
Raya mengangkat semua keranjang berisi kue ke atas sepedanya..ia sengaja naik sepeda saja agar lebih santai lagi pula sudah lama ia tidak menaiki sepedanya.
"Sampaikan salam ibu pada nyonya Ariani"
"Iya Bu"
"Hati-hati dijalan"
Raya berangkat mengayuh sepedanya sembari menikmati suasana sore di jalan menuju kediaman keluarga Admaja. Di sepanjang jalan sangat ramai pedanga makanan dan mainan anak-anak. Kalau tidak sedang mengantar pesanan ingin rasanya Ryan mampir dulu untuk membeli makanan di sana.
Nanti akan ku ceritakan pada Belalang. Ia pasti belum tahu daerah sini.
Raya tiba di depan gerbang rumah yang tinggi dan masih sama seperti dulu. Penjagaan ketat dengan beberapa orang keamanan berada di balik pintu gerbang.
Setelah mengutarakan untuk bertemu pada nyonya rumah akhirnya Raya di perbolehkan masuk dengan sepedanya. Dihalaman yang luas berjajar mobil mewah. Salah satu mobil disana ada yang Raya kenali, yaitu mobil tuan Aska.
Rupanya dia ada di rumah. Aku harus bagaimana kalau nanti bertemu dengannya tanpa sengaja.
Raya menuju pintu samping yang mengarah ke dapur. Disana masih di tumbuhi kebun mawar yang tertata dan terawat. Raya menyentuh satu bunga mawar yang mekar indah.
"Hei anak nakal! " suara yang Raya kenali yaitu bibi Huang. Kepala pelayan di rumah itu.
"Bibi Huang apa kabar? anda terlihat sehat dan lebih awet muda bi"
"Dasar kau anak nakal kenapa lama sekali tidak mengunjungiku? kau lupa padaku?!" bibi Huang mengangkat tongkatnya pura-pura memukul Raya. Ia rindu sekali dengan gadis itu.
"Maaf bi, aku sibuk jadi belum bisa kemari. Oh ya ini kue pesanan nyonya Ariani"
"Ayo masuk, Maya buatkan minuman dan camilan untuk gadis nakal ini"
"Tidak perlu repot bi, aku sudah kenyang"
"Repot apa, kau santai saja dan mengobrol dulu denganku biar Maya yang menata kue-kue ini"
Raya bicara banyak dengan bibi Huang. Keduanya melepas rindu setelah lama tidak bertemu. Sementara di ruang utama sepertinya sedang ada tamu karena Maya dan pelayan yang lain hilir mudik menyajikan berbagai menu makanan.
"Apakah sedang ada acara bi?"
"Oh tamu tuan besar"
"Apa tuan muda ....di rumah?"
"Tentu saja dia ada, acara ini di buat memang untuk mengenalkannya pada seorang gadis anak dari teman tuan besar"
Wajah Raya terlihat kecewa. Ia langsung tersenyum begitu bibi Huang mengamatinya.
"Dasar gadis nakal kau pandai menyembunyikan perasaanmu!"
"Ah perasaan apa bi?"
"Aku ini sudah tua kau janganlah membohongiku karena aku pasti tahu antara kau dan tuan muda Aska ada sesuatu"
"Oh tidak ada bi, kumohon bibi jangan salah mengerti"
__ADS_1
"Salah mengerti apa! sudahlah. Ceritakan tentangmu kau bekerja di mana sekarang?"
"Aku bekerja di salah satu perusahaan Admaja Group bi, dan kebetulan tuan muda menjadi bosku di kantor"
"Dasar anak muda...apa kalian masih dekat seperti dulu?"
Raya menggeleng dengan raut wajah berbeda. Bibi Huang bisa mengetahui jika Aska pasti menjaga jarak dengan Raya. Tuan besar tidak akan setuju jika anak lelakinya memiliki kekasih dari kalangan bawah seperti Raya.
"Bibi nyonya memanggil anda" Maya terlihat kerepotan dan sibuk. Bibi Huang segera ke rumah utama karena nyonya Ariani memerlukannya.
"Nona Raya bisakah kau menolongku?"
"Iya Maya...."
"Tolong pegang ini sebentar nona aku akan mengantarkannya nanti. Biar ku tata dulu yang lain" Maya menyodorkan nampan berisi toples kue kering yang di pesan nyonya Ariani pada ibu Raya. Sementara Maya sibuk memotong cake dan menatanya di piring kristal.
Maya membawa nampan berisi cake ke ruang utama. Karena kasihan akhirnya Raya membantu Maya membawakan nampan yang berisi kue kering ke ruang utama.
Tuan muda Aska terkejut melihat keberadaan Raya di rumahnya. Apa lagi Raya membantu pelayan menyiapkan kue-kue.
