Jodoh Dari Remaja

Jodoh Dari Remaja
Part 201 Perhatian


__ADS_3

Setiba nya di rumah sakit Naila segera mendapat perawatan. ia terbaring dengan infus menancap di tangannya.


"Apa yang sebenarnya terjadi pada istriku?" tanya Arsen pada dokter yang menangani Naila.


Istri? dia menyebutku istrinya?


Naila tampak terkejut begitu pula dengan Pitt yang berdiri tidak jauh dari ranjang Naila.


"Nyonya Naila kelelahan dan sedikit mengalami dehidrasi. tapi kondisinya akan segera membaik setelah beristirahat dan mendapat infus vitamin"


Arsen menatap Naila kesal, ia mendekati Naila yang menunduk pura-pura sibuk dengan ponselnya.


"Kau dengar apa yang dokter katakan? kau kelelahan dan dehidrasi! apa di rumah ku tidak ada air sampai kau bisa dehidrasi? dan untuk pagelaran pameran seperti kemarin sebaiknya kau tidak merencanakan lagi karena aku tidak akan memberikan persetujuan untuk itu!"


Naila dan Pitt saling pandang, Naila mencoba membujuk Arsen.


"Aku baik-baik saja Arsen, kelelahan itu wajar. jangan memintaku untuk tidak melakukan pameran lagi aku mohon"


"Kita lihat saja nanti"


"Kenapa kau tidak ke kantor saja? aku bisa disini sendiri" kata Naila kesal.


"Pitt pergilah ke perusahaan handle semua meeting hari ini, jika ada yang harus aku tanda tangani bawa dokumen itu kemari"

__ADS_1


"Baiklah tuan, saya permisi"


Arsen melepas jasnya meletakkannya di atas sofa. ia menggulung lengan kemejanya.


"Waktunya makan" kata perawat yang memasuki ruang rawat Naila membawakan makanan untuk Naila.


"Biar saya saja yang membujuknya untuk makan" kata Arsen.


Arsen meraih sendok dan menyendok bibir hangat. ia duduk di pinggiran ranjang Naila.


"Ayo makan!" sungguh tidak romantis nadanya bukan membujuk tetapi lebih kepada perintah. Naila tetap diam ia malas membuka mulutnya. melihat makanan itu rasanya saja mual dan mulutnya pahit.


"Ayo cepat makan agar kau lekas sembuh dan tidak merepotkan!" kata Arsen sembari menyodorkan sendiri berisi bibir hangat. kali ini bahkan Arsen dengan memaksa menempelkan sendok itu langsung ke bibir Naila.


"Aku mau minum" akta Naila menunjuk gelas berisi air putih.


"Tidak bisa kau harus makan dulu baru nanti minum!"


"Sudah aku kenyang!" Naila menangis karena tidak tahan dengan pemaksaan yang Arsen lakukan.


"Iya sudah begitu saja menangis!"


Arsen melirik jam tangannya, ia meraih ponselnya menelpon seseorang. sepertinya Arsen menelpon mama Sara.

__ADS_1


"Aku akan ke kantor sebentar, maaf akan kemari menemanimu"


"Kenapa merepotkan mama?!" kata Naila merasa tidak enak.


"Bukankah aku sudah bilang cepatlah sembuh agar kau tidak merepotkan!" Arsen meraih jasnya lalu mengenakannya. ia duduk di sofa memainkan ponselnya sembari menunggu mama Sara tiba.


Setelah satu jam akhirnya mama Sara tiba di rumah sakit. tepat di kamar rawat Naila. wajah mama terlihat cemas.


"Naila kenapa bisa sakit begini?" mama memegang wajah Naila ia terlihat khawatir.


"Naila memang bandel ma, ia kelelahan"


"Kelelahan?! memangnya lelah kenapa? apa kau hamil?"


Naila dan Arsen sontak langsung bertukar pandang. keduanya terkejut dengan tebakan mama.


Bagaimana mau hamil menyentuhnya saja tidak pernah! -Arsen-


Aku tidak mungkin Hamil, aku tidak pernah melakukan hubungan badan dengan Arsen! -Naila-


"Itu tidak mungkin mam!" sahut Arsen dan Naila kompak.


"Tidak mungkin bagaimana?! kalian kan sudah menikah sudah suami istri jadi wajar kalau Naila hamil!"

__ADS_1


Arsen menghela napas, ia mengaduk rambutnya sembari berjalan keluar ruang rawat Naila.


__ADS_2