
"Kalila!" Rama panik sembari mengguncang tubuh Kalila yang pingsan. Udara di pegunungan itu sangat dingin. padahal mereka sedang tidak berada di puncak hanya di post dua karena tujuannya hanya kemping ala Kalila.
"Kal bangun jangan membuatku panik atau aku akan sangat marah!" Rama mengangkat tubuh Kalila menuju pos kesehatan.
Tidak berapa lama Kalila tersadar, ia mengerjapkan matanya. Karena kelelahan dan suhu dingin membuat tubuhnya tidak bisa beradaptasi dengan baik.
"Maaf ..." Kalila memandang Rama ingin meminta maaf karena malah membuat pria itu repot. Tapi mau bicara banyak rasanya di kerongkongan kering dan sakit.
"Kita pulang saja" Rama memutuskan pulang karena melihat kondisi nona muda ini sudah tidak mungkin berada di gunung.
Aku sudah menduga pasti jadi begini, dasar anak manja...
Setelah mendapat bantuan dari tim penyelamat, Akhirnya Rama membawa Kalila ke rumah sakit di pusat kota untuk pemeriksaan apakah ada masalah kesehatan yang serius atau tidak.
Tengah malam ponsel Raya berbunyi, Ia membuka matanya dan dengan malas meraih ponsel di dalam nakas di samping tempat tidurnya.
"Iya halo..." kata Raya yang masih mengantuk.
"Raya maaf mengganggu mu ...."
"Ini siapa?" Raya menahan untuk tidak menguap.
"Kalila di rumah sakit"
__ADS_1
Raya langsung membulatkan matanya dan rasa kantuk pun menghilang begitu mendengar seseorang di telepon mengatakan hal serius dan sangat urgent.
"Rama?!"
Aska terbangun mendengar Raya terpekik memanggil nama Rama. Ia memandang istrinya takut jika istrinya sudah gila dan mulai mengigau nama pria lain.
Aska merebut ponsel yang menempel di telinga Raya.
Eh kenapa main rebut sembarangan, dasar tuan muda..
"Kau tidak tahu malu? kenapa menelpon di tengah malam buta seperti ini?"
"Aska aku sedang di rumah sakit sekarang, gadis bodoh itu pingsan sewaktu kemping"
"Aku sudah menduga, untuk apa kau menuruti kegilaan Kalila? bukankah....." belum selesai Aska mengomel Raya langsung mengambil alih ponselnya.
"Di pusat kota, kau tidak perlu kemari Raya aku hanya mengabari saja, besok saja kau kemari lagi pula Kalila hanya kelelahan saja"
"Baiklah, hati-hati dan jaga diri mu"
"Terimakasih Raya"
Telepon di matikan, Raya kembali meletakkan ponselnya di dalam nakas. Ia memandang Aska yang terlihat kesal.
__ADS_1
"Sayang kenapa kau menakutkan begitu?"
"Aku menakutkan?"
"Jangan marah sayang nanti kau cepat tua" Raya terkekeh karena Aska semakin terlihat kesal.
"Kalau tua juga aku akan tetap tampan"
"Iya ..iya....kau yang paling tampan" Raya tersenyum manis.
"Kau juga yang paling cantik" Aska mengecup kening Raya lalu keduanya kembali tidur karena jam baru menunjukan tengah malam.
Kembali di situasi rumah sakit. Kalila tergolek di ranjang rumah sakit dan Rama menungguinya sembari berbaring di sofa. Kalila berada di ruang rawat VVIP jadi Rama tidak perlu semalaman duduk di kursi menunggui Kalila.
"Kakak...." Kalila memanggil Rama dengan suara pelan karena dirasa tenggorokan masih sakit dan kering.
"Kalila..." Rama berjalan mendekat dan meraih telapak tangan Kalila ia menggenggamnya dengan lembut.
"Maaf jadi merepotkan mu"
"Sudahlah, jangan berpikir seperti itu. Lagi pula aku senang bisa berpetualang dengan mu meski sekarang kau harus berakhir di sini"
Kalila tersenyum dalam hati ia senang karena Rama sedang menggenggam tangannya. Rasanya halus dan hangat sekali.
__ADS_1
Rama mengerutkan keningnya melihat Kalila senyum-senyum sendiri sembari memejamkan matanya.
Gadis bodoh ini pasti sedang berkhayal! dasar merepotkan..!