
Raya duduk di sudut restoran Jepang seorang diri. Ia sedang menunggu kedatangan Yuki untuk berbicara mengenai hubungan Yuki dengan Tan.
Raya memainkan ponselnya ia membalas pesan singkat dari Aska. Sebenarnya Aska tidak mengijinkan Raya terlalu ikut campur urusan percintaan Tan dan Yuki. Mereka berdua sudah dewasa, sudah bisa menyelesaikan permasalahan mereka. Bagi Aska jika pernikahan Tan batal berarti Tan dan Yuki tidak berjodoh.
Sungguh simpel dan tragis, Raya tidak akan membiarkan hal itu terjadi, ia akan ikut memperjuangkan hubungan indah antara Tan dan Yuki.
Raya tahu Tan bukanlah pria yang mudah jatuh hati pada seorang gadis. Jika kali ini hubungannya kandas maka akan butuh waktu yang lama untuk Tan bisa move on dan merajut kisah cinta lagi.
"Maaf membuat anda menunggu nona" Yuki berdiri di dekat meja. Raya segera meletakan ponselnya kedalam tas tangannya.
"Yuki duduk lah, aku ingin bicara" kata Raya sumringah. Wajah Yuki memang terlihat lebih murung, ia tidak ceria seperti biasanya. Patah hati memang bisa membuat perubahan besar pada diri seseorang termasuk perubahan fisik. Yuki terlihat lebih kurus dan ia juga memangkas rambutnya menjadi pendek di bawah telinga.
"Yuki, apa kau baik-baik saja?" tanya Raya hati-hati.
Yuki tersenyum masam sembari memalingkan pandangannya dari Raya.
__ADS_1
"Iya tentu aku baik-baik saja nona"
"Langsung saja, aku meminta mu datang kemari karena aku ingin membantu menyatukan kembali hubungan mu dengan Tan, aku rasa kau sudah tahu niat ku itu"
"Menurut rasa anda hanya akan membuang waktu nona, maaf saya permisi" Yuki hampir berdiri dari duduknya tapi Raya segera menahan Yuki.
"Yuki kenapa kau mengakhiri hubungan kalian? maaf aku ikut campur karena kata suamiku kau meminta Tan memilih antara kau atau tuan mudanya"
Yuki sedikit terkejut, ia tidak menyangka jika Raya tahu soal alasan kenapa ia meminta Tan mengakhiri hubungan mereka.
Kali ini Yuki merasa tidak enak pada Raya. Akhirnya mau tidak mau ia juga menjelaskan pada Raya kenapa ia meminta Tan memilih dirinya atau tuan muda Aska.
"Nona sebentar lagi kami akan menikah, aku juga berat sekali mengakhiri semua cerita yang sudah kami rajut berdua. Tapi aku lebih takut lagi dengan resiko dari pekerjaan Tan"
Raya terdiam mendengarkan Yuki bicara. Ia bisa memahami kecemasan Yuki dengan pekerjaan Tan sebagai asisten utama pemilik Admaja Group. Hampir setiap hari Tan bergelut dengan bahaya, ia menyelesaikan permasalahan yang terjadi di perusahaan dan ia juga harus siaga menjaga Aska memastikan semua berjalan baik-baik saja untuk tuan mudanya.
__ADS_1
"Aku tahu kau cemas Yuki dan itu wajar. Aku sendiri juga mencemaskan suami ku sama seperti kau mencemaskan Tan. Tapi bukan kah jika kita mencintai seseorang dengan tulus kita akan mendukung dan mendampinginya selalu? karena hal itu juga yang aku lakukan pada Aska"
Giliran Yuki terdiam, ia sadar sudah egois tapi tetap saja ia ingin Tan meninggalkan keluarga Admaja jika mereka sudah menikah.
"Apa kau yakin akan berpisah dari Tan? apa kau tidak menyayangkan hubungan ini jika harus berakhir seperti ini Yuki?"
"Maafkan aku nona, aku terpaksa"
"Baiklah Yuki, sudah cukup aku bicara dengan mu. Aku tidak bisa lagi mencampuri terlalu jauh. Aku hanya ingin bertanya satu hal lagi sebelum aku pulang Yuki"
"Silahkan nona"
"Yuki apa kau yakin kalau kau akan bahagia setelah kau melepaskan dia?"
Air mata Yuki mengalir dan ia terdiam, Raya berdiri dan memegang bahu Yuki memberi semangat sebelum ia pergi meninggalkan restoran Jepang itu.
__ADS_1
Yuki seorang diri menangis di meja restoran, untung spot ya berada di sudut ruangan jadi tidak terlihat oleh pengunjung lain jika Yuki sedang menangis. Tapi tentu saja ia terlihat oleh seseorang yang sejak tadi berdiri di kejauhan memata-matai Raya dan Yuki.