
Raya bersandar di bahu Aska yang juga sedang bersantai. Anak-anak sudah tidur. Mereka menikmati malam dengan obrolan panjang sebelum melepas lelah untuk tidur.
"Sayang apa menurut mu Tan menyukai Yuki?"
Aska mengerutkan keningnya, ia sedang menerka arah pembicaraan istrinya.
"Mungkin saja"
"Bagaiman kalau kau jodohkan saja mereka?" Raya semangat dan terlihat senang ketika mencetuskan ide itu. Ia terduduk menatap wajah Aska dengan penuh harap.
"Apa kau baru saja menyelesaikan drama yang kau tonton? aku yakin istriku pasti terpengaruh dengan drama picisan itu"
"Enak saja, sayang aku lihat Tan dan Yuki saling suka tapi mereka saling menunggu, ku rasa Tan terlalu gengsi jika mengutarakan perasannya. Mungkin kau bisa membantu Yuki"
"Membantu Yuki? untuk apa?"
"Agar Tan menyatakan cintanya pada Yuki!"
"Tan bukan orang yang bisa di paksa"
"Benar juga kalian berdua sama kakunya" Raya menghela napas.
"Apa maksudmu aku sama kakunya dengan Tan?"
"Oh tidak sayang aku hanya bercanda, besok bolehkan aku mengunjungi Yuki ke tempat kerjanya? aku dan anak-anak akan pergi di jam makan siang"
"Baiklah tapi hati-hati, bawa suster dan juga sopir untuk membantu mengawasi anak-anak kita"
__ADS_1
"Baik...oh ya sayang bagaimana kalau..." Raya belum sempat melanjutkan bicaranya tapi Aska sudah bisa menebaknya.
"Tidak bisa! Tan sibuk sekali besok, kami harus meeting ulang"
Raya memanyunkan bibirnya, ia menarik selimut lalu mengecup bibir Aska. Ia mulai memejamkan matanya. Aska membelai rambut Raya, ia lalu mematikan lampu dan ikut tertidur.
Di rumahnya Tan tidak bisa memejamkan matanya, baru kali ini ia di buat gila oleh seorang gadis. Sekarang ia tahu apa yang di rasakan Aska pada Raya. Pantas saja Aska sering bertindak di luar nalar, ternyata cinta memang gila.
Tan meraih ponselnya, ia hampir saja menelpon Yuki tapi segera ia tahan. Jam sudah larut pasti Yuki sudah tidur, pikir Tan.
Ia mencoba memejamkan matanya, esok hari ia tidak boleh sampai terlambat menjemput Aska ke kantor. Pagi sekali akan ada meeting ulang.
Aska berangkat ke Admaja Group, akan ada meeting besar disana termasuk meeting dengan sang ayah yaitu tuan Bram.
Tan sudah tiba di rumah Aska, ia menyiapkan mobil dan membawa tas kerja Aska yang berisi laptop dan beberapa dokumen penting.
"Apa anda sedang menghindari tuan besar?"
"Berani sekali kau bertanya padaku?!"
"Maafkan saya tuan"
"Tan nanti aku ingin bicara dengan mu tentang perjodohan"
"Perjodohan? tuan ingin mencari jodoh lagi?"
"Jangan gila kau Tan! jodohku hanya Raya, kami berjodoh sejak muda, sejak pertama bertemu dulu. Aku mencintainya dan dia tidak tergantikan posisinya di sisiku"
__ADS_1
"Lalu tuan ingin menjodohkan siapa? Kai? Deniz? Dizya?"
"Mereka masih batita, tentu saja aku akan menjodohkan dirimu!"
Tan menghentikan mobil dengan mendadak hingga Aska hampir menabrak kursi bagian depan.
"Sial kau! hati-hati bawa mobil!"
"Maaf tuan muda, tapi anda akan menjodohkan saya dengan siapa?"
"Memangnya kau berharap di jodohkan dengan siapa? dasar bodoh. kau sama pecundangnya dengan ku Tan. Dulu aku juga tidak berani menyukai Raya secara terang-terangan. Kau juga diam-diam menyukai Yuki bukan?"
Tan menjalankan kembali mobilnya dengan perlahan. Ia tenang setidaknya Aska tahu jika Tan menyukai Yuki.
"Kenapa tiba-tiba tuan ingin menjodohkan saya dengan Yuki?"
"Kau pikir aku tidak ada pekerjaan sampai mengurusi tentang jodoh mu?! jelas itu ide Raya"
"Oh, lalu kenapa tuan tidak menolak ide nona?"
"Apa kau pikir aku bisa menolak keinginan Raya? ia terus saja mengoceh soal kau dan Yuki"
Tan terdiam, ia pura-pura mengacuhkan ide perjodohan itu.
"Tan, setelah meeting kita hari ini, akan ku beri kau kelonggaran agar kau bisa bersenang-senang, dekati gadis itu jika kau memang menyukainya"
"Akan saya pikirkan tuan"
__ADS_1
"Sial! kau jual mahal rupanya!"