
Selesai dari pameran jam sudah menunjukan hampir tengah malam. Arsen keluar dari mobil bersama dengan Naila. ia langsung berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya. seharian menunggu Naila dan Pitt berbenah toko membuat Arsen lelah dan jengah.
"Buatkan aku minuman hangat" kata Arsen pada Naila.
Naila diam, ia pergi ke dapur untuk membuat secangkir teh camomile. para pelayan sudah beristirahat jadi Naila tidak enak membangunkan mereka. Naila membawakan sepotong kue pie susu untuk Arsen sebagai teman minum teh.
tuk..tuk..
Pintu kamar Arsen di ketuk dari luar.
"Hmm masuk!"
"Ahhh!" Naila terkejut langsung memejamkan matanya. kedua tangannya memegang nampan berisi teh dan kue. ia baru saja melihat Arsen hanya dengan handuk putih yang melilit di pinggangnya. menampakkan otot tubuhnya yang sempurna.
"Kenapa? kau tidak pernah melihat pria telanjang?" Arsen malah menggoda Naila. ia sengaja berlama-lama tidak memakai bajunya. Naila tidak memandang Arsen ia meletakkan nampan itu di atas meja.
"Ini teh hangat dan kue, aku pergi dulu" kata Naila bergegas menuju pintu kamar tapi Arsen mencegahnya. sebelah tangan Arsen menghalangi Naila.
"Kenapa kau terlihat canggung seperti itu? bukankah kita sudah menikah? kau takut tertarik pada tubuhku?"
"Jangan ngawur Arsen! aku lelah mau istirahat"
"Hei enak saja kau kira aku tidak lelah? sini cepat pijiti bahuku"
"Apa memijat mu?!" Naila terbelalak kaget.
"Kenapa? bukankah perintah suami harus di turuti? aku lelah seharian melihat mu beberes toko"
Sejak kapan hanya melihat saja bisa kelelahan? dasar aneh banyak alasan! bilang saja kau mau mengerjai ku!
__ADS_1
"Ayolah, aku sudah membeli banyak koleksi di toko mu apa kau tidak bisa berlaku baik padaku?"
"Iya, sudah jangan berisik aku akan memijat mu!"
Arsen duduk di depan meja rias sementara Naila berdiri di belakangnya memijat bahu Arsen.
"Pakai tenaga mu! suamimu yang meminta di layani apa kau mau mengelak?!"
"Iya!" Naila mulai menekan kuat pijatannya di bahu Arsen. pria itu meringis kesakitan.
"Aouhh! sudahlah kau bisa mematahkan bahuku! pergilah ke kamar mu dan cepat tidur!" kata Arsen berbalik menatap Naila dari tempatnya duduk.
Naila berjalan keluar dari kamar Arsen. ia merasa lelah sekali dan ingin mandi air hangat lalu tidur.
***
"Dimana Naila? kenapa tidak turun untuk makanan pagi?" tanya Arsen pada pelayan.
"Nyonya belum nampak sejak pagi tuan"
Arsen terdiam, ia menyendok salad di piringnya lalu mengunyahnya. merasa tidak tenang Arsen meninggalkan ruang makan berjalan menuju kamar Naila di lantai dua. ia mengetuk pintu kamar Naila tapi tidak ada jawaban.
"Naila buka pintu!" teriak Arsen kesal.
"Pitt!...Pitt!"
"Iya tuan" Pitt datang menghampiri Arsen.
"Dobrak pintu kamar ini!"
__ADS_1
"Baik tuan" Pitt bersiap menendang pintu kamar Naila. hanya dengan satu Demangan saja pintu itu berhasil terbuka.
"Naila?!" Arsen melihat istrinya meringkuk di atas tempat tidur menahan rasa sakit.
"Kau kenapa?" Arsen memandang wajah Naila yang pucat dan berkeringat. ia menyentuh kening Naila dengan telapak tangannya.
"Kau demam!"
"Saya akan panggil dokter Hendra tuan" kata Pitt berinisiatif.
"Tidak! bawa saja Naila ke rumah sakit"
Pitt bergerak mendekati Naila ia hampir menggendong tubuh Naila dan mengangkatnya dari tempat tidur.
"Kau mau apa?!" Arsen mendorong tubuh Pitt.
"Membawa nyonya ke mobil kata tuan kita mau ke rumah sakit"
"Iya tapi aku tidak memintamu menggendong Naila!"
"Oh maaf tuan"
Arsen bergerak menyelipkan kedua lengannya di bahu dan temukan kaki Naila. ia mengangkat Naila dari atas tempat tidur. membawanya menuruni anak tangga dan berjalan menuju mobil.
Pitt bergegas membuka pintu mobil. Arsen duduk di kursi belakang. sementara Naila tidur meringkuk berbantalkan paha Arsen.
"Cepat Pitt!"
"Iya tuan" Pitt menambah kecepatan mobilnya membelah jalanan pagi menuju rumah sakit terdekat.
__ADS_1