Jodoh Dari Remaja

Jodoh Dari Remaja
Part 33 Pertengkaran!


__ADS_3

Pagi-pagi Raya sudah berangkat bekerja. Ia ingin menikmati suasana kantor untuk terakhir kalinya sebelum menyerahkan surat pengunduran dirinya pada Aska.


Raya duduk dan menyalakan komputernya. Ia membaca email yang masuk dan menghapus beberapa email yang kurang penting.


Masih ada waktu setengah jam sebelum semua karyawan tiba di kantor. Raya menuang satu aset kopi instan dan menyeduhnya. Ia mengeluarkan kotak bekal berisi kue dari ibunya.


Raya menikmati sarapannya di kantor dengan tenang karena suasana masih sepi. Hanya ada OB yang sedang bekerja membersihkan ruangan.


Raya melirik jam tangannya sudah pukul 7.30 staff sudah berdatangan. Sebentar lagi pasti Aska juga akan tiba di kantor.


Benar saja, semua staff berdiri bersiap memberi salam pagi pada big bos. Raya berdiri dengan wajah tenang dan senyum mengembang seolah tidak ada masalah antara dirinya dengan kebohongan Aska.


"Raya kau ke ruangan ku sekarang" Kata Aska sambil berjalan menuju ruang kerjanya. Raya mengeluarkan amplop putih dari laci mejanya. Hatinya berdebar. Perusahan itu sudah seperti rumah baginya. Disinilah tempat pertama kali Raya bekerja dan sekarang ia akan pergi dari sanna.


"Raya siapkan materi meeting siang nanti"


"Baik tuan"


Aska menatap lekat mata Raya. Ia tahu gadis itu akan mengatakan sesuatu. Aska tahu Raya pasti kecewa karena ia telah membohongi gadis itu. Tapi melihat reaksi Raya pagi ini Aska jadi bingung. Gadis itu terlihat seperti tidak terjadi sesuatu diantara mereka.


"Tuan Aska saya mau menyerahkan ini" Raya meletakkan amplop putih di hadapan Aska.


"Apa ini?"

__ADS_1


"Surat pengunduran diri saya"


Aska terkejut tapi ia hanya terdiam. Rupanya kebohongannya pada Raya cukup fatal. Gadis itu benar-benar marah padanya.


"Kenapa harus mengundurkan diri?"


"Maaf tuan ini sudah keputusan saya" Raya berdiri dari duduknya. Aska mengejar dan menarik lengannya dengan kuat hingga Raya meringis kesakitan.


"Jika kau memang suka padaku kenapa kau tidak berterus terang padaku?! kenapa malah menghindar dariku?!" Aska terlihat sangat marah.


Raya mencoba melepas pegangan Aska di lengannya.


"Aku menghindari mu? tuan muda Aska aku menantimu kembali dari luar negeri berharap kau bisa seperti dulu. Tapi setelah kau kembali pernahkah kau menegurku? pernahkah kau menganggap ku ada?" mata Raya berkaca-kaca.


"Rama? bahkan aku menghindarinya karenamu, aku menolak ketulusan dan kebaikannya karena aku menaruh harapan pada hubungan kita. Tapi sepertinya aku salah besar!"


Raya berjalan pergi meninggalkan kantor, ia sudah tidak perduli lagi dengan pekerjaannya. Aska terdiam marah pada dirinya sendiri.


Kenapa aku bisa seceroboh ini?! kenapa selama ini aku sia-siakan keberadaannya.


Praaaaang!!


Aska meemukul meja kaca di hadapannya hingga pecah berserakan. Tan bergegas berlari menuju ruang kerja Aska.

__ADS_1


"Tuan muda ada apa?"


Aska hanya terdiam dengan telapak tangan meneteskan darah. Tan segera memanggil dokter pribadi ke kantor untuk mengobati tangan Aska.


Dokter membalut tangan Aska dengan perban. Aska masih diam seribu bahasa bahkan ia tidak menghadiri meeting siang itu. Celakanya tuan besar ada di meeting itu.


"Ada dimana Presdir muda kita?" tanya tuan Bram.


Tan kebingungan menjawab, ia memang tidak tahu kemana Aska pergi.


"Maafkan saya tuan besar karena lalai menjalankan tugas" kata Tan sembari menunduk.


"Tan...ada masalah apa?"


"Maaf tuan besar, saya kurang tahu"


"Baiklah Tan kembalilah bekerja"


"Baik tuan"


Malam itu Aska pulang ke rumah dalam keadaan mabuk berat dan tangannya terluka. Tuan Bram meenunggunya di ruang kerjanya.


Nyonya Ariani terlihat cemas dengan putranya. Ia mengelap wajah Aska dengan handuk basah dan mengganti perban pada luka Aska.

__ADS_1


Nyonya Ariani membentangkan suaminya dan meminta besok saja bicaranya.


__ADS_2