
Nara menyiapkan stelan kerja untuk Kai. Ia meraih dasi dari lemari aksesoris. Jam tangan juga Nara yang memilihkan sekarang.
Kai keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggangnya. Ia mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Nara berjalan keluar kamar tanpa memandang Kai yang telanjang dada.
"Mau kemana?" Kai menarik lengan Nara.
"Mau keluar, anda silahkan pakai baju"
"Kenapa harus keluar? bukankah kita suami istri? lagi pula kau juga sudah melihat semua bukan?"
Wajah Nara memerah dan ia terlihat canggung.
Kenapa dia selalu mengungkit hal tidak penting itu?! aku kesal mendengarnya! -Nara-
Nara tetap berada di dalam kamar selama Kai berganti pakaian. Ia mengalihkan pandangannya pada meja rias.
"Lakukan tugas mu" Kai menyerahkan dasi pada Nara.
"Saya mau bicara" kata Nara sembari mengikat dasi. Kai menunduk memandang Nara.
"Ada apa?"
"Bolehkah toko bunga kita bergabung dengan Wedding organizer?"
"Untuk apa?"
"Agar lebih maju, kalau kita bergabung dengan WO pasti akan lebih menguntungkan"
"WO apa yang bekerja sama dengan mu?"
"Y&J, anda pernah mendengarnya?" tanya Nara dengan mata berbinar.
"Tidak!"
"Jadi bolehkah saya tanda tangan kontrak dengan Y&J"
__ADS_1
"Akan ku pikirkan"
"Saya mohon sayang" Nara hampir menggigit lidahnya, ia tidak sadar apa yang baru saja ia katakan pada Kai.
Kai tersenyum kecil mendengar Nara mencoba merayunya.
"Kau bilang apa? berani sekali kau memanggilku dengan sebutan itu"
"Maaf saya tidak sengaja"
"Ulangi cepat aku ingin mendengarnya sekali lagi!"
Kenapa malah ketagihan?! -Nara-
"Apa boleh saya bekerja sama dengan Y&J sa...sayang?" Nara menyesal telah menyebut kalimat itu.
"Baiklah akan ku izinkan dengan satu syarat, kau harus sudah di rumah ketika aku pulang dan untuk panggilan itu lanjutkan aku tidak keberatan"
"Baiklah saya janji" mata Nara kembali berbinar dan ia menampilkan senyum termanisnya.
Gadis nakal pandai sekali kau merayuku!.
"Aku ingin jus jeruk"
"Baiklah" Nara bergegas membuatkan jus jeruk untuk Kai.
Wajah Kai terlihat lebih ceria di banding biasanya. Ia lebih banyak tersenyum pagi itu. Hendra yang berdiri tidak jauh dari Kai terlihat curiga.
"Tuan apa terjadi sesuatu?" tanya Hendra.
"Terjadi apa?"
"Anda terlihat bahagia hari ini"
"Hen aku akan memberitahu mu tapi kau jangan iri. Gadis itu tadi pagi merayuku dan ia memanggilku sayang" Kai menggeleng sembari tersenyum.
Oh jadi semua karena Nara memanggil anda sayang. Begitu saja anda sudah melayang-layang tuan! Anda bilang anda tidak menyukai Nara?!
__ADS_1
"Oh ya ada tugas untuk mu, pantau terus wedding organizer yang bekerja dengan Nara"
"Baik tuan"
"Oh ya apa kakek ku akan ikut meeting hari ini?"
"Tidak tuan, meeting nanti akan di pimpin tuan Deniz"
"Bagus biarkan dia memimpin meeting karena aku ada urusan lain. kita ke toko bunga Nara"
"Ke toko bunga? untuk apa tuan?"
"Jangan banyak bertanya, kau pikir untuk apa aku meluangkan waktu ke toko bunga itu? aku ingin melihat wajahnya" Kai tersenyum.
"Apakah anda jatuh cinta dengaan nona Nara tuan?"
Kai tertegun mendengar pertanyaan Hendra. ia langsung berkelit.
"Memangnya kalau aku ingin melihat toko bunga ku, apa kau kira aku jatuh cinta pada si penunggu toko?!"
"Maaf tuan"
"Hen jangan ulangi pertanyaan bodoh itu dan jangan berpikir aneh-aneh bahwa aku akan menyukai gadis itu"
"Baik tuan"
***
"Dimana Bastian?!" Deniz terlihat marah dengan anak buahnya.
"Sepertinya tuan Kai membawa Bastian tuan"
"Apa maksud mu?!" Denis menatap tajam ke arah anak buahnya yang bicara.
"Terakhir saya melihat sekretaris Hendra berbicara berdua dengan Bastian lalu setelah itu tidak ada kabar lagi dari Bastian"
"Sial! jangan sampai Bastian buka mulut! cari tahu dimana kakak ku menyekap si bodoh itu lalu habisi dia sebelum dia buka mulut pada Kai!"
__ADS_1
"Baik tuan"
Kalau Bastian buka mulut soal kerjasama ku dengannya, aku bisa kehilangan kesempatan untuk mendekati Nara dan juga Kai pasti tidak akan membiarkan aku memimpin Admaja Group. Ia pasti akan menjegal ku dan mengadu pada papa.