Jodoh Dari Remaja

Jodoh Dari Remaja
Part 52 Hari Pertama Jadi Pelayan


__ADS_3

"Tuan muda bangun...."


Aska tidak bergeming ia masih tertidur pulas. "Tuan muda bangun...sudah siang anda harus berangkat ke kantor" Aska menggeliat ia membuka matanya perlahan. Samar ia mendengar sebuah suara yang ia kenal.


"Kau?!" Aska terkejut melihat Raya berdiri di hadapannya lengkap dengan seragam pelayan. Raya tersenyum dan terlihat merapikan tempat tidur Aska.


"Raya?! ada apa ini?"


"Mulai sekarang aku adalah pelayan anda tuan, jika butuh sesuatu panggilah aku. Sekarang anda mandilah karena tuan besar menunggu di meja makan"


Raya menyiapkan stelan kerja untuk Aska. Ia lalu bergegas turun ke lantai bawah membantu pekerjaan pelayan lain untuk menyiapkan makanan.


Aska menuruni anak tangga dengan malas. Ia tahu kenapa Raya bisa sampai ada di rumahnya dan jadi pelayan.


"Aska kemarilah duduk dan sarapan" kata tuan Bram. Nyonya Ariani terdiam mengaduk makanan di piringnya. Perasaannya tidak enak. Ia tidak selera makan.


Aska duduk dengan tenang, Raya muncul dari dapur membawa semangkuk sup untuk di hidangkan.


"Aska ini pelayan baru di rumah kita, ia sangat rajin dan cekatan. Bukan begitu Raya?" kata tuan Bram mencoba merendahkan Raya di hadapan Aska.

__ADS_1


"Pa permainan apa lagi ini?" tanya Aska geram. Akhirnya ia buka suara setelah mendengar Raya di permainkan.


"Apa maksudmu Aska? papa tidak tahu apa-apa, coba saja kau tanya bibi Jang kan ia kepala pelayan di rumah ini"


"Raya kau layani sarapan Aska, ia biasa di kayani oleh para pelayan jika makan" kata tuan Bram sembari menyendok makanannya. Nyonya Ariani terlihat tidak nyaman.


"Pa sudah!" nyonya Ariani mencoba menghentikan suaminya yang sudah keterlaluan. Raya menuangkan minuman ke dalam gelas Aska. Dengan tatapan tajam Aska memandang Raya. Ia membanting sendok yang ia pegang dan berdiri dari duduknya.


Aska menarik lengan Raya untuk pergi dari ruang makan. Tuan Bram mengerutkan keningnya melihat reaksi Aska yang begitu marah.


"Kalau papa teruskan mama lebih baik tidak terlibat dengan perselisihan kalian berdua" nyonya Ariani berdiri dari duduknya dan berjalan pergi ke kamarnya.


"Katakan padaku permainan apa lagi ini? apa ayahku mengancammu?"


"Tidak tuan saya sendiri yang memang ingin menjadi pelayan disini"


"Raya jawab dengan jujur!"


"Saya sudah menjawab jujur tuan, karena ingin selalu melihat anda jadi saya melamar bekerja sebagai pelayan disini"

__ADS_1


"Raya aku mohon jangan membuatku jadi gila!" teriak Aska. Raya menunduk tidak berani memandang Aska. Air matanya hampir meleleh tapi ia tahan agar Aska tidak melihat kesedihan di matanya.


Raya mencoba menyingkirkan lengan Aska. Tapi percuma pria itu terlalu kuat untuknya. Tuan Bram muncul dari dalam rumah.


"Aska kenapa kau kasar sekali pada Raya?"


Aska menurunkan lengannya dan memberi akses Raya utnuk pergi dari hadapannya. Aska tidak meladeni ayahnya ia bergegas menuju mobilnya yang terparkir di halaman. Tan sudah menunggunya di dalam mobil.


"Turun aku ingin membawa mobilku sendiri!" perintah Aska. Tan bergegas turun dari mobil dan pindah ke kursi belakang. Aska ngebut mengemudikan mobilnya.


"Tuan muda berhati-hatilah..." Tan sedikit takut dengan tindakan tuannya.


"Sial! kenapa semua jadi begini?!" Aska memukul keras kemudi mobilnya. Tan semakin panik di kursi belakang. Ia membujuk Aska untuk menepi dan bicara.


"Tolong tuan bersikaplah tenang. Jangan menentang tuan besar dengan kemarahan, itu sama saja anda bunuh diri. Lebih baik kita pikirkan cara membebaskan nona Raya dari ancaman tuan besar"


"Kau benar Tan, tapi aku kesal sekali pagi ini!"


"Saya mengerti tuan. Mari kita susun siasat untuk terbebas dari situasi ini"

__ADS_1


__ADS_2