
Tan menelpon ke rumah Aska tapi tidak ada yang mengangkat telepon.
Kemana para pelayan? kenapa tidak ada yang mengangkat telepon.
Tan melirik ke arah tuan mudanya yang terdiam mengamati layar laptop.
Sepertinya tuan muda sedang sibuk, lebih baik aku check sebentar ke rumah.
Ponsel di saku Tan berbunyi, ia mengamati layar ponselnya, Raya menelpon. Tan bergegas menghentikan langkahnya dan mengangkat telepon.
"Nona.."
"Tuan Tan..."
"Halo ...! ada apa dengan nona?!" wajah Tan terlihat panik. Ia tahu yang menelponnya adalah pelayan dan bukan Raya.
"Jawab! apa terjadi sesuatu?!"
"Nona di rumah sakit tuan, tadi nona tersenggol mobil"
"Bagaimana keadaan nona?"
"Nona Raya sedang di tangani dokter saya tidak tahu kondisinya, kami ada di rumah sakit milik Admaja Group"
Tan menghela napas dan mematikan telepon. Ia sedang menyiapkan mental untuk bicara dengan Aska.
Tan membuka handel pintu dengan perlahan. Aska sedang menatapnya.
"Tan kenapa? kau terlihat panik?"
__ADS_1
"Tuan muda, ....nona....."
belum sempat Tan melanjutkan bicaranya Aska sudah bangun dari duduknya. Ia berjalan mendekati Tan dan mencengkram jas yang di kenakan Tan.
"Ada apa dengan Raya ku?! katakan!" bentakan Aska berdenging di telinga Tan. Mata Aska memerah dan napasnya memburu.
"Nona kecelakaan dan sekarang di rumah sakit"
Aska terdiam sesaat, Tan bisa merasakan cengkraman tangan Aska mengendur.
"Kenapa bisa Raya kecelakaan?! apa saja yang di kerjakan anak buah mu di rumah ku?!"
"Dasar brengsek kalian!" Aska panik sekaligus emosi. Ia berlari menuju lift untuk turun ke lantai utama. Tan mengikuti dari belakang, keduanya saling diam. Air mata Aska menetes membayangkan sesuatu terjadi pada Raya.
Aska mengusap cincin pernikahan yang melingkar di jarinya.
Raya sayang, ....
Aska terlihat menahan air matanya. Ia benar-benar takut jika terjadi sesuatu pada Raya.
Mobil tiba di rumah sakit, Aska berlari menuju resepsionis. Semua petugas dan dokter berdiri berjajar. Mereka juga terlihat takut dan cemas.
"Dimana istriku?!"
"Mari ikut dengan saya tuan muda"
Seorang dokter mengarahkan Aska ke ruang rawat VVIP.
"Raya .." Aska masuk perlahan kedalam ruangan. Raya terlihat terbaring dengan perban kecil di keningnya.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Raya?"
"Silahkan ikut bersama saya tuan, kita tidak bisa bicara disini"
Dengan wajah kesal dan menahan amarahnya Aska mengikuti langkah dokter. Semua takut suasana jadi tegang. Tan yang sedari tadi berdiri di belakang Aska juga pasrah. Ia tahu Aska marah besar padanya.
"Katakan" suara Aska dingin dan mengintimidasi. Dokter melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya.
"Nona tertabrak mobil, ia terjatuh dan ....nona keguguran tuan"
Aska menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Hatinya hancur membayangkan Raya jika tersadar nanti.
"Kami sudah memberikan penanganan medis, kita tinggal menunggu pemulihan nona"
"Apa istriku baik-baik saja?"
"Iya bisa di bilang nona tidak mengalami luka serius"
Aska berjalan gontai kembali ke ruang rawat Raya. Ia duduk di samping ranjang Raya.
Aska mengecup kening Raya berkali-kali sembari mengusap lembut wajah Raya.
Tan tidak berni menatap Aska, ia hanya menunduk di luar ruang rawat.
Maafkan saya tuan, saya sudah lalai menjaga keluarga Admaja. Saya pantas menerima hukuman....
"Tan ...."
Tan bergegas mendekat ke arah Aska. Ia menunduk mendengarkan tuan mudanya akan bicara.
__ADS_1
"Pulanglah, kau sudah bekerja keras hari ini. Besok aku ingin bicara dengan mu"
Tan terdiam, kali ini ia tidak mengiyakan perintah Aska tapi juga tidak berani menolaknya. Tan tetap mematung di depan ruang rawat Raya. Ia tidak mungkin meninggalkan tuan mudanya di saat seperti ini.