarnya sejak kemarin"


"Dimana Nyonya Ariani? aku ingin bertemu dengannya" bibi Jang mengantar Raya bertemu nyonya rumah.


"Nyonya bisakah saya bicara dengan tuan muda?"


"Raya, aku tidak berwenang memberimu ijin bertemu Aska. Ia sedang..."


"Saya mengerti nyonya, saya hanya ingin bicara dengannya. Tidak perlu bertatap muka cukup saya mendengar suaranya saja"


Nyonya Ariani mengantar Raya menuju depan kamar Aska. Disana pengawal dengan stelan jas hitam sigap berjaga.


"Maaf nyonya anda dilarang menemui putra anda" kata salah seorang pengawal.

__ADS_1


"Aku tahu, biarkan gadis ini bicara dengan putraku di balik pintu. Kalian tidak perlu membuka pintunya" para mengawal saling lihat untuk menimbang persetujuan. Akhirnya mereka mengijinkan Raya bicara dari depan pintu saja.


Raya mengetuk pintu kamar Aska.


"Tuan muda...." suara Raya terdengar oleh Aska yang berada di dalam kamar.


"Raya...?!" Aska berlari mendekat ke arah pintu dan duduk di lantai bersandar di pintu kamarnya.


"Tuan muda Aska aku ada disini, apa kau baik-baik saja di dalam? aku dengar kau tidak mau makan dan minum, nanti kau bisa sakit"


Aska terdiam menahan gemuruh di dadanya. Ia merasa marah, rindu dan pasrah jadi satu.


"Aku tidak mau makan" suara Aska terdengar parau.


"Aku mohon makanlah sedikit saja. Nanti kau sakit" Raya mulai terisak.


"Jangan menangis....bodoh, aku tidak apa-apa" kata Aska yang juga menahan tangisnya.


Setelah bicara dengan Aska, Raya pergi ia meminta nyonya Ariani untuk membujuk suaminya. Agar mau melepaskan putra mereka.


Raya di bawa para pengawal keluar dari rumah besar itu. Tapi Raya tidak ingin meninggalkan Aska dalam kondisi seperti ini. Ia menunggu di luar pintu gerbang rumah mewah itu seharian. Tan mengawasinya dari kejauhan. Ia juga kasihan dan tidak ingin terjadi sesuatu pada Raya.


Cuaca panas dan hujan tidak menghentikan Raya menunggu di depan pintu gerbang. Ia tetap berdiri kokoh disana meski saat ini ia sedang berada di bawah guyuran air hujan.


Nyonya Ariani mencoba membujuk suaminya melalui telepon. Kali ini kesabarannya sudah habis. sebagai seorang ibu melihat putranya di perlakukan demikian ia tidak rela. Nyonya Ariani mengancam suaminya akan meninggalkan rumah atau melakukan hal nekat jika tuan Bram tidak membebaskan Aska.

__ADS_1


Sementara di luar Tan sedang membujuk Raya aga menghentikan aksinya. Hujan deras mengguyur sejak tadi, Tan cemas jika Raya akan sakit nanti.


__ADS_2