
Naila membuka matanya perlahan ia bergerak terasa ngilu semua tubuhnya. Naila menarik selimut tebal hingga menutup lehernya. kepingan kejadian semalam terbayang di benak Naila. ia memegang keningnya sembari bersandar di tumpukan bantal yang empuk.
Pandangan Naila mengarah ke sofa, ia menatap Arsen yang tersenyum manis mengangkat secangkir kopi dengan gerakan seperti cers. Arsen sudah terlihat rapi dengan stelan jasnya. rambutnya juga sudah terlihat klimis wajahnya nampak segar dan ceria.
Berbeda dengan Naila yang merasa Malu, wajahnya memerah dadanya bergemuruh mengingat kejadian semalam. Naila memalingkan wajahnya mencari kimono untuk ia kenakan.
Arsen menahan tawanya melihat wajah Naila memerah ia berdiri dari duduknya meraih kimono yang terlipat rapi di atas meja di samping ranjang. dengan gerakan menggoda Arsen menyerahkan kimono itu pada Naila.
Naila bergegas mengenakan kimononya lalu berjalan menuju kamar mandi. pagi itu Naila mandi lebih lama dari biasanya. ia merenung, menangis, kesal tapi juga bimbang didalam kamar mandi.
tuk..tuk..
Pintu kamar mandi di ketuk sudah pasti Arsen yang melakukannya. pria itu tidak sabar menunggu istrinya mandi lama sekali.
"Nai, cepat keluar atau aku masuk kedalam kamar mandi?!" kata Arsen berhasil membuat Naila menarik handel pintu kamar mandi. Naila tampak canggung, rambut kemerahan sebahu itu terlihat basah ia belum sempat mengeringkan dengan handuk karena Arsen berteriak dari luar kamar mandi.
"Mana handuknya?" tanya Arsen sembari mengulurkan tangannya. Naila menyerahkan handuk putih tanpa bicara. Arsen meraih lengan Naila menuntunnya duduk di depan meja rias. dengan cekatan Arsen mengeringkan rambut Naila menggunakan handuk.
__ADS_1
"Kenapa diam saja?" tanya Arsen.
Dia masih bertanya kenapa aku diam? aku tidak seperti mu tuan Arsen yang tidak punya malu!
"Sepertinya kau kesal, lihat wajah mu seperti kurang puas?" Arsen menatap bayangan wajah Naila yang terpantul di cermin rias. pria itu menunduk membisikan sesuatu di telinga Naila yang berhasil membuat merinding.
"Bagaimana jika aku memuaskan mu sekali lagi?" bisik Arsen dengan suara berat mendesis.
***
"Pagi tuan" sapa Pitt yang berdiri di loby kantor menyambut kedatangan CEO Admaja Group. Arsen nampak sumringah pagi itu, tidak seperti biasanya yang selalu diam dan dingin saat melewati jajaran meja para staf kali ini bahkan Arsen tersenyum lebih dulu ke arah para pekerjanya.
Pitt menggelengkan kepalanya membalas tatapan mata yang terhujam ke arahnya.
Pitt membukakan pintu ruang kerja Arsen. ia segera meminta OB untuk membawakan kopi yang sesuai dengan selera si bos.
"Pitt apa schedule hari ini?"
__ADS_1
"Seperti biasa meeting panjang di awal bulan tuan"
"Baiklah jam berapa meeting di mulai?"
"satu jam lagi tuan" Pitt juga terlihat heran bahkan Arsen tidak mengeluhkan soal meeting awal bulan yang membosankan. ia juga tidak marah-marah ketika ada kesalahan kerja yang di lakukan seorang staf hari itu.
Hmmm apa yang sebenarnya terjadi di hotel semalam? kenapa anda terlihat begitu ceria tuan Arsen?!
"Mana ponselku?!" Arsen mengulurkan tangannya meminta benda yang di pegang oleh Pitt sejak tadi.
"Oh ini tuan, anda akan menelpon seseorang?" tanya Pitt lancang.
"Aku akan menelpon istriku, apa dia sudah tiba di toko atau belum?"
"Tidak biasanya anda mencemaskan nyonya?" tanya Pitt terlalu berani.
"Naila istriku kenapa aku tidak boleh mencemaskan nya?! pergi sana jangan menggangguku Pitt!"
__ADS_1
"Iya tuan" Pitt berjalan keluar ruangan Arsen ia sedikit mengintip apa benar bosnya menelpon Naila. Pitt mencurigai ada sesuatu yang terjadi di hotel semalam.