Sedang apa gadis bodoh itu disini!
Raya tidak memandang Aska tapi ia sempat melihat wanita muda yang sangat cantik duduk di samping Aska.
"Eh Raya ...?" nyonya Ariani rupanya mengenali Raya. gadis itu hanya tersenyum dan salah tingkah. Aska menatapnya kesal.
"Raya apa kabar?"
"Kamu bekerja dimana sekarang?"
"Maaf nyonya saya kembali ke dapur dulu" Raya langsung berjalan mengikuti bibi Huang dan Maya kembali ke dapur. Tuan besar sempat memandang reaksi anak lelakinya ketika melihat gadis tadi.
Tapi tuan besar tidak ambil serius, ia lanjut mengobrol dengan tuan Lucas sahabatnya. Sedangkan Sara terlihat menggamit lengan Aska yang hanya terpaku memandang Raya yang berjalan menuju dapur.
Nyonya Ariani mengamati anaknya. Ia tahu pertemanan diantara Aska dan Raya.
"Aska kamu kok nggak cerita ke mama soal Raya? dia cantik sekali dan terlihat lebih dewasa"
Aska memalingkan pandangannya dan berdiri dari duduknya. Sara terlihat bingung dan tidak senang dengan perilaku Aska barusan. Aska berjalan menuju dapur menghampiri Raya yang sedang berpamitan dengan bibi Huang.
"Tunggu! kenapa kau disini?"
"Saya mengantar pesanan kue nyonya Ariani" Raya berbalik dan hampir melangkah pergi tapi Aska menarik lengan Raya dengan kuat hingga gadis itu menabrak dada Aska.
"Tuan muda apa yang anda lakukan?"
Aska menatap lekat wajah Raya. Ia gemas dan kesal sekaligus marah pada Raya yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Aska khawatir Raya salah paham dengan Sara.
"Dia hanya..." Aska berhenti bicara karena tuan Hyuk datang menghampirinya.
"Tuan muda, kenapa anda disini? tuan besar mencari anda"
"Sebentar tuan Hyuk"
__ADS_1
Aska melepas pegangannya pada Raya dan membiarkan gadis itu pergi. Aska masih memandang Raya yang menuntun sepedanya keluar gerbang.
"Tuan muda kembalilah ke ruang utama sebelum tuan besar marah" bibi Huang terlihat cemas.
"Bibi kenapa kau tidak mberitahuku kalau dia kemari?"
"Bibi sudah tua tuan bibi tidak tahu menahu urusan kalian yang muda"
Aska kembali ke ruang utama. Tapi fokusnya terpecah memikirkan Raya. Sesekali Aska tersenyum dan meladeni pembicaraan Sara. Tapi tuan Bram dan nyonya Ariani tahu kenapa puteranya jadi berubah sejak melihat gadis tadi.
Malamnya Raya menelpon Belalang. Lama tidak di angkat. Raya mencoba menelpon kembali dan ...
"Halo..." entah kenapa suara Belalang seperti selalu tidak asing bagi Raya.
"Belalang?"
"Iya Raya, maaf tadi aku baru di ruang keluarga sedang membahas sesuatu"
"Oh maaf apa aku mengganggumu?"
"Tidak Raya, aku sudah di kamar dan sedang bersantai. Kita mengobrol seperti biasanya aku ingin mendengar kau bercerita"
"Aku dari rumah tuan muda mengantarkan kue pesanan"
"Apa kau bertemu dengannya? apa reaksinya?"
"Iya aku bertemu dengannya tapi...ada seorang gadis cantik di sampingnya. Gadis itu terlihat kaya dan terpelajar"
"Apa tuan muda menyukai gadis itu?"
"Entahlah"
"Apa kalian sempat bicara?"
"Iya tadi ia sempat mengejar ku hanya saja ayahnya memanggilnya untuk kembali"
"Apa kau sedih?"
"Iya Belalang aku sedih. Entah kenapa aku bisa sedih melihatnya bersama gadis lain. Aku juga sedih melihatnya mempertaruhkan harga diri dengan mengejar ku ke dapur. Aku yakin pasti ayahnya bertanya sesuatu dan bisa jadi marah pada Aska"
"Tenanglah Raya, Aska pria dewasa ia pasti bisa menyikapi semua ini. Sudah larut malam kau istirahatlah besok kita sambung lagi"
"Belalang...."
"Iya Raya...."
"Terimakasih karena sudah mau berteman denganku"
"Tentu Raya aku juga berterimakasih dan aku senang berteman denganmu. Sekarang tidurlah besok kau masuk kerja"
"Baiklah ..."
Raya mematikan lampu di kamarnya. Ia bergegas tidur karena merasa lelah sekali dan malam juga sudah semakin larut.
__ADS_1