
Pagi sekali Aska sudah siap dengan stelan kerjanya. Tan juga sudah tiba di rumah itu.
"Sayang ..." Aska memanggil Raya yang sedang menyisir rambutnya.
"Sudah mau berangkat?"
"Iya, sekarang cium aku" Kata Aska sembari menggoda Raya. Ia menjahili Raya dengan mendekatkan wajahnya lalu menjauh, mendekat lagi dan menjauh lagi. Raya tertawa gemas ia menarik jas Aska dan nerjinjit untuk mencium suaminya yang usil itu.
Tan yang jomblo pagi-pagi sudah di suguhi pemandangan yang membuatnya iri.
"Ehm...maaf tuan saya akan memanasi mesin mobil" kata tan sambil berjalan menuju halaman depan.
"Ini gara-gara kau sayang lihatlah Tan jadi iri kan" Aska tertawa kecil dan kembali ******* bibir Raya.
Tan membukakan pintu mobil ketika Aska berjalan mendekat padanya.
"Tan..."
"Iya tuan muda"
"Kau masih belum memiliki pacar?"
"Belum tuan"
"Carilah wanita dan menikahlah!"
"Baik tuan" jawab tan sambil menahan gemas.
Sementara Aska sudah berangkat bekerja, Raya bersiap utnuk berkebun di halaman samping. Telepon rumah berdering, Raya meletakkan sarung tangan dan skop untuk berkebun. Ia berlari meraih gagang telepon.
"Iya...dengan siapa ini?"
"Raya.....ini mama"
Raya terdiam yang menelpon adalah ibu mertuanya. Suaranya begitu terdengar sendu.
__ADS_1
"Mama apa kabar?"
"Baik, Raya bisakah kita bertemu sebentar?"
"Tentu saja ma, Raya akan ke rumah"
"Ke rumah? tapi..."
"Tidak apa ma Raya mengerti, jika nanti papa menolak kita bisa bertemu besok di tempat lain. Ma boleh kah Raya datang ke rumah?"
"Mama senang sekali Raya...datang lah"
Raya memantapkan hatinya dan mengumpulkam keberanian untuk pergi ke rumah keluarga Admaja. Ia mengganti dressnya dengan dress panjang motif bunga-bunga dan menggerai rambut indahnya. Raya menyiapkan bingkisan untuk ia bawa ke rumah mertuanya.
Sebaiknya aku tidak perlu memberi tahu Aska, ia nanti pasti melarangku....nanti saja aku akan bercerita padanya sepulang dari rumah mama.
Raya memesan taxi dan pergi menuju kediaman keluarga Admaja. Siang itu masih terhitung jam kerja. Kemungkinan ayah mertuanya masih di kantor.
Taxi berhenti di depan pintu gerbang tinggi. Kepala keamanan membuka pintu gerbang dengan wajah terkejut.
"Nyonya Ariani yang mengundangku..." kata Raya seraya memasuki halaman rumah yang luas dan tidak berubah sejak dulu.
"Kau semakin cantik Raya..."
"Terimakasih ma, ini ada sedikit bingkisan buat mama"
"Raya bagaimana kabar Aska?" mata nyonya Ariani berkaca-kaca saat menyebut nama anak lelakinya.
"Baik ma, ia terlihat seperti Aska yang biasanya"
"Raya apapun yang terjadi mama minta jangan tinggalkan Aska. Temani dan jaga dia"
Raya mengangguk menahan tangis.
"Bibi Jang dimana ma?" nyonya Ariani terdiam dan terlihat sedih. Ia mengajak Raya menuju kamar bibi Jang yang sednag beristirahat. Bibi Jang nampak lebih tua dan sepertinya sedang sakit.
__ADS_1
"Nyonya tuan besar sebentar lagi kembali" kata Maya pelayan setia di rumah itu.
"Raya pulanglah besok kita bertemu lagi di tempat lain"
"Tapi ma, Raya ingin bicara dengan tuan Bram"
"Raya pergilah nak, belum tepat saatnya jika kau harus menghadap papa seorang diri tanpa kehadiran Aska"
Nyonya Ariani mencemaskan menantunya dan segera meminta Raya pergi di antar sopir pribadinya.
Setibanya di rumah Raya mengganti bajunya dan bersiap memasak makan malam. Tidak berapa lama terdengar suara Tan membuka pintu mobil. Aska sudah tiba di rumah. Raya menyambutnya di depan pintu.
"Hai sayang kau masih terlihat segar meski sudah menjelang malam. Rasanya aku ingin menggigitmu!" Aska kembali jahil dan menghoda Raya di hadapan Tan yang terlihat jengah. Memasuki ruang tengah Aska melihat beberapa bingkisan.
"Kau memborong belanjaan?"
"Tidak sayang, tadi aku berkunjung....." Raya gugup mengatakannya pada Aska.
"Kau berkunjung ke rumah ibu?"
"Ke rumah mama" jawab Raya lirih. Tan yang mendengar ikut terkejut dan menyimak obrolan tuannya.
"Aku tadi siang berkunjung ke rumah keluarga Admaja. Aku mengunjungi mama dan bibi Jang"
Aska melepaskan tangannya yang merangkul bahu Raya sejak tadi. Wajahnya menegang dan ia duduk diam di sofa. Raya dan Tan saling lihat takut suasana jadi kacau karena mood Aska yang memburuk tiba-tiba.
"Sayang maaf tidak meminta izin padamu terlebih dulu" Raya hampir menangis.
"Apa kau bertemu ayahku?" Raya menggeleng.
"Tuan besar bekum pulang saat aku kesana"
"Lain kali bicaralah padaku jika kau akan ke rumah itu. Raya aku tidak mau sampai terjadi sesuatu padamu" Raya memeluk Aska dan meminta maaf.
"Apa sangat berat menjadi istriku? kau harus menghadapi masalah keluarga sepeti ini"
__ADS_1
"Aku tidak keberatan asal bersama dengamu" bisik Raya mesra di telinga Aska.
Lagi-lagi Tan jengah dan melonggarkan dasinya karena melihat kemesraan dua sejoli di hadapannya. Ia mulai berpikir untuk tidak menjomblo lagi.