Jodoh Dari Remaja

Jodoh Dari Remaja
Part 64 Ervan


__ADS_3

Ervan menghadiri undangan peresmian gedung di pusat kota. Gedung mewah nan megah itu di dirikan oleh pemilik Admaja Group yaitu tuan Bram Admaja. Gedung itu bisa di pakai untuk penyelenggaraan festival seni dan teater bisa juga di pakai sebagai gedung serba guna.


Ervan mendengarkan dan menyimak sambutan dari tuan Bram. Sudah sejak lama ia mengidolakan tuan Bram karena kesuksesannya membangun bisnis Admaja Group yang menggurita.


Ervan menanti sang tuan muda Aska Admaja. Ia menjabat sebagai presdir muda Admaja Group seharusnya ia juga ada di tempat itu. Tapi sampai acara selesai sang tuang muda tidak juga nampak batang hidungnya.


Kebetulan di ruangan itu berdiri Tan, Ervan masih ingat pria itu sebagai asisten pribadi Aska Admaja.


"Tuan Tan..." sapa Ervan.


Tan memandang Ervan dengan wajah datarnya. sepertinya memang sudah menjadi peraturan bagi siapa saja yang dekat dengan keluarga Admaja pasti bersikap kaku dan misterius termasuk Tan.


"Anda? ada apa?"


"Bisakah saya meminta wantu anda sepuluh menit saja? saya ingin bicara"


"Maaf saya sibuk"

__ADS_1


"Tapi ini tentang Aska dan Raya, bukan kah Aska adalah bos mu?"


"Baiklah, silahkan bicara"


"Sepanjang acara aku tidak melihat tuan Aska Admaja. Bukankah ia adalah presdir muda perusahaan? kenapa ia tidak hadir?"


"Maaf saya tidak bisa menjawab karena itu urusan pribadi tuan muda kami"


"Baiklah kalau begitu, aku ingin tahu apa sebenarnya hubungan Aska dengan Raya? apakah ada ikatan diantara mereka? maksudku hubungan asmara?"


"Saya tidak bisa menjawab yang bukan kapasitas saya. Ini urusan pribadi dan saya tidak bisa sembarangan bicara. Hanya saja saya akan memberi anda saran sebaiknya anda bertanya langsung pada Raya dan jika anda beruntung silahkan bertanya pada tuan muda"


Ervan duduk di sofa dan melepas jasnya.


"Kau tahu aku dari mana?" Raya menggelekan kepala sembari memandang penampilan Ervan yang berbeda dari biasanya. Ia nampak lebih rapi dan formal.


"Aku dari peresmian gedung di pusat kota. Gedung megah itu di bangun oleh pemilik Admaja Group yaitu tuan Bram, kau mengenalnya?" Raya gugup mendengar nama itu disebut. Raya menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Benarkah kau tidak tahu dia? sudahlah bukan itu tujuan pertanyaanku. Aku tidak melihat tuan muda Admaja, kira-kira dimana dia? kenapa tidak ikut peresmian, bukankah statusnya adalah presdir muda perusahaan?"


"Aku tidak tahu Ervan ...."


"Raya jika kau tidak menjawab ku maka aku akan mengutarakan perasaanku padamu. Aku anggap kau telah melupakan masa lalumu. Aku juga tidak perduli jika pria di masa lalumu adalah dia!"


"Maaf Ervan aku tidak enak badan sebaiknya kau pergi dulu"


Raya berjalan menuju pintu dan mengusir Ervan secara halus.


Ervan kekeh tidak mau menyerah. Ia bisa gila dengan semua teka teki yang di simpan Raya.


"Jelaskan padaku Raya dan jika nanti kau memintaku pergi aku akan pergi tapi setidaknya aku tidak terus penasaran"


Raya kembali duduk di sofa bersama Ervan yang bersiap mendengarkan ceritanya. Raya menceritakan dari awal pertemuannya dengan Aska hingga lika liku hubungannya dengan Aska.


Lama Raya bercerita dimulai dari senyum di wajahnya hingga air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Ervan merasa ikut sedih mendengar cerita Raya dan Aska.

__ADS_1


"Kau sudah mendengar semua, sekarang bisakah kau pergi dari sini? aku ingin beristirahat.


Ervan menurut, ia memandang iba pada Raya lalu melangkah pergi meninggalkan apartemen Raya. Rasa penasarannya telah terjawab. Ia bimbang sekarang tapi Ervan tidak akan menyerah. Ia akan mengungkapkan perasaannya pada Raya jika waktunya sudah tepat.


__ADS_2