
"Kau sudah pulang? apa meeting sudah selesai?" tanya Naila begitu melihat Arsen datang membawa buket bunga, sekantung camilan dan sekotak coklat.
"Ini untukku?" Naila menerima buket bunga itu dari Arsen yang diam tidak mengatakan apapun.
"Apa sudah merasa baikan?" tanya Arsen sembari menarik kursi dan duduk di samping ranjang Naila. wajah tampannya terlihat sedikit lelah.
"Hmm aku sudah tidak apa-apa besok pagi kita pulang saja ya?"
Arsen mengangguk sembari memalingkan pandangannya dari mata bulat Naila. ia masih saja gengsi pada istrinya itu.
"Kau menyempatkan membeli bunga dan semua ini terimakasih ya" kata Naila senang.
"Pitt yang membelinya bukan aku"
Naila mendelik, jelas saja Pitt yang membeli semua itu mana mungkin tuan Arsen repot-repot membeli bunga, camilan dan juga coklat. itu terlalu sweet bagi seorang Arsen yang termasuk dalam katagori pria cool dan cuek.
"Oh ya tadi dokter Hendra kemari, ia hanya menjengukku saja" kata Naila berhati-hati sedikit khawatir jika Arsen akan marah. Arsen mengangguk seraya tersenyum kecil. ia berdiri merapikan selimut Naila.
"Tidurlah! aku lelah!" kata Arsen sembari memaksa Naila berbaring.
Dia ini kenapa sih dari tadi hanya diam saja! kasar sekali memaksa orang untuk tidur!
__ADS_1
Arsen berbaring di sofa besar yang ada di ruangan Naila. ia memejamkan matanya karena memang merasa lelah seharian ini meeting panjang seperti kereta.
Naila memiringkan badannya menatap ke arah Arsen yang nampak sedang tertidur pulas. dalam hitungan detik Naila ikut tertidur pulas.
***
Paginya Naila sudah bisa pulang dari rumah sakit Pitt menjemput Naila dan Arsen. ia sekaligus membawakan baju ganti untuk Arsen.
"Kau pulanglah bersama Pitt aku akan ke perusahaan" kata Arsen.
"Pitt atur jemputan untukku, aku akan mandi di hotel saja"
"Baik tuan"
Dasar Arsen Admaja!
"Mari nyonya kita pulang" Pitt meraih tas berisi baju Naila. ia membawanya sambil mempersilahkan Naila untuk pergi.
"Baiklah" Naila melirik Arsen Yang sibuk dengan ponselnya dan tidak menghiraukan istrinya.
Begitu Naila pergi Arsen meletakkan ponselnya. cukup sulit untuk memulai tanpa gengsi. Arsen mengaduk rambutnya dengan gemas. ia bergegas meraih stelan jasnya dan pergi meninggalkan rumah sakit. Di loby Arsen berpapasan dengan Hendra.
__ADS_1
"Arsen?...apa Naila sudah pulang?" tanya Hendra.
Arsen hanya diam, ia benar-benar malas bertemu Hendra saat ini. Hendra menepuk bahu Arsen sambil tersenyum ia hampir melangkah pergi.
"Tunggu! jangan dekati dia" kata Arsen.
Hendra berbalik kembali menatap Arsen dengan wajah serius.
"Naila maksudmu? kenapa aku tidak boleh mendekatinya?"
Arsen menahan kesal setengah mati pada Hendra.
Dasar tidak tahu diri mengganggu istri orang! brengsek!
"Karena dia milikku" kata Arsen.
"Kalau dia milikmu hargai keberadaannya di sisimu dan bahagiakan dia, jangan sampai orang lain memanfaatkan celah dan mengambilnya darimu" Hendra berjalan pergi sementara Arsen terdiam menahan emosi.
Arsen melirik jam tangannya dan bergegas pergi. mobil jemputan sudah menunggu Arsen di depan rumah sakit.
"Kita ke hotel dulu"
__ADS_1
"Baik tuan"
Admaja group juga terkenal dengan salah satu bisnis perhotelan mewah yang mereka miliki di pusat kota. petinggi dari bisnis itu masih di pegang oleh mama Sara sementara Arsen ia mewarisi bisnis Admaja Group lainnya.