
Aska sedang duduk di ruang meeting bersama ayahnya. Tuan besar nampak diam seperti biasanya. Aska juga tidak banyak bicara. Kesenjangan masih terasa di antara keduanya.
Tan sengaja menunggu di luar ruangan. Kali ini Aska memintanya pergi, biasanya ia akaan tetap berada di belakang Aska. Apa lagi jika berhadapan dengan tuan besar. Tapi kali ini berbeda.
"Bawa cucuku ke rumah, aku ingin melihat mereka"
"Baiklah lusa akan ku bawa mereka...bersama ibunya"
Tuan besar terdiam, Aska tahu ayahnya belum sepenuhnya menerima Raya.
"Terserah padamu, Raya adalah menantu ku tentu ia harus ikut ke rumahku"
Aska tersenyum, ia merasa kali ini ayahnya benar-bena tulus. Aska berdiri dari duduknya dan berjalan pergi. Di luar ruangan Tan menyambutnya dengan mimik wajah cemas.
"Tan antar aku pulang, dan kau bisa langsung pergi mengurusi urusan mu"
"Urusan saya? yang mana tuan?"
"Dasar bodoh kau Tan, jika urusan pekerjaan kau bisa sekali di andalkan. tapi menghadapi satu wanita saja kau tidak berani"
"Ehmmm! baiklah tuan, saya akan antarkan anda pulang, setelah itu saya akan mengurus masalah perjodohan tadi"
"Bagus .."
__ADS_1
Setelah mengantar Aska sampai di rumah, Tan bergegas pergi dengan mobilnya menuju restoran tempat Yuki bekerja. Ia sengaja menunggu Yuki pulang bekerja sembari memesan beberapa menu andalan di resto itu.
Yuki melihat Tan dari kejauhan sambil tersenyum cerah.
Kau terlihat selalu tampan wahai pria angkuh, Yuki melirik jam tangannya, hari sudah sore dan penampilan Tan masih terlihat sempurna seperti biasanya. Jas hitam, kemeja berwarna putih dan dasi yang selalu menggantung rapi. Wajah cool yang selalu sama di setiap situasi.
Baiklah kita lihat mau apa kau datang kemari, hanya berbasa-basi atau kau memang berniat menemuiku.
Yuki berjalan anggun menghampiri Tan yang meliriknya meski wajah pria itu tetap datar.
"Kau tidak bersama tuan muda?" tanya Yuki basa-basi.
"Kau sudah selesai bekerja?" Tan balik bertanya .
"Kalau begitu kembali ke pekerjaan mu, aku akaan menunggu mu sampai jam pulang. Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu" Tan menunduk pura-pura melihat-lihat daftar menu, padahal di depannya sudah tersaji beberapa porsi makanan yang tadi ia pesan.
"Tuan anda ingin bicara soal apa?"
"Tentang kita"
"Kita?!"
"Ku bilang kembalilah bekerja! aku akan menunggu mu"
__ADS_1
Yuki menurut saja dan kembali ke dapur, hatinya berdebar tak karuan mendengar ucapan Tan tadi.
Apa dia ingin menyatakan cinta pada ku?
Ah berpikir apa aku ini, mana mungkin Seorang Tan bisa menyatakan cinta pada gadis seperti ku?! memang dia tidak punya kriteria yang lebih baik dariku? jangan terlalu percaya diri Yuki!
Pulang bekerja Yuki di ajak oleh Tan ke sebuah taman. Disana keduanya hanya duduk diam memandangi danau kecil di tengah taman. Tan berdiri tenang, memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana. Sementara Yuki gelisah sedari tadi. Ia sibuk dengan pikiran dan imajinasinya.
Sebenarnya pria ini mau bicara apa?! kenapa hanya diam dari tadi!
"Kau pasti bertanya-tanya kenapa aku mengajak mu kemari"
Baguslah ternyata dia tidak gagu, kenapa dari tadi hanya diam. Cepat bicara tuan Tan!
"Yuki, apa kau mau mencoba berpacaran dengan ku?" suara Tan terdengar datar.
"Apa? maksud anda? mencoba berpacaran?"
Kenapa seolah dia sedang menawariku untuk mencoba makanan, memang pacaran bisa di coba? pacaran kok coba-coba......?!
"Kalau kau tidak mau yasudah"
"Eh saya ...iya baiklah kita coba, jadi apa status kita sekarang adalah pacaran?"
__ADS_1
"Hmmm..."