
Tan memejamkan matanya sembari berdo'a memohon keselamatan. Mobil merci itu banting stir dan menabrak pohon besar. Bagian depan ringsek kepala Tan membentur stir.
Lama ia tertahan didalam mobilnya sampai akhirnya ada sesama pengendara yang berhenti dan menolong mengeluarkannya dari dalam mobil. Sang penolong itu membawa Tan ke rumah sakit dengan mobil pribadinya.
Di kediaman Aska
"Sayang ada apa? kenapa kau nampak gelisah?" Raya memegang tangan Aska yang duduk di sampingnya. Sedari tadi Aska hanya diam tanpa menyentuh makan malamnya. pikirannya berkelana memikirkan asisten pribadinya.
"Oh tidak ada apa-apa sayang, ayo kita makan"
Raya tetap mengamati wajah suaminya yang terlihat tegang. Tidak biasanya Aska tidak ceria saat di meja makan. Bahkan ia mengabaikan anak-anak.
"Kai, ajak adik-adik ke kamar ya" kata Raya pada anak sulungnya.
"Iya mama" Kai segera menggandeng lengan Deniz dan Dizya yang kali ini menurut tanpa protes.
Selesai makan Aska duduk di kursi ruang kerjanya. Raya menyusul suaminya menuju ruang kerja Aska di lantai dua.
"Ada apa sayang....?" kata Raya lembut tanpa nada memerintah atau menekan.
Aska menghembuskan napas kasar dan terlihat gusar. Ia berdiri dari duduknya lalu menatap keluar jendela. Pandangannya nanar menatap halaman. berharap mobil Tan tiba dan asisten kebanggaannya itu selamat.
"Tan....ku harap tidak terjadi apa-apa dengannya"
"Kenapa bicara begitu sayang?" Raya mendekati Aska dan memandang wajah Aska lekat. Seolah ia juga ingin merasakan kegelisahan suaminya.
__ADS_1
Aaka menceritakan kronologi saat di rumah papanya. Termasuk kejadian rem mobil yang dengan sengaja di rusak oleh seseorang. Demi menyelamatkan nyawanya serta harga diri Aska, Tan rela mengorbankan dirinya.
Raya terperanjat dan menutup mulutnya dengan tangan. Ia tidak percaya jika akan sejauh ini tindakan Karenina dan Arga.
Kini Raya lebih gelisah dari Aska. Ia mencemaskan Tan dan juga hari pernikahannya dengan Yuki.
"Apa aku perlu memberi tahu Yuki?"
"Jangan dulu, kita tunggu dulu kabar dari Tan"
Semalaman Aska tidak bisa memejamkan matanya. Ia duduk di sofa yang berada di kamarnya dengan Raya.
Raya sudah terlelap memeluk guling. Ponsel Aska berbunyi ada nomor yang tidak di kenal tertera di layar ponselnya.
"Siapa ini?" tanya Aska datar.
Itu mobil Tan, tidak salah lagi itu pasti Tan.
"Siapa kau?" Aska semakin cemas, karena yang menelponnya bukanlah Tan.
"Saya yang menolongnya, kebetulan di saku jasnya ada sebuah kartu nama milik Aska Admaja. Apakah anda orangnya?"
"Iya, apakah dia selamat?"
"Iya tuan sekarang dia ada di rumah sakit A"
__ADS_1
"Baiklah aku akan kesana sekarang juga"
Aska meraih kaket kulit dari dalam lemari lalu mengecup kening Raya yang sedang tertidur dan ia bergegas pergi dengan mobil pribadinya.
***
"Tan...." Aska bergerak mendekati ranjang rawat Tan. Asisten tangguh nan setia itu terbaring tidak berdaya dengan perban di keningnya.
Tan membuka matanya perlahan dan mengerjap. Ia memandang Aska lalu tertidur kembali. Aska menemui dokter untuk menanyakan kondisi Tan.
"Bagaimana kondisinya dokter?"
"Ada trauma di bagian kepala tuan, tapi ia sudah melalui beberapa pemeriksaan dan hasilnya cukup baik. Tidak perlu terlalu cemas. Saya rasa benturan di bagian kepalanya tidak fatal. Hanya terdapat luka di kening yang akan berangsur membaik dalam hitungan hari"
"Syukurlah" Aska bernapas lega ternyata Tan tidak apa-apa. Ia berhutang budi banyak pada Tan"
Sementara di tempat lain Yuki yang mendapatkan kabar langsung panik. Ia sedang mencoba gaun pengantinnya di desainer yang sudah ia percayai untuk merancang baju pernikahannya bersama Tan.
"Baik aku segera ke sana nona" Yuki mematikan teleponnya dan bergegas ke runah sakit. Ia di kabari oleh Raya.
Sesampainya di runah sakit hatinya runtuh mendapati Tan dan mendengar sebenarnya apa yang terjadi pada calon suaminya itu.
"Aku baik-baik saja" gumam Tan melihat Yuki menangis di sampingnya.
"Mana mungkin kau baik-baik saja lihat dirimu, kita akan menikah sayang dan kau selalu saja membuatku cemas"
__ADS_1
Tan terdiam dan memejamkan matanya. Yuki menggenggam juat tangan Tan.
"Bisakah kau meninggalakan keluarga Admaja?"