
"Anak nakal kau berhasil! cepat masuklah" kata bibi Jang yang datang menghampiri Raya dengan payungnya. Di luar masih turun hujan, Raya basah kuyup dan menahan rasa dingin.
"Apa maksud bibi?"
"Tuan besar sudah tahu usahamu, ia tidak lagi mengurung tuan muda. cepat temui dia"
Raya tersenyum lega, paling tidak Aska tidak lagi menderita karena di skap oleh ayahnya. Raya di antar bibi Jang berjalan menuju kamar Aska. Pria itu tergolek di ranjang dengan infus di tangannya.
Raya langsung memeluk Aska sementara nyonya Ariani menyeka air matanya.
"Kalian bicaralah, mama keluar dulu"
Kini tinggal Aska dan Raya di ruangan itu. Aska memeluk Raya erat sekali. Ia menangis di bahu Raya. Menyadari perjuangan gadis itu untuknya Aska berjanji tidak akan melepaskan Raya sampai kapanpun. Sekalipun ayahnya marah besar dan mengusirnya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Aska yang melihat baju Raya basah kuyup. Raya mengangguk dan tersenyum.
"Sekarang makanlah sedikit agar kau tidak sakit" Raya meraih makanan yang baru saja bibi Jang letakkan di atas meja dekat tempat tidur Aska. Dengan sabar Raya menyuapi Aska makan.
"Selesai menyuapi makan, Raya bergegas mengganti perban di tangan Aska. Pria itu terluka karena tangannya pasti menghantam cermin hingga terkena pecahan kaca.
"Kenapa kau melukai dirimu sendiri?" tanya Raya cemas sembari membuka perban di telapak tangan Aska. Pria itu hanya terdiam dan terus memandangi wajah Raya. Aska mengecup bibir Raya lalu kembali memeluknya.
***
Keesokan harinya Raya berangkat bekerja seperti biasanya. Ia bertemu Shanon di loby kantor.
"Hai Raya..." sapa Shanon lebih dulu.
__ADS_1
"Hai nona.."
"Bagaimana kondisi Aska?"
"Sudah lebih baik, kenapa anda tidak menjenguknya?"
"Tidak Raya, jika aku datang ke rumahnya dan orang tuanya tahu, mereka akan berpikir kami baik-baik saja dan masih memiliki hubungan istimewa. kenyataannya kami hanya teman"
"Mungkin anda bisa menelponnya" kata Raya.
"Raya aku sudah bilang pada orang tuaku dan juga pada tuan Bram agar pertunangan ini di batalkan"
"Boleh saya bertanya satu hal nona?"
"Silahkan Raya"
"Jika aku bilang tidak tertarik dengan Aska itu jelas bohong. Ia pria mapan yang tampan dan sempurna untuk menjadi calon suami ku. Tapi aku tidak ingin bersama dengan orang yang tidak mencintaiku jadi jawabanku aku tidak tertarik dengan pertunangan itu"
Raya tertegun dengan jawaban Shanon. Ia tidak mengira jika Shanon benar jatuh hati pada Aska.
Shanon berjalan lebih dulu menuju ruang kerjanya sementara Raya bergegas menuju ruang meeting. Ia harus menyiapkan materi untuk presentasi nanti.
Tuan Bram bersama asistennya mendatangi tempat kerja Raya. Ia sengaja meluangkan waktu untuk bertemu gadis itu. Raya merasa takut dengan tatapan kedua pria dewasa di hadapannya. Tuan Bram dan asistennya bukan lah tandingan Raya. Dalam sekejap mereka bisa saja menghancurkan Raya.
"Gadis pintar aku ingin membuat kesepakatan sekali lagi denganmu, ini untuk terakhir kalinya" kata tuan Bram.
Raya bergidik mendengarnya, Keringat dingin terlihat di dahinya.
__ADS_1
"Aku ingin menawarimu suatu pekerjaan agar kau bisa dekat dengan Aska, bagaimana?"
"Pe..pekerjaan apa tuan?" tanya Raya gugup.
"Kau bisa satu rumah dengan kami dan setiap hari bahkan kau bisa bertemu Aska asalkan ....kau mau menjadi pelayan di rumah kami"
"Pelayan?"
"Tentu saja! bukankah kau terbiasa dengan hal semacam itu? mengerjakan pekerjaan rumah tentu kau sudah lihai bukan?"
Raya tahu tuan Bram sedang merendahkan harga dirinya dengan menjadikannya pelayan di rumah mewah milik keluarga Admaja itu.
"Sebaiknya kau terima tawaranku Raya, sebentar lagi tuan Wang akan memecatmu dari sini dan toko kue milik ibumu yang selama ini menjadi sumber mata uang kalian akan hancur"
Mendengar toko kue ibunya terancam hancur Raya meneteskan air matanya. Susah payah ibunya membangun toko kecil itu. Dan selama ini dari sanalah keluarganya bertahan hidup.
"Saya mohon jangan lakukan itu tuan"
"Raya sudah ku bilang ini kesepakatan jika kau tidak mau artinya kita tidak sepakat dan aku tidak suka itu"
"Baiklah tuan saya bersedia menjadi pelayan di rumah anda"
"Gadis baik, kau cerdas sekali Raya. Tidak sulit berkomunikasi dengan gadis sepintar dirimu"
Raya terdiam masih ketakutan. Ruang meeting yang tadinya akan menjadi tempat presentasi malah jadi ruang interogasi bagi Raya. Tidak ada pilihan lain. Ia harus mau menuruti perintah tuan Bram.
Raya berjalan menuju meja kerjanya. disana sudah ada amplop putih berisi surat pemecatan dari perusahaan. Shanon menatapnya iba. Ia juga tidak bisa membela Raya. Perusahaan tuan Wang di bawah kendali Admaja Group karena itu Shanon dan keluarganya begitu berhati-hati menghadapi tuan Bram.
__ADS_